Kamis, 14/11/2024, 11:17:28
Menyingkap Tantangan dan Peluang dalam Kebijakan Implementasi Kurikulum Merdeka
OLEH: M. IFAN ABDUL AZIZ AL HABSI
.

KURIKULUM Merdeka merupakan sebuah kebijakan pendidikan yang bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal.

Menurut Novak (2020), Kurikulum Merdeka menekankan pada pendekatan pembelajaran yang responsif, inklusif, dan berpusat pada siswa. Kurikulum ini dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kompetensi-kompetensi abad ke-21 seperti pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.Implementasi Kurikulum Merdeka melibatkan berbagai komponen yang saling terkait.

Menurut Haryanto (2019), keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada peran aktif guru sebagai fasilitator pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa dalam mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Merdeka belajar dibuat untuk mengubah konsep pembelajaran yang pada awalnya berpatokan pada pendidik menjadi sistem pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Zahir et al., 2022).

Kurikulum Merdeka memasukkan beberapa perubahan, salah satunya adalah penghapusan istilah "Kompetensi Inti" dan "Kompetensi Dasar" sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Kurikulum merdeka menggunakan capaian pembelajaran (CP) yang merupakan set pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibangun melalui proses yang berkelanjutan untuk menciptakan kompetensi yang utuh (Nurcahyono & Putra, 2022).

Pelaksanaan kurikulum merdeka tentunya tidak berjalan mulus seperti yang direncakan, terdapat hambatan dan tantangannya. Terdapat kesulitan yang sering dialami para guru ialah seperti perencanaan awal proses pembelajaran yang kurang dipersiapkan seperti dengan melakukan pengisian platfrom yang telah disediakan tanpa bimbingan (Dewi et al. (2023).

Kurangnya sumber daya seperti buku-buku dan perangkat teknologi merupakan tantangan yang cukup signifikan dalam implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Ketersediaan buku-buku pelajaran dan perangkat teknologi yang memadai sangat penting dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Kurangnya sumber daya tersebut dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.Tantangan lainnya adalah  kurangnya pelatihan bagi guru dan tenaga pendidikan (Kepala Sekolah, 2022).

Eksistensi guru dalam penerapan kurikulum merdeka merupakan penggerak keberhasilan berbagai program merdeka belajar seperti pembelajaran berdiferensiasi, pelaksanaan projek penguatan profil pelajar pancasila dan asesmen pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu adanya pelatihan secara terus menerus dan konsisten untuk peningkatan mutu kualitas guru di indonesia.

Pelatihan yang memadai diperlukan agar guru dan tenaga pendidikan dapat memahami konsep dan tujuan Kurikulum Merdeka, serta dapat mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah. Keterbatasan waktu pembelajaran juga menjadi tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka (Kepala Sekolah, 2022).

Kurikulum Merdeka menuntut sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan dan kondisi masing-masing siswa, namun hal ini dapat memakan waktu lebih banyak dibandingkan dengan kurikulum yang sudah ada sebelumnya. Terakhir, tantangan untuk menjalankan fungsi asesmen pembelajaran yang merupakan bagian terpadu dalam pembelajaran.

Salah satu aspek penting yang sering diabaikan sekolah dalam pencapaian tujuan pelaksanaan kurikulum adalah pelaksanaan asesmen pembelajaran. Saat ini asesmen pembelajaran yang dilakukan oleh sebagian guru secara umum masih terbatas dan terfokus pada asesmen akhir/sumatif pembelajaran).

Dari berbagai tantangan yang dihadapi dalam kebijakan impelentasi kurikulum merdeka, ada pula peluang yang signifikan dalam implementasi kurikulum merdeka.

Pertama, dengan menempatkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran, kurikulum merdeka dapat membantu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Siswa akan lebih termotivasi karena mereka diberi kebebasan untuk mengembangkan minat dan bakat mereka sendiri dalam proses pembelajaran.

Kedua, siswa akan dilibatkan dalam kegiatan yang lebih interaktif dan eksploratif. Mereka akan diajak untuk berpikir kritis, berkolaborasi dengan teman sekelas, dan mengembangkan keterampilan sosial.

Ketiga, kurikulum merdeka juga mendukung pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru dapat menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dan mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa. Dengan demikian, siswa akan lebih memahami pentingnya apa yang mereka pelajari dan bagaimana itu dapat diterapkan dalam kehidupan mereka.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita