Abdullah Sungkar ST SE (Foto: SL Gaharu)
PanturaNews (Tegal) - Penyusutan debit dan tekanan air PDAM Kota Tegal bukan disebabkan oleh persoalan di hulu (mata air) tetapi hal itu lebih diakibatkan oleh penanganan pendistribusian air di hilir. Demikian ditegaskan anggota Panitia Khusus (Pansus) II DPRD Kota Tegal, Abdullah Sungkar ST SE di sela-sela kunjungan lapangan ke Reservoir Saimbang, Kecamatan Lebaksiu dan Tuk (mata air) Kali Bulakan , Bumijawa, Kabupaten Tegal, bersama Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Kota Tegal, Ngateri yang didampingi sejumlah stafnya, Senin 14 Maret 2011.
Menurut Sungkar, dari fakta yang ada, terjadi penyusutan debit air dari Tuk Kali Bulakan sampai ke Kota Tegal. Oleh karenanya, PDAM harus benar-benar optimal dalam meminimalisir penyusutan tekanan dan debit air. “Sumber masalahnya ternyata bukan di hulu, tapi di hilir. Oleh karena itu, harus ada kinerja yang optimal untuk menstabilkan kondisi air yang kita miliki saat ini. Paling tidak kita harus mencari cara yang tepat untuk meminimalisir tingkat penyusutan itu,” kata Sungkar.
Lebih jauh Sungkar mengatakan, satu-satunya cara untuk mempertahankan debit air yang tepat adalah dengan meminimalisir tingkat kebocoran yang menyebabkan menurunnya debit air. Akan hal itu juga perlu diimbangi dengan peningkatan sarana penyimpanan air di menara air PDAM Kota Tegal. Sebab, dengan kondisi kolam penyimpanan dan pompa air yang tidak memenuhi syarat justru hanya akan mengakibatkan air tidak dapat terdistribusikan dengan sempurna.
Sementara, Kepala Bagian Hubungan Pelanggan PDAM Kota Tegal, Ghufron mengatakan, sebelum mencapai ke Kota Tegal, air dari Tuk Kali Bulakan sebanyak 70 liter per detik menyusut menjadi 60 liter per detik setelah sampai di reservoir Saimbang. Hal itu karena terkurangi untuk pasokan sosial di sejumlah lokasi yang terlewati pipa transmisi, yakni di Desa Cenggini, Desa Carus dan Desa Carul.
Sebelum sampai ke Kota Tegal, debit air menyusut lagi karena di sejumlah tempat yang terlewati khususnya di daerah Slawi dan Banjaran sudah terdistribusikan untuk 608 pelanggan, belum lagi pasokan air yang disedot oleh pabrik Teh, pabrik air mineral dan sebagainya. Dari reservoir air di Saimbang, kemudian air dialirkan ke Kota Tegal dengan terlebih dahulu dinaikan tekanannya melalui 7 menara air yang tersebar di Slawi, Banjaran dan Talang.
Ditambahkan, jumlah debit air yang ada di Tuk Kali Bulakan totalnya ada sekitar 200 liter per detik. Namun yang diambil oleh PDAM Kota Tegal hanya 70 liter per detik, sisanya 130 liter per detik dimanfaatkan untuk irigasi persawahan daerah sekitar. Sesampainya di reservoir Saimbang menyusut tinggal 60 liter per detik. Untungnya mendapat tambahan pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) milik Provinsi Jawa Tengah yang airnya berasal dari mata air Kali Giri, Bumiayu, Kabupaten Brebes, sebanyak 110 liter per detik.
“Sehingga total debit air milik Kota Tegal mencapai 170 liter per detik. Dan tentunya angka itu menyusut lagi sebelum sampai di menara air Kota Tegal karena tersedot untuk pasokan ratusan pelanggan di wilayah Slawi dan Banjaran,” jelas Ghufron.