Selasa, 31/10/2023, 16:53:45
Kesbangpol Brebes Gandeng Eks Napiter Beri Edukasi Bahaya Radikalisme di Sekolah-Sekolah
-LAPORAN TAKWO HERIYANTO

Badan Kesbangpol Brebes bekerjasama dengan Densus 88/AT Polri menggandeng eks napiter dari Paguyuban Podomoro memberikan sosialisasi tentang bahaya mengikuti ajaran paham-paham radikalisme dan terorisme. (Foto: Ist)

PanturaNews (Brebes)- Dalam upaya pencegahan Tindak Pidana Terorisme, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes, Jawa Tengah, melakukan langkah antisipasi secara terus menerus yang dilandasi dengan prinsip pelindungan hak asasi manusia dan prinsip kehati-hatian.

Demikian disampaikan Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Brebes, Mochammad Sodiq saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa 30 Oktober 2023.

Menurut Sodiq, dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme juga terus dilakukan dengan cara sosialisasi tentang paham radikalisme dan terorisme kepada elemen masyarakat terutama generasi muda seperti para pelajar. 

Selain itu, juga besinergi dengan pihak Densus 88 AT/ POLRI, tokoh agama dan paguyuban Podomoro yang beranggotakan eks napiter Kabupaten Brebes dalam upaya pemantauan paham-paham radikal untuk meminimalisir kesenjangan sosial dalam bermasyarakat.

"Berikan pemahaman agama yang damai dan toleran, sehingga pemuda atau generasi muda tidak mudah terjebak pada arus ajaan radikalisme dan mendukung aksi perdamaian," tegas Sodiq.

Generasi muda juga memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai Pancasila. Sebab nasib sebuah Bangsa bergantung pada generasi penerusnya.

Terkait dengan sosialisasi tentang paham radikalisme dan terorisme serta penguatan Pancasila dan bela negara pihaknya bahkan menggandeng beberapa eks narapidana teroris (napiter) yang tergabung dalam Paguyuban Podomoro di Kabupaten Brebes untuk memberikan arahan kepada sekolah-sekolah yang sudah dilakukan.

Di antaranya, seperti SMK Ma'arif NU Tonjong, SMA Negeri 1 Ketanggungan, dan SMA Negeri 1 Wanasari.

Wartoyo, salah satu eks napiter di Kabupaten Brebes menyampaikan, bahwa teroris bukan identik dengan jenggotan, celana cingkrang dan cadar.

"Akan tetapi teroris adalah mindset cara berpikir. Untuk umur kalian (para pelajar-red), itu rawan sekali untuk diubah cara pikirnya. Jadi, kegiatan ini adalah suatu pembekalan agar tidak terpapar radikalisme dan terorisme," jelasnya.

Segala perbuatan yang berani melawan hukum yang keluar dari konteks peraturan sekolah, itu ciri ciri radikalisme.

"Untuk itu bijaklah dalam menggunakan media sosial. Jangan mudah terprovokasi oleh para provokator yang nanti akan membuat rugi sendiri," ungkapnya.

Eks napiter lainnya, Eko Hermanda menceritakan awal mulanya bergabung dengan organisasi teroris.

Eko menceritakan awal mulanya terjerumus masuk dalam organisasi teroris karena semangatnya ingin hijrah dan mencari cari kajian di media sosial seperti facebook. Kemudian, ia dimasukan di grup oleh orang yang tidak dikenal yang didalamnya itu tentang penyiksaan kaum muslimin.

Setelah itu, ia mencari tahu siapa yang menolong kaum muslimin di Suriah kerana ia ingin ikut bergabung. 

"Disana, dibertahu lah oleh teman teman bahwasannya yang menolong itu ISIS. Akhirnya saya mencari tahu di Indonesia siapa sih yang mendukung ISIS. Setelah itu diberi saran oleh teman untuk mengakses instagram. Mulai disitulah saya mulai tahu tentang ISIS dari instagram dan bergabung digrup telegram dengan syarat berbaiat dulu kepada pimpinan ISIS yaitu, Abu Bakar Al Bagdadi," terangnya.

Singkat cerita, kemudian ia masuk telegram dan mendalami di grup telegram. Dimana, didalam grup telegram itu isinya terkait percakapan tentang perencanaan pengeboman Istana Negara.

"Saat itu saya tidak tahu ada percakapan, karena saya anggota baru. Akhirnya yang ada digrup telegram itu tertangkap oleh Densus 88 semua dan saya yang tidak tahu apa-apa tentang perencanaan yang ada di grup itu divonis 2,8 tahun penjara," jelasnya.

"Pesan saya berbijaklah dalam bermedsos jangan asal masuk grup pengajian. Jika ada yang mengikuti pengajian secara diam-diam lebih baik ditinggalkan, kaerna itu gerbang utama masuk dalam dunia teroris," imbuhnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita