KULIAH Kerja Nyata (KKN) sering kali dimulai dari hal-hal yang terlihat administratif: surat izin, tanda tangan, dan cap resmi.
Namun, bagi kami mahasiswa KKN Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes yang ditempatkan di Desa Taraban, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, awal pengabdian itu justru menjadi pintu masuk untuk memahami makna kehadiran di tengah masyarakat secara lebih manusiawi.
Hari-hari pertama KKN kami habiskan dengan menyusuri kantor desa, menyapa perangkat desa, dan menyampaikan maksud kedatangan melalui surat izin resmi dari kampus. Surat itu penting, tentu saja. Ia menjadi penanda bahwa kami hadir bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari proses pembelajaran dan pengabdian. Namun, kami segera menyadari bahwa pengakuan administratif saja belum cukup untuk benar-benar diterima.
Desa Taraban adalah desa dengan karakter masyarakat yang hangat dan bersahaja. Di balik lanskap pegunungan dan aktivitas warga yang sederhana, tersimpan kehidupan sosial yang kuat.
Setiap sapaan dijawab dengan senyum, setiap langkah kami diperhatikan dengan rasa ingin tahu, bukan kecurigaan. Dari sinilah kami belajar: penerimaan sosial tidak selalu datang dari surat, tetapi dari interaksi.
Momentum itu kami rasakan saat pertama kali memasuki ruang kelas Taman Kanak-Kanak (TK) di desa tersebut. Bukan sebagai pengajar profesional, melainkan sebagai mahasiswa KKN yang ingin belajar dan berbagi. Ruang kelas itu sederhana dindingnya penuh gambar, meja kecil tersusun rapi, dan suara anak-anak yang riuh menjadi latar utama.
Di hadapan anak-anak TK Desa Taraban, status kami sebagai “mahasiswa” seakan luruh. Kami bukan lagi perwakilan kampus, melainkan kakak yang datang membawa cerita, permainan, dan perhatian. Dari cara mereka memegang tangan kami, menyebut nama kami berulang kali, hingga menunggu dengan antusias setiap kedatangan, kami merasakan bentuk penerimaan yang paling jujur.
Pengalaman di ruang kelas TK itu menjadi titik balik awal KKN kami. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dari program besar atau agenda formal. Terkadang, ia lahir dari keberanian untuk masuk ke ruang kecil, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya. Anak-anak mengajarkan kami makna keikhlasan dalam berinteraksi tanpa ekspektasi, tanpa penilaian.
Dalam konteks KKN, ruang kelas TK juga menjadi cermin realitas pendidikan desa. Guru-guru dengan keterbatasan sarana tetap menjalankan perannya dengan penuh dedikasi. Di tengah segala keterbatasan, mereka menanamkan nilai dasar pendidikan: kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Kami datang bukan untuk menggurui, melainkan untuk belajar dari ketulusan itu.
Dari surat izin hingga ruang kelas TK, perjalanan awal KKN kami di Desa Taraban mengajarkan satu hal penting: kehadiran adalah fondasi dari pengabdian. Program kerja bisa dirancang, laporan bisa disusun, tetapi hubungan kemanusiaan tidak bisa dipaksakan. Ia tumbuh dari interaksi yang jujur dan niat yang tulus.
Kompasiana kerap menjadi ruang refleksi bagi cerita-cerita kecil yang bermakna besar. Kisah kami di Desa Taraban mungkin sederhana, tetapi di sanalah kami menemukan esensi KKN sebagai proses belajar sosial. Bahwa desa bukan objek pengabdian, melainkan subjek yang mengajarkan nilai kehidupan.
KKN kami baru saja dimulai. Masih banyak cerita yang akan lahir dari gang-gang desa, ruang belajar, dan obrolan sore bersama warga. Namun, langkah pertama ini -dari surat izin ke ruang kelas TK akan selalu kami ingat sebagai awal cerita tentang bagaimana pengabdian seharusnya dimaknai: hadir, mendengar, dan belajar bersama.
Tim Kelompok 16 KKN Mahasiswa Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes, di Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah:
Fadillatul Umamah, Ani Lestari, Iwan Muzaki, Saniatul Khoeriyah, Rindang Cahya Kemilau, Ivan Widodo, Bilqist Ftikhatul Safitri, Ahmad Fozi, Ilham Nur Fajar.