Selasa, 16/03/2010, 18:26:00
In Memoriam Duryani: Buta Huruf Apa? Ngarti Tah Ora Ente!
Wijanarto Wijan
--None--

Gaya bicaranya meledak-ledak. Pertama kali perjumpaan ia bukan siapa-siapa, kecuali mantan sopir yang punya antuasias dalam persoalan politik kenegaraan waktu itu. Analisanya khas oposisi malu-malu dan nasionalisme Soekarno. Kebetulan seorang teman kuliah bermukim di kampung Kauman Pulo, tempat kontrakannya sebelum berpindah-pindah ke Sigambir dan Pasarbatang.

Beberapa tahun kemudian, Duryani, begitu namanya menjadi bagian penting dari reformasi lokal di Kabupaten Brebes. Khususnya pada masa pencalonan almarhum Tadjudin Nooraly yang mewakili representase kaum sipil. Dan memang selama kekuasaan Orde Baru, Kabupaten Brebes menjadi wilayah yang dipimpin oleh kelompok militer.

Semasa pemerintahan Tadjudin Nooraly yang akomodatif, suara-suara kelompok masyarakat Brebes diperhatikan. Terutama mereka yang kemudian mendirikan lembaga non government organization atawa yang populer dengan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Dan oleh Bupati Tadjudin, kelompok LSM dilibatkan mengambil peran dalam perguliran Kredit Usaha Tani (KUT). Salah satunya, Duryani yang mendirikan LSM LPAP.

Memang benar kelompok alternatif muncul dalam proses pemerintahan di Kabupaten Brebes, semasa Bupati Tadjudin. Inilah yang membedakan dengan Kota Tegal yang mengalami radikalisasi dengan puncaknya pendaulatan Walikota H.M Zakir (lihat Anton Lucas, 2004 dan Richard Curtis, 2006). Turbulensi politik di Kabupaten Brebes kala itu berhasil diturunkan tensinya pada masa Tadjudin. Walaupun sebelumnya memang terjadi gerak fluktuatif meningkat dengan terjadinya rusuh di Losari, serta penyerbuan kelompok PDI-P atas Partai Golkar di stadion Karangberahi. Namun manajerial politik akomodatif yang dilakukan Bupati Tadjudin membuat grafik turbulensi itu diredam.

Melalui perekrutan kaum LSM dan kaum terdidik (khususnya alumni KPMDB) dalam program-program pembangunan lokal, membuat mereka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan praksis yang menuntut kemampuan dan memaksa belajar kembali. Artinya mereka harus melihat bahwa permasalahan pembangunan di Kabupaten Brebes, tak bisa diselesaikan dengan retorika dan demo doang.

Dalam kondisi seperti inilah, Duryani dibesarkan dan lahir sebagai bagian dari kelompok alternatif di luar birokrasi pemerintahan Kabupaten Brebes. Walaupun terkadang menjadi subordinasi dalam politik kelokalan di Brebes. Duryani tumbuh dalam fase yang banyak dilalui pemerintahan daerah semasa pelaksanaan desentralisasi politik.

Sama seperti iklan minuman ringan, ia ada dimana-mana, dimana saja dan dengan siapa saja. Wajar jika relasinya begitu melimpah. Ini terbukti saat pemakamannya banyak tokoh dan pejabat di Kabupaten Brebes melakukan takziah. Makin bombastis saat mobil carry-nya menjadi slogan informasi saat di bagian belakang dan samping jendela ditempeli berita-berita headline di Brebes. Kadang saya bergumam, wah kok Departemen Penerangan telah kembali.

Banyak yang diurus olehnya. Dari mulai pasien haedrocypallus hingga tenaga kerja. Sehingga terkadang saya mengapresiasi jam terbangnya yang tinggi. Membagi untuk kepentingan umat dan keluarganya, bagaimana. Satu hal yang tak pernah ia ceritakan adalah soal keluarganya. Selalu hal-hal yang berkaitan dengan umat dan persoalan Brebes. Sehingga terkaget juga, bahwa Duryani adalah seorang kakek yang mempunyai cucu serta bapak dari anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa.

Pikiran nakal saya kadang berkelindan, apakah dalam kehidupan keluarganya sosoknya masih bak aktivis yang selalu meledak-ledak. Tidak terima dibilang tidak tahu, “Buta huruf apa, ngarti tah ora enté!”. Sayang perjumpaan saya dengannya lebih memposisikan sosoknya sebagai aktivitis, bukan sosok seorang tuan rumah layaknya menjamu tamu-tamunya. Terus-terang untuk yang satu ini saya belum pernah merasakan. Sekali-kali ingin dijamu juga layaknya pertemanan.

Duryani memang dibesarkan oleh media dan situasi yang memungkinkan ia tampil sebagai sosok dalam pentas perpolitikan lokal di Brebes. Ketertindasan orang lain membuatnya banyak bergerak, seperti kenaikan upah minimum kabupaten, nasib buruh migran, kaum miskin yang sulit mendapatkan akses pelayanan hingga soal asuransi pegawai beberapa waktu lalu. Penampilannya seolah-olah seperti wayang yang berganti kelir. Apakah dia merasa posisinya sebagai wayang dalam berbagai pakeliran dengan dalang dan waranggana yang berbeda ? Entahlah. Hari ini temanya tentang pelayanan kesehatan di RSUD, besoknya soal asuransi pegawai yang belum terbayar, lusanya soal UMK.

Energinya memang besar dan minatnya begitu meluas. Terkadang tampak kerut-marut gurat kecapainnya. Walau dihalau dengan gaya bicara yang membuat telinga pekak dan tawanya yang berderai lepas. Hal yang harus diacungkan jempol, adalah posisinya yang siap melawan arus.

Contohnya saat terjadi demonstrasi persoalan dugaan korupsi di Kabupaten yang digerakkan elemen mahasiswa dan aktivis antikorupsi, Duryani dengan lantang meneriakkan slogan tijitibeh (mati siji mati kabeh). Mobil peninggalannya pun masih terpampang tulisan tersebut.

Mendiang memang pernah dirawat soal penyakit dalamnya, tapi beritanya tak sekejut es-em-se yang dikirim oleh Mahfuddin (Ketua KPUD Brebes) pukul 00.30 yang mengabarkan Duryani aktivisi LSM LPAP masuk RSI Harapan Anda Tegal dengan gejala penyumbatan jantung. Saya pun menerima es-em-es serupa dari Bahrul Ulum. Berikutnya pukul 04.00 pagi saya kembali menerima pesan pendek dari Mahfudin, mewartakan, Innalillahi wa innailahi rojiuun, telah meninggal dunia sdr Duryani aktivis LSM LPAP di RSI Harapan Anda Tegal. Ada jeda sebentar.

Menarik memang detik-detik terakhir saat mendiang terjatuh dari kamar mandi sepulang mengurus acara tahlilan ibunya di Bulakamba. Rumah sakit di Brebes tak bisa menerima dengan alasan sudah penuh. Ini suatu ironis, bahwa tokoh yang selama dalam hidupnya memperjuangkan Jamkeskin dan pasien tidak mampu, mengalami nasib yang tragis.

Ia menyusul ibunya dengan sejumlah kenangan di hati teman-temannya. Termasuk Darsono, Ali Hada dan Mahfudin yang menungguinya sedari di RSI Harapan Anda. “Aku dadane sesek kiye”. Sembari berkata itu dari mulutnya melafalkan surat Al Ikhlas. Rupanya ia telah beroleh firasat, saat malaikat menjemputnya untuk menemui sang Ibunda yang terlebih dahulu wafat di alam barzah, seminggu sebelum ajal menghampirinya di ruang ICU RSI Harapan Anda.

Selamat jalan kawan. Sudah cukup rupanya waktumu untuk berjuang. Biar kami yang menggantikannya. Au revoir.

(Penulis adalah Mahasiswa Magister UNDIP dan sedang melakukan kajian shadow state dan implementasinya dalam kebijakan publik di Kabupaten Brebes)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita