PENGANTAR: Tahun ini Ormas Islam Muhammadiyah merayakan ulang tahunnya yang ke-112 (18 November 1912-18 November 2024). Ormasi ini berjuang bersama elemen bangsa yang lain membersamai bangsa besar ini, jatuh bangun bersama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada ulang tahun kelahirannya tahun ini ada gagasan baru yang patut menjadi kebanggan bersama terutama kaum Muslimin. Sesuatu yang baru itu adalah ditetapkannya penanggalan yang akan dijadikan patokan bersama dalam menjalankan syari’at Islam, yaitu Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Kalender ini akan dijadikan acuan dalam menentukan kegiatan-kegiatan keislaman seperti penentuan awal puasa Ramadhan, penentuan Idul Fitri, Idul Adha, bahkan penentuan waktu sholat yang 5 waktu secara global (mendunia).
Sebagai catatan, ormas Muhammadiyah telah menjadikan sistem penanggalan mulai 1 Muharram 1446 H atau 7 Juli 2024 tahun ini, sebagaimana hasil Musyawarah Nasional Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang diselenggarakan di Pekalongan Pebruari 2024 lalu.
Strategis: Penetapan KHGT sebagai acuan penanggalan Islam global memiliki berbagai aspek strategis yang perlu diperhatikan bersama. Aspek pertama yang akan muncul adalah kesatuan pandangan bahwa Islam hakekatnya satu, satu pandangan dalam melaksanakan syari’at.
Dalam hal penentuan waktu, penanggalan hijriah global ini akan memberikan arahan kapan hari-hari penting dan kegiatan yang melibatkan potensi umat itu dilaksanakan. Dengan adanya KHGT potensi perselisihan umat dapat dieliminir sehingga menghemat energi umat ke depan.
Penggunaan KHGT sebagai penanggalan global Islam ini diinisiasi oleh ormas Muhammadiyh melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Oman Fathurohman salah seorang penggagas KHGT (Kompas.id, 7/7/2024), mengatakan, potensi perbedaan tanggal penting umat Islam antara Muhammadiyah dengan pemerintah justru akan semakin besar selepas penggunaan KHGT.
Sebelumnya, ketika Muhammadiyah masih menggunakan wujudul hilal, penetapan awal bulan Hijriah terutama pada tanggal penting umat Islam, sudah sering berbeda dengan keputusan pemerintah. Jika wujudul hilal dibandingkan dengan KHGT, maka dalam beberapa kasus, KHGT akan lebih dulu (memasuki awal bulan Hijriah) dibandingkan wujudul hilal.
Merujuk kriteria wujudul hilal, awal bulan Hijriah di Indonesia dipastikan terjadi saat bulan sudah di atas ufuk. Sementara mengacu pada kriteria KHGT, awal bulan Hijriah global bisa ditetapkan meski posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk. Oleh karena itu, perbedaan hari raya antara Muhammadiyah dan pemerintah justru akan lebih sering terjadi ke depannya.
Meski demikian, penggunaan KHGT memberikan manfaat untuk menghindari perbedaan hari raya antara Muhammadiyah dengan Arab Saudi. Prinsip KHGT adalah “satu hari satu tanggal” yang sama di seluruh dunia, meminimalisir perbedaan dan menyatukan cara pandang dunia keislaman secara blobal.
Ketua Biro Komunikasi dan Pelayanan Umum PP Muhammadiyah, Edy Kuscahyanto menjelaskan, KHGT ini merupakan kesepakatan negara-negara Islam di Turkiye pada 2016. Artinya, tidak lagi ada batasan negara dan wilayah selama masih terikat dalam ikatan aqidah yang sama, yaitu Islam. Kalau selama ini Islam terkesan dikotak-kotak per negara, dengan penanggalan global tunggal ini perbedaan ini akan berangsur-angsur terkurangi.
Contoh lebih rincinya seperti dalam penetapan tanggal 1 Syawal atau Idul Fitri, maka secara global akan mempunyai tanggal perayaan yang sama dalam kalender Masehi. Sementara pemerintah Indonesia sendiri masih sesuai kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dalam menetapkan penanggalan Hijriah.
Kedua, aspek kesatuan ideologi. Kesatuan ideologi Islam juga menjadi harapan yang terus menerus diperjuangkan. Sebagai umat yang satu, umat Islam sudah selayaknya meninggalkan silang pendapat yang menguras energi umat beralih pada cara pandang yang satu dan mondial. Kesatuan ideologi dan pandangan ini selaras dengan perintah Allah SWT dalam kitabullah yang termaktub dalam QS. Al Mu’minuun: 52 yang berbunyi: wa inna hadzihi ummatukum ummataw wwḫidataw wa ana rabbukum fattaqun, artinya: “Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Akulah Tuhanmu. Maka, bertakwalah kepada-Ku.”
Prokontra: Penetapan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai penanggalan tunggal pada dunia Islam yang diinisiasi oleh Muhammadiyah akan diberlakukan secara intern terlebih dahulu, selanjutnya akan digunakan untuk seluruh masyarakat Islam Indonesia dan seluruh dunia sebagai acuan dalam menentukan waktu-waktu peribadatan yang diperintahkan dalam syari’at Islam.
Penyatuan penanggalan global tunggal ini sudah barang tentu akan memunculkan sedikit silang pendapat dari pihak yang tidak sejalan, terutama yang berbeda dalam penentuan waktu hari-hari besar.
Antara penentuan waktu ibadah dengan menggunakan metode hisab dengan metode rukyah atau yang lain yang tidak selalu menentukan titik temu, tidak perlu dipandang sebagai perbedaan yang memantik perpecahan, melainkan sebagai khasanah dalam perbedaan penentuan pendapat yang bersifat furu’iyah (cabang).
Perbedaan pendapat dalam ijtihad penentuan waktu, tidak perlu dikomentari berlebihan yang justru dapat melemahkan umat Islam sebagai kesatuan umat (ummatan wahidah).
Persoalan justru akan muncul dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan munculnya Islam sebagai kekuatan baru dalam percaturan politik global. KHGT akan menyatukan ideologi keislaman yang tentunya akan menyatukan gerak langkah perjuangan Islam sebagai agama wahyu, agama yang akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan dalam masyarakat secara keseluruhan.
Maka kewaspadaan harus tetap diantisipasi dari kelompok yang sedari awal menginginkan Islam lemah dan tidak berdaya di dalam mengatur dirinya. Kaum munafik, fasik, atheis, dan kelompok tidak beriman pembenci Islam (Islamophobia) akan selalu berupaya melemahkan ideologi Islam dari pertemuan arus pemikiran dan keyakinan global yang tidak mungkin dihindari.
Penutup: Penggunaan Kalender Hijriah Global (KHGT) sebagai penentuan waktu dalam beribadah bagi umat Islam perlu mendapat respon positif dari semua pihak. Tujuannya adalah menyatukan gerak langkah dan semangat (ghiroh) dalam membumikan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamien.
Munculnya ijtihad dalam penanggalan global ini semoga dapat menyentuh seluruh relung hati kaum muslimin di mana pun berada, memantik semangat untuk berjuang dan menebarkan kedamaian dan keselamatan di seluruh muka bumi dalam satu acuan waktu yaitu KHGT, semoga diijabah…aamien yaa robbi.