BARU saja kita selesai berurusan dengan genangan dan curah hujan intens yang menguras energi, alarm dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali berbunyi.
Alam sepertinya sedang tidak ingin memberikan jeda. Data terbaru per April 2026 menunjukkan sinyal kuat bahwa fenomena El Nino akan kembali menyambangi nusantara pada pertengahan tahun ini.
Ini bukan sekadar prediksi cuaca rutin yang bisa kita abaikan sembari menyeruput kopi di sore hari. El Nino kali ini diprediksi membawa paket komplit: musim kemarau yang lebih kering, suhu yang lebih menyengat, dan durasi yang lebih panjang dari rata-rata normal. Jika kita tidak bersiap, fenomena ini akan menjadi ujian berat bagi ketahanan pangan dan stabilitas lingkungan kita.

Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7% wilayah Zona Musim di Indonesia sudah mencuri start memasuki kemarau. Angka ini diprediksi melonjak drastis pada periode April hingga Juni.
Meskipun intensitasnya saat ini dipantau pada level lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, sejarah mengajarkan kita bahwa dampak di lapangan seringkali lebih "galak" daripada angka di atas kertas.
Masalah sebenarnya bukan hanya soal matahari yang terasa lebih terik saat kita keluar rumah, melainkan ancaman sistemik yang terjadi di balik layar kehidupan kita. Setidaknya ada tiga garda yang paling terancam.
Pertama, Krisis Kedaulatan Pangan. Komoditas air intensif seperti padi dan jagung berada di garis depan risiko. Para pakar mulai mewaspadai potensi Godzilla El Nino jika suhu muka laut terus merangkak naik secara anomali. Tanpa ketersediaan air yang cukup, ancaman gagal panen massal bukan lagi isapan jempol, melainkan risiko nyata yang berujung pada lonjakan harga pangan di pasar.
Kedua, Defisit Air Bersih. Waduk, embung, dan bendungan akan dipaksa bekerja ekstra keras saat suplai dari langit terhenti dalam waktu lama. Ketika debit air menyusut, konflik kepentingan antara kebutuhan domestik, industri, dan irigasi seringkali tak terhindarkan.
Ketiga, Hantu Karhutla. Wilayah dengan lahan gambut luas seperti Kalimantan dan Sumatera kini sudah berstatus siaga satu. Dalam kondisi El Nino, kemarau panjang adalah bensin, dan satu percikan kecil bisa menjadi bencana nasional yang mengirimkan kabut asap ke negara tetangga.
Kita memang tidak memiliki kendali untuk menghentikan El Nino, tetapi kita memiliki kendali penuh atas seberapa besar dampak yang akan kita tanggung. Langkah mitigasi tidak boleh hanya menjadi tumpukan dokumen di meja birokrasi, melainkan harus diterjemahkan menjadi aksi konkret.
Pemerintah daerah dan otoritas air harus memaksimalkan pengisian waduk dan embung selagi sisa hujan masih ada. Jangan biarkan air mengalir sia-sia ke laut. Selain itu, audit fungsi sumur bor di daerah rawan kekeringan harus tuntas sebelum tanah mulai retak.
Petani perlu didorong untuk beralih ke varietas tanaman yang tahan kekeringan (dry-tolerant). Edukasi harus masif, jangan memaksakan menanam padi jika sumber air terbatas. Peralihan ke palawija yang lebih hemat air adalah pilihan logis untuk menjaga dapur tetap mengepul.
Aktivasi posko pemadam kebakaran hutan tidak boleh menunggu api muncul. Sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar harus disertai dengan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Kita tidak boleh lagi menerima kabut asap hanya karena kelalaian segelintir pihak.
El Nino 2026 mungkin diprediksi tidak seekstrem tahun 2015 atau 2019, namun meremehkan siklus alam adalah resep menuju bencana. Mitigasi adalah investasi, bukan beban biaya.
Mari kita bersiap dan merapatkan barisan sebelum panas benar-benar menyengat, karena ketangguhan sebuah bangsa diuji bukan saat cuaca cerah, melainkan saat badai kering mulai menerjang.
.jpg)
Wartawan PanturaNews dilengkapi indentitas yang tertera pada box redaksi, jika terjadi pemungutan uang dalam peliputan berita. Hubungi Kantor Redaksi:Jl. Ayam No 29 Randugunting Kota Tegal atau E-mail:redaksi@panturanews.com atau HP:081575522283