Rombongan Pansus II DPRD Kota Tegal bersama para karyawan PDAM meninjau mata air Kali Bulakan, Bumijawa. (Foto: Riyanto Jayeng)
PanturaNews (Tegal) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tegal berencana manfaatkan luapan (luberan) air di mata air (tuk) Kali Bulakan, Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah untuk didistribusikan ke pelanggan baru.
Keberadaan luberan yang diperkirakan sebesar 30 liter per detik itu, diketahui setelah dilakukan pengecekan ke lokasi sumber air, pascakonsultasi PDAM ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana di Semarang. Demikian dikatakan Pelaksana Tugas (PLT) Direktur PDAM Kota Tegal, Ngateri, disela-sela kunjungan lapangan bersama Panitia Khusus (Pansus) II DPRD Kota Tegal ke lokasi mata air Kali Bulakan, Bumijawa, Semim 14 Maret 2011.
Menurut ngateri, setelah dilakukan pengecekan ke sumber air PDAM di tuk Kali Bulakan, diketahui ada luapan air di bak penampung mata air baik di musim kemarau maupun musim penghujan. Hal tersebut menyebabkan adanya kapasitas menganggur (iddele capasiti). Menurutnya, harus dicarikan solusi dan terobosan baru untuk bisa memanfaatkan air luberan itu.
“Jumlah air luberan di penampungan mata air Kali Bulakan itu mencapai 30 liter per detik. Jika air itu dimanfaatkan dan didistribusikan ke masyarakat, akan bisa memenuhi sekitar 240 pelanggan baru. Asumsinya, jika 1 pelanggan dapat memenuhi kebutuhan air 5 orang, maka 30 liter air per detik artinya bisa menutup kebutuhan air untuk 1200 orang,” kata Ngateri.
Ngateri mengatakan, untuk dapat mendistribusikan air tersebut ke pelanggan, diperlukan pembesaran pipa transmisi hingga diameter 300. Dikatakan, kaitan hal itu PDAM sudah melakukan upaya pembesran pipa berdiameter 300 dari sumber air Kali Bulakan sampai ke Bak Pelepas Tekan (BPT) 1 di Desa Sumbaga, Kecamatan Bumijawa hingga BPT 8 di desa Cenggini, Kecamatan Balapulang.
“Sementara dari BPT 8 ke reservoir air di Desa Saimbang, Kecamatan Lebaksiu masih menggunakan pipa transmisi ukuran diameter 250. Untuk itu sebagai langkah selanjutnya agar air luberan itu bisa didistribusikan ke 240 pelanggan baru, PDAM harus membesarkan pipa transmisi dari BPT 8 hingga reservoir air di Desa Seimbang yang panjangnya kurang lebih mencapai 15 Km dengan perencanaan biaya sampai Rp 17 miliar,” ungkapnya.
Disisi lain, ngateri juga memaparkan adanya mata air baru yakni tuk Kele yang lokasinya berada di areal Kali Bulakan yang masuk ke kawasan aset PDAM kota Tegal. Akan tetapi, tuk Kele tersebut rupanya dibangun dan dimanfaatkan oleh masayarakat sekitar untuk memasokair bersih di beberapa desa di wilayah Kecamatan Bumijawa, seperti Desa Traju, soka Tengah, Soka Sari, Sumbaga dan sekitarnya.
“Keberadaan tuk Kele itu justru diketahui oleh Departemen Cipta Karya Pusat. Kami bermaksud ingin menambahkan air dari tuk kele ke dalam pipa transmisi untuk didistribusikan ke Kota Tegal, dari 170 liter per detik debit air yang dihasilkan tuk Kele, kami paling hanya akan mengambil sekitar 50 liter per detik saja. Itupun kalau mendapat rekomendasi dari pusat,” kata Ngateri.
Sementara, menanggapi hal itu anggota Pansus II DPRD Kota Tegal Abdullah Sungkar ST SE mengatakan, pihaknya mengaku kaget dengan adanya potensi luapan air di tuk kali Bulakan yang jumlahnya lumayan besar. Menurutnya, luapan air itu sangat bisa dimanfaatkan apabila deprogram dan dikerjakan secara serius.
“Yang lebih mengagetkan adalah keberadaan tuk Kele. Ironisnya, pihak pdam sendiri tidak pernah mengetahui keberadaan tuk Kele tersebut. Jika memang PDAM menginginkan pendistribusian air dari tuk Kele, maka segera saja dibuat program yang jelas. Jika kita bias memanfaatkan tuk Kele dan luapan air di lokasi tuk Kali Bulakan, maka dengan sendirinya aka nada pertambahan debit mencapai 80 liter per detik,” tandas Sungkar.