Ibu dan Ayah Toni, pasangan Nurhidayati (kiri) dan Anton Setiawan (kanan) menunggu kepastian kabar nasib anaknya. (Foto: Kuntoro)
PanturaNews (Brebes) - Keluarga Toni Setiawan, salah satu anak buah kapal (ABK) korban tsunami di Jepang, hingga saat ini masih menunggu kepastian nasibnya. Kabar terakhir yang diterima pihak keluarga, kapal tempat bekerja Toni asal Desa Lemah Abang, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini, pecah akibat hantaman gelombang stunami.
Keluarga Toni yang tinggal di Jalan Cemara, Kecamatan Tanjung, Brebes, Selasa 15 Maret 2011, berkumpul dan harap-harap cemas memikirkan nasib yang dialami Toni Setiawan.
Mereka masih menunggu kepastian nasib Toni yang dikabarkan hilang saat terjadi tsunami di Dendai, Jepang, Jumat 11 Maret 2011 siang pekan lalu.
Kabar terakhir yang diterima dari salah satu ketujuh teman Toni yang selamat, sebelum kapal yang ditumpanginya pecah, mereka masih melihat Toni bersama lainnya di anjungan kapal. Namun, saat kapal pecah, Toni terhempas dan hilang bersama temannya Arifin Siregar, asal Mataram.
“Saat itu kedua temannya yang berada diatas mengabari ke Toni ada ombak laut datang menghampiri kapalnya. Menurut Toni mungkin itu hal yang biasa, tetapi tiba-tiba ombak yang datang ternyata sangat besar dan menghantam kapal hingga pecah. Teman-temannya yang diatas ada yang jatuh ke dapur, dan ada yang jatuh kamar mandi,” jelas ibu korban, Nurhidayati, menirukan kabar yang diterima dari teman Toni, Selasa 15 Maret 2011 di rumahnya.
Menurut Nurhidayati, anaknya berangkat dari rumah sekitar satu setengah tahun lalu. kkeberangkatan Toni ke Jepang adalah yang ketiga kalinya, dan dia berangkat dengan salah satu temannya yang bernama Arifin Siregar yang juga dikabarkan hilang.
Sedianya Toni akan pulang ke Indonesia pada Jumat 11 Maret lalu, bahkan anggota keluarga sudah menjemputnya ke Bandara Sukarno Hatta, Jakarta.
Toni yang merupakan alumni STM Pelayaran Mundu Cirebon, Jawa Barat ini, adalah anak kedua dari enam bersaudara pasangan Anton Setiawan dan Nurhidayati.
“Kami harap pemerintah bisa membantu kami untuk bisa secepatnya menemukan kebaradaan Toni, sehingga kami sekeluarga bisa tenang,” pinta Anton beserta seluruh keluarga.