Di tengah gempuran arus teknologi yang kian tak terbendung, tantangan dalam mendidik generasi muda kini bergeser ke ranah digital.
Menyadari urgensi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes tahun 2026, mengambil langkah preventif dengan menggelar sosialisasi bertajuk "Bahaya Gadget bagi Anak Usia Dini".
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis 29 Januari 2026 yang dimulai tepat pukul 07.15 WIB, bertempat di SD Negeri Negaradaha 02, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Suasana sekolah yang biasanya dipenuhi dengan aktivitas baris-berbaris mendadak riuh dengan antusiasme yang berbeda. Siswa-siswa SDN Negaradaha 02, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, berkumpul dengan rapi didampingi oleh para guru untuk mengikuti rangkaian edukasi yang dirancang khusus guna menyelamatkan masa depan mereka dari ketergantungan layar digital.
Kehadiran teknologi layaknya pisau bermata dua, di satu sisi menawarkan kemudahan informasi, namun di sisi lain menyimpan ancaman laten berupa gangguan kognitif, emosional, hingga fisik jika tidak dikelola dengan bijak. SDN Negaradaha 02 menjadi mitra strategis mahasiswa KKN UPB Kelompok 6 dalam menanamkan kesadaran ini.
Dalam sesi pembukaan, perwakilan guru menyampaikan apresiasinya atas inisiatif mahasiswa. Menurut pihak sekolah, fenomena siswa yang lebih asyik dengan game online atau media sosial dibandingkan berinteraksi sosial di lingkungan sekolah sudah mulai menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, kehadiran para akademisi muda dari Universitas Peradaban dianggap sebagai angin segar untuk memberikan perspektif baru bagi para siswa.
Edukasi inti disampaikan secara kolaboratif oleh dua pemateri, yakni saudara Ismi Wulan Agustin dan Siti Zulaekha. Dengan pendekatan yang akademis namun menggunakan diksi yang mudah dimengerti anak-anak, keduanya mengupas tuntas dampak negatif penggunaan gadget yang berlebihan.
Ismi menjelaskan bahwa kecanduan gadget pada anak dapat menghambat perkembangan otak, terutama dalam aspek konsentrasi dan kemampuan belajar. "Anak-anak hebat adalah anak-anak yang bisa mengontrol diri. Gadget adalah alat, bukan teman hidup yang harus dipegang setiap saat," pesannya di hadapan para siswa.
Sementara itu, Siti Zulaekha menyoroti aspek kesehatan fisik. Ia menjelaskan bagaimana radiasi cahaya biru dari layar dapat merusak penglihatan serta bagaimana posisi duduk yang salah saat bermain handphone dapat berdampak pada postur tubuh di masa depan. Materi ini disampaikan dengan bantuan visual yang menarik, memastikan anak-anak tetap fokus menyerap setiap informasi yang diberikan.
Memahami karakteristik anak sekolah dasar yang memiliki rentang konsentrasi terbatas, tim KKN Kelompok 6 telah menyiapkan strategi agar suasana tetap kondusif. Di sela-sela pemaparan materi, saudara Diandra dan Bunga memandu sesi ice breaking.
Dengan gerakan-gerakan energik dan lagu-lagu ceria, Diandra dan Bunga berhasil membangkitkan kembali semangat para siswa. Sesi ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari metode pengajaran humanis untuk memastikan pesan utama tetap sampai ke pikiran anak tanpa rasa bosan. Melalui ice breaking, mahasiswa menunjukkan bahwa interaksi fisik secara langsung jauh lebih menyenangkan daripada interaksi semu di layar ponsel.
Setelah seluruh rangkaian materi tersampaikan, mahasiswa mengadakan sesi evaluasi yang dikemas dalam bentuk kuis interaktif. Sesi ini bertujuan untuk mengetes sejauh mana pemahaman dan daya ingat anak-anak terhadap bahaya gadget yang telah dipaparkan.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh mahasiswa KKN, dan tak disangka, tangan-tangan mungil dari berbagai tingkatan kelas berebut untuk menjawab. Bagi siswa yang berhasil menjawab dengan benar, mahasiswa memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Pemberian hadiah ini memiliki filosofi mendalam dalam dunia pendidikan (pedagogi), yaitu sebagai positive reinforcement. Dengan adanya penghargaan, anak-anak akan merasa bahwa perilaku belajar dan mendengarkan adalah sesuatu yang membanggakan. Hadiah sederhana tersebut menjadi simbol kemenangan mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan baru pagi itu.
Salah satu guru SDN Negaradaha 02 menyatakan bahwa edukasi seperti ini seharusnya menjadi agenda rutin. "Terkadang anak-anak lebih mendengarkan kata-kata dari kakak-kakak mahasiswa. Kami berharap setelah hari ini, anak-anak kami lebih bijak dalam menggunakan waktu mereka di rumah," ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama. Para siswa kelas 1 hingga kelas 6 berbaris bersama para guru dan mahasiswa KKN Kelompok 6. Foto bersama ini bukan sekadar dokumentasi formalitas, melainkan simbol sinergi antara perguruan tinggi, instansi pendidikan dasar, dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap anak-anak di Desa Negaradaha dapat kembali mencintai dunia bermain yang nyata, aktif berolahraga, dan memiliki interaksi sosial yang berkualitas tanpa harus terbelenggu oleh dunia maya dan bijak dalam menggunakan gadget di kehidupan sehari-hari demi pertumbuhan fisik dan mental yang lebih baik