Rabu, 10/01/2024, 15:38:37
Pendidikan Sebagai Proses Kebudayaan. Mengembangkan Daya Pikir, Rasa, Karya Dan Raga
Oleh: Muhammad Muhtar Baihaqi
--None--

PENDIDIKAN sebagai proses kebudayaan menghendaki agar proses belajar mengajar tidak hanya berorientasi pada pengambangan kemampuan kognitif, melainkan juga kemampuan afektif dan konatif (psikomotorik).

Kurikulum pendidikan harus dapat membantu peserta didik untuk belajar mengeluarkan dan mengembangkan (educare) daya pikir, daya rasa, daya karya, dan daya raga yang sesuai dengan jenjang pendidikan dan tingkat perkembangan peserta didik.

-Belajar Olah Pikir (Olah Cipta)

Kurikulum pendidikan pertama-tama harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengambangkan kecerdasan inteleknya dengan memiliki pengetahuan mengenai hal ihwal kehidupan(jagad kecil dan jagad besar).

Tidak cukup hanya sekedar mengetahui, peserta didik juga harus mengembangkan nalar kritis (critical thinking) dan nalar penyelesaian masalah (problem solving), serta memiliki kesanggupan untuk dapat mereproduksu dan mengembangkan pengetahuan dan penalaran tersebut melalui proses penelitian dan pengembangan dalam berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Untuk itu, kurikulum pendidikan harus memberi perhatian pada pelajaran membaca, menulis, menghitung, memikir (logika, filsafat), berbicara, meneliti, mengenali hukum alam (sains), dan ruang hidup (geografis).

-Belajar Olah Rasa

Kurikulum pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengasah daya-daya afektif yang dapat memperkuat kepekaan estetik, kehalusan perasaan, keindahan budi pekerti, kepekaan empati dan solidaritas sosial, sensitivitas daya spiritual, ketajaman rasa keadilan, semangat kebangsaan (nasionalisme), dan gotong royong.

Untuk itu, kurikulum pendidikan harus memberi perhatian pada pelajaran kesenian, moral keagamaan, kesejarahan, budi pekerti (karakter personal) dan pendidikan kewarganegaraan (karakter bangsa), wawasan kebangsaan, dan kemanusiaan.

-Belajar Olah Karsa

Kurikulum pendidikan harus menumbuhkan kehendak kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, inovatif, dan kecakapan hidup dengan mengenali dan mengaktualisasikan potensi kecerdasanya masing-masing, seraya menghubungkan kapabilitasnya itu dengan keberfungsian peserta didik untuk bisa terlibat secara sosial dan berbagai bidang kehidupan.

Dalam usaha itu, dunia pendidikan harus menghilangkan diskriminasi manusia berdasar jenis inteligensia tertentu. Demokratisasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman inteligensia manusia, yang meliputi kecerdasan linguistik, logis-matematis, spasial, musik, kinestis, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensian (Gardner, 1993).

Orientasi pada pemulihan ragam inteligensia mengandung konsekuensi, bahwa sesungguhnya setiap manusia (siswa) memiliki karakter dan potensi inteligensia yang berbeda-beda. Kurikulum inti dibuat lebih terbatas untuk memberi keleluasaan bagi individu untuk mengambil mata pelajaran pilihan (elective) sesuai dengan minat dan bakatnya.

Karena itu, maka fungsi guru bergeser dari peran tradisionalnya. Selain mengajar, guru harus berperan sebagai spesialis penilai (assessment specialist) untuk memantau potensi dan kecenderungan masing-masing individu siswa.

Lalu, berperan sebagai broker kurikulum yang membantu siswa memilih mata pelajaran (student curriculum broker), dan sekaligus menjadi broker yang menghubungkan siswa dengan komunitas yang lebih luas guna mendapatkan pengalaman belajar langsung dari dunia nyata (school community broker).

Akhirnya, guru juga harus diberi derajat kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalam proses pengajaran.

-Belajar Olah Raga

Kurikulum pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengembangkan ketahanan, ketangkasan, dan kesehatan jasmani, yang diperlukan sebagai sarana fisik untuk mengaktualisasikan daya pikir, daya rasa, dan daya karsa.

Nabi Muhammad SAW, menganjurkan agar anak-anak diberi pelajaran berenang dan memanah. Para filsuf seperti Socrates dan Plato juga menekankan pentingnya pendidikan gimnastik (olah tubuh atau fisik). Olah raga selain menawarkan kesederhanaan dalam menghasilkan hidup sehat, juga dapat mengorbarkan jiwa kepahlawanan.

Menurut Socrates dan Plato, jiwa yang sehat tidak dapat bersatu dengan tubuh yang sakit. Maka dari itu, pendidikan olah raga harus diberikan sejak dini, latihannya harus dilakukan dengan hati-hati dan harus diteruskan seumur hidup.

Dalam perkembangan kontemporer, pentingnya olah raga lebih dari sekedar untuk kesehatan jasmani. Olah raga juga memiliki fungsi kerohanian yang berkaitan dengan pengembangan manusia sebagai homo ludens, dengan fungsi rekreatif sebagai gaya hidup, serta medium penting bagi pengembangan sportivitas, ketahanan mental, keberanian, kerja sama, dan patriotisme. Olah raga memperlihatkan karakter yang dibutuhkan untuk olah negara.

Kompetensi dalam olah raga juga bisa menjadi katalis untuk menttansformasikan energi negatif (pertikaian kekerasan), menjadi energi positif (persaingan falam meningkatkan prestasi).

Dalam implementasinya, pendidikan olah raga ini juga bisa diajarkan bersamaan dengan permainan. Permainan mempunyai kedudukan dan arti yang sangat penting, terutama untuk anak-anak pada tingkat pendidikan usia dini dan pendidikan dasar.

Dari uraian diatas bisa dikatakan bahwa proses pendidikan itu hendaknya memberikan tuntunan dalam proses pengembangan anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Untuk dapat mengemban tugas pendidikan seperti itu, guru memainkan peran yang sangat penting. Anak-anak merdeka hanya bisa dihasilkan oleh guru-guru merdeka.

Dalam kaitan itu, perlu ada usaha berkesinambungan untuk meningkatkan mutu guru. Dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara, seorang juru didik memerlukan kecakapan yang lebih baik dari juru ukir.

Jika seorang pengukir kayu saja wajib mempunyai pengetahuan yang mendalam dan luas tentang hakikat kayu dan tehnik ukir, apa lagi juru didik yang diharapkan mampu mengukir manusia secara lahir dan batin.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita