Minggu, 14/01/2024, 01:11:24
Pengaruh Kualitas Anak Pendalaman Dalam Mengenyam Pendidikan
Oleh: Khoirul Fatihin
--None--

ORANG yang paling mungkin putus sekolah adalah anak-anak dan remaja dari keluarga miskin, penyandang disabilitas, dan orang-orang yang tinggal di pedesaan dan daerah tertinggal di negara ini.

Remaja berusia antara 13 dan 15 tahun yang berasal dari rumah tangga termiskin, lima kali lebih mungkin membolos SMP dari pada mereka yang berasal dari rumah tangga terkaya.

Selain itu, remaja kehilangan kesempatan untuk mencapai potensi penuh mereka. Hampir seperempat dari 46 juta pemuda di Indonesia, berusia 15 hingga 19 tahun, tidak memiliki pekerjaan, mengikuti pelatihan, atau bersekolah. Sekitar 15% kaum muda  menganggur.   

Bukan rahasia lagi bila anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman sangat sulit mendapatkan kehidupan yang layak seperti anak-anak pada umumnya. Mereka kesulitan mendapat air bersih, mengenyam pendidikan sesuai batas kelayakan pendidikan Indonesia, dan sulit mengikuti perkembangan zaman.

Tak hanya itu saja, mereka bahkan tidak mengenal alat komunikasi seperti telepon genggam. Hal pokok yang menjadi sorotan utama yaitu betapa sulitnya mereka mendapat pendidikan yang layak, dan mengenyam pendidikan dua belas tahun.

Pada faktanya tak semua salah mereka, kesulitan mereka menjangkau lokasi sekolah menjadi masalah karena mereka harus mengarungi sungai. Mereka juga harus berjalan kaki hingga berpuluh-puluh kilometer, bahkan ada pula yang tak memakai alas kaki.

Kurangnya tenaga pengajar di pedalaman, karena sulitnya mencari pengajar yang mau mengajar di daerah tersebut juga sangat disayangkan. Padahal kualitas seseorang diukur melalui seberapa jauh pendidikan yang dicapai, karena kualitas seorang lulusan SD berbeda dengan kualitas seorang sarjana.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa pendidikan sangat memengaruhi kualitas seorang anak pedalaman.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita