Tidak banyak komunitas sastra di negeri ini yang mampu bertahan 31 tahun tanpa putus, tanpa pamrih, tanpa hiruk-pikuk kekuasaan....
PanturaNews (Tegal) - Malam di Kedai PDKT, Jalan Arjuna, Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, pada Selasa 16 Desember 2025 malam, tidak sekadar menjadi penanda penghujung tahun.
Disini menjelma ruang sunyi yang sarat makna, ketika doa, sastra, dan monolog berpadu dalam satu tarikan napas kebudayaan. Di tempat itulah Komunitas Sastrawan Tegalan menggelar acara bertajuk “Mapag Tutup Tahun 2025 lan Doa Syukur Lancarnya Operasi Anak Putri Lanang Setiawan”, sebuah peristiwa batin yang mengalir pelan namun menghunjam rasa.
Panggung sederhana malam itu berubah menjadi ruang kontemplasi. Ustadz Tsany bin Ambali tampil membawakan monolog religius tanpa naskah, menuturkan kisah agung Nabi Muhammad SAW, saat menerima perintah salat lima waktu dalam peristiwa mi’raj menghadap Allah SWT.
Dengan suara bergetar dan tutur yang lahir dari kedalaman iman, monolog tersebut membawa hadirin menyusuri perjuangan Nabi -bahwa perintah salat lahir dari cinta yang teramat dalam kepada umatnya, diperjuangkan dengan penghambaan dan linangan air mata, hingga akhirnya ditetapkan hanya lima waktu penuh rahmat.
Suasana religius itu menajamkan keheningan malam. Penonton terdiam dalam kekhusyukan, seolah ikut bersimpuh di antara langit dan bumi.
Usai penampilannya, Ustadz Tsany menegaskan bahwa acara tersebut bukan sekadar panggung seni, melainkan jalan doa yang disulam melalui sastra.
“Sastra malam ini menjadi wasilah doa. Kata-kata berubah menjadi dzikir, monolog menjadi munajat. Semoga Allah SWT paring sehat lan panjang umur untuk Ken Ratu, putri Mas Lanang Setiawan, yang baru saja menjalani operasi di RS Columbia Asia Semarang. Mugi diparingi kesembuhan sempurna, lancar uripe, lan dados anak shalihah,” tuturnya lirih namun penuh harap.
Selepas itu, panggung berubah wajah. Seniman Apas Khafasi hadir membawakan monolog berbahasa Tegalan berjudul “Noni-noni Landa” karya Lanang Setiawan.
Dengan penjiwaan yang kuat, Apas menyeret penonton masuk ke sebuah kafe di alam gaib, ruang antara yang dihuni kenangan, bayang-bayang masa lalu, dan aroma kolonial abad ke-18. Iringan musik dari flashdisk mengalun lirih namun mencekam, mempertebal aura magis yang menyelimuti pementasan.
Selama sekitar 15 menit, penonton dibuat terpaku, nyaris membeku. Waktu seolah dilipat: masa lampau dan modern saling berkelindan, menciptakan rasa merinding yang pelan-pelan menyayat batin. Peristiwa di alam gaib itu disaksikan oleh Mas Jon, sosok seniman yang juga hadir dalam narasi monolog Noni-noni Landa.
Penampilan Apas Khafasi malam itu memikat dan menghanyutkan. Kata-kata Tegalan yang dituturkannya menjelma mantra, memaksa penonton tenggelam dalam atmosfer puitik nan mistis-hipnotis yang sunyi namun mengguncang batin.
Penyair nasional Nurochman Sudibyo, yang turut membaca puisi malam itu, memberikan apresiasi mendalam terhadap keberlangsungan Komunitas Sastrawan Tegalan.
“Tidak banyak komunitas sastra di negeri ini yang mampu bertahan 31 tahun tanpa putus, tanpa pamrih, tanpa hiruk-pikuk kekuasaan. Komunitas Sastrawan Tegalan adalah bukti bahwa sastra bisa hidup dari ketulusan, dari pertemanan, dari kesetiaan menjaga bahasa dan kebudayaan,” ujarnya.
Menurut Nurochman, malam tersebut bukan sekadar perayaan akhir tahun, melainkan peneguhan ingatan kolektif, bahwa sastra lokal -khususnya sastra Tegalan- memiliki daya hidup yang kukuh dan bermartabat.
Selain dua monolog utama, acara juga diramaikan dengan pembacaan puisi serba Tegalan oleh para penyair: Iwang Nirwana, Nurochman Sudibyo, Mohammad Ayyub, Diah Setyowati, Retno Kusrini, Endhy Kepanjen, serta Dudung dari komunitas Parowulan. Puisi-puisi itu mengalir sebagai suara kampung, suara batin, dan suara ingatan yang terus dirawat.
Di penghujung malam, satu hal menjadi terang: acara ini bukan sekadar agenda seni, melainkan ritual kebudayaan -ruang silaturahmi, permenungan, dan syukur yang dilantunkan melalui bahasa ibu.
Di sanalah sastra Tegalan terus bernapas, menjaga nyala selama tiga dekade lebih, membuktikan bahwa kata-kata yang lahir dari ketulusan tak pernah benar-benar padam.