Kondisi jalan Ciregol masih ambles, penanganan baru sebatas pengurugan dengan pasir batu saja. (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - Dampak buruk putusnya jalur lalu-lintas antara Tegal - Purwokerto, akibat jalan ambes di Tikungan Ciregol, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mulai terasa bagi warga di Brebes bagian selatan. Sulitnya transportasi merupakan dampak yang paling dirasakan.
"Sekarang untuk ke Tegal atau Brebes dengan naik angkutan bus tidak bisa sekali naik, ongkosnya juga naik karena disambung dengan ojek," kata Warno, salah satu warga Kecamatan Bumiayu, kepada PanturaNews, Selasa 15 Maret 2011 sore.
Harga bahan bangunan, terutama semen juga naik akibat sulitnya transportasi. Kenaikan harga bahan bangunan ini akibat truk pengangkutnya tidak bisa melintas sampai Bumiayu, sehingga terpaksa muatannya harus dilansir dengan angkutan yang lebih kecil.
"Kami harus menambah ongkos untuk langsir dan bongkar muat semen," kata H Arif, salah satu pemilik toko bangunan di Kota Kecamatan Bumiayu.
Menurut Arif, dari distributor ada subsidi untuk angkutan semen, tapi jumlahnya tidak mencukupi, sehingga terpaksa harus menambah biaya sendiri. Karena tidak ingin rugi harga semen pun dinaikkan antara Rp 1000 sampai Rp 1500 per sak.
"Semen yang merek Tiga Roda yang dipasok dari Jawa Barat harganya menjadi Rp 55.000 atau naik seribu rupiah," katanya.
Untuk pasokan dari distributor, Arif mengatakan tidak ada penurunan, masih tetap lancar hingga saat ini. Hanya bahan bangunan jenis besi yang saat ini tidak ada pasokan dari distributor, tapi untungnya ada distributor lain dari daerah Selatan yang bersedia memasok sehigga tidak berpengaruh pada harga.
"Untuk besi ada distributor yang memasok dari Selatan, sehingga harganya tidak mengalami kenaikan," tutur Arif.
Sementara itu, Ketua LSM Gugat, H Nahib Sodiq SPdI menilai sampai saat ini belum ada penanganan yang kongkrit atas amblesnya jalan Ciregol. Sehingga dikawatirkan akan berdampak lebih buruk lagi bagi masyarakat, terutama warga Brebes bagian Selatan. "Sekarang saja sudah mulai terasa mahalnya biaya transportasi bagi warga," katanya.
Mahalnya biaya tranportasi dikawatirkan akan berpengaruh pada harga-harga kebutuhan pokok. Selain itu dikawatirkan juga ada pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi itu untuk keuntungan pribadi. "Sekarang sudah mulai ada yang sengaja mengambil upah dari buka tutup jalan," ujar Nahib.
Dia berharap pihak-pihak terkait segera melakukan penanganan yang lebih kongkrit atas jalan Ciregol. "Perlu ditangani lebih serius, agar tidak berdampak buruk, tertama perekonomian warga," pungkas Nahib.