PanturaNews (Tegal) - Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengadakan Sosialisasi dan Launching Gerakan Gropyokan Mberesi dan Nangani Sampah, di Aula Pertemuan Kantor PDAM Tirta Bahari Kota Tegal, Kamis (30/4/2026).
Kabid Pengolahan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Tegal Untung Pri Wibowo, S.Pi., M.Si mengatakan bahwa timbunan sampah di Kota Tegal mencapai kurang lebih 170 ton per hari, sedangkan proses pengurangan dari sumber penghasil sampah baru mencapai 30 persen atau sekitar 50 ton per hari. Sehingga masih terdapat sampah belum terolah yakni sebesar 120 ton per hari yang saat ini diangkut dari sumber penghasil sampah dan ditimbun di TPA Bokong Semar.
"Sasaran kegiatan gropyokan ini adalah perkantoran, lingkungan pendidikan, tempat kegiatan usaha, lingkungan masyarakat dan rumah tangga. Khusus untuk lingkungan rumah tangga masing-masing Kelurahan akan didampingi oleh OPD dengan sistem pola asuh atau bapak asuh. Jumlah pendamping bapak asuh ada sebanyak 67 unit, terdiri dari 34 OPD, 25 sekolah dan 8 puskesmas di Kota Tegal," ungkap Kabid Pengolahan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Tegal, Untung Pri Wibowo, S.Pi., M.Si
Dengan adanya sistem bapak asuh lanjut Untung, kegiatan gropyokan dan gotong royong ini diharapkan dapat mengurangi sampah dari lingkungan masyarakat, rumah tangga, tempat usaha, sekolah, pendidikan dan perkantoran. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengolahan sampah, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga lingkungan, mewujudkan Kota Tegal yang bersih, sehat dan nyaman.
Plt Kepala DLH Kota Tegal Yuli Prasetya menambahkan, bahwa upaya saling bersinergi, terintegrasi ini semata-mata untuk mengurangi sampah dari sumber penghasil sampah. Sehingga harapannya kuota sampah yang diangkut ke TPA akan semakin terkurangi dan hanya dalam bentuk residu yang akan membuat TPA berusia panjang.
Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dalam sambutannya mengatakan, timbulan sampah di Kota Tegal baru terkelola 30 persen. sisanya 70 persen masih belum dikelola dan di buang di TPA Bokong Semar.
Untuk itu Pemkot Tegal bertekad kuat untuk mampu memecahkan masalah di hulu ini dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan orang tua asuh, gropyokan mberesi dan nangani sampah. Pendekatan ini mengadopsi strategi penurunan stunting tahun 2024, yang terbukti mampu meningkatkan partisipasi publik dalam mencegah dan menanggulangi stunting.
Pendekatan orang tua asuh akan mengintensifkan edukasi di masyarakat tentang pilah dan olah sampah yang secara teoritik sangat sederhana dan mudah. Namun demikian dalam kesehariannya perilaku atau habit kita masih sangat jauh dari budaya pilah dan olah sampah.
"Pokok materi edukasi terpenting adalah pilah sampah organik dan anorganik, yang selanjutnya sampah organik dijadikan kompos, sedangkan sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali, atau dikumpulkan terpisah untuk dimanfaatkan nilai ekonomisnya melalui bank sampah atau pengepul," kata Dedy Yon.
Ia menegaskan, pada kegiatan orang tua asuh ini, Kepala Puskesmas dan Kepala SMP Negeri dan SMA Negeri yang ada di Kota Tegal, untuk dapat menjadi pelopor perubahan di lokus-fokus yang sudah ditentukan yaitu Kelurahan.
"Kemampuan orang tua asuh dalam berinovasi untuk membawa perubahan perilaku ini sangat kita harapkan. Disini akan tampak, orang tua asuh mana yang mampu menggerakkan sumber daya manusia terutama ASN yang ada diunit organisasinya, orang tua asuh yang mampu berjejaring dengan bank sampah dan stake holder yang ada, orang tua asuh yang mampu berinovasi dan terus mengembangkan praktik terbaik pengurangan sampah melalui komposter di rumah tangga," tuturnya.
Launching ditandai dengan pemukulan gong, dan dilanjutkan dengan pemberian komposter sampah dan alat olah sampah kepada para pegiat sampah di Kota Tegal.