opini »
Selasa, 07/04/2026 09:39:09 Wib
Menjemput “Godzilla” El Nino: Menguji Ketangguhan Mitigasi Kita

BARU saja kita selesai berurusan dengan genangan dan curah hujan intens yang menguras energi, alarm dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali berbunyi.

Alam sepertinya sedang tidak ingin memberikan jeda. Data terbaru per April 2026 menunjukkan sinyal kuat bahwa fenomena El Nino akan kembali menyambangi nusantara pada pertengahan tahun ini.

Ini bukan sekadar prediksi cuaca rutin yang bisa kita abaikan sembari menyeruput kopi di sore hari. El Nino kali ini diprediksi membawa paket komplit: musim kemarau yang lebih kering, suhu yang lebih menyengat, dan durasi yang lebih panjang dari rata-rata normal. Jika kita tidak bersiap, fenomena ini akan menjadi ujian berat bagi ketahanan pangan dan stabilitas lingkungan kita.

Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7% wilayah Zona Musim di Indonesia sudah mencuri start memasuki kemarau. Angka ini diprediksi melonjak drastis pada periode April hingga Juni.

Meskipun intensitasnya saat ini dipantau pada level lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, sejarah mengajarkan kita bahwa dampak di lapangan seringkali lebih "galak" daripada angka di atas kertas.

Masalah sebenarnya bukan hanya soal matahari yang terasa lebih terik saat kita keluar rumah, melainkan ancaman sistemik yang terjadi di balik layar kehidupan kita. Setidaknya ada tiga garda yang paling terancam.

Pertama, Krisis Kedaulatan Pangan. Komoditas air intensif seperti padi dan jagung berada di garis depan risiko. Para pakar mulai mewaspadai potensi Godzilla El Nino jika suhu muka laut terus merangkak naik secara anomali. Tanpa ketersediaan air yang cukup, ancaman gagal panen massal bukan lagi isapan jempol, melainkan risiko nyata yang berujung pada lonjakan harga pangan di pasar.

Kedua, Defisit Air Bersih. Waduk, embung, dan bendungan akan dipaksa bekerja ekstra keras saat suplai dari langit terhenti dalam waktu lama. Ketika debit air menyusut, konflik kepentingan antara kebutuhan domestik, industri, dan irigasi seringkali tak terhindarkan.

Ketiga, Hantu Karhutla. Wilayah dengan lahan gambut luas seperti Kalimantan dan Sumatera kini sudah berstatus siaga satu. Dalam kondisi El Nino, kemarau panjang adalah bensin, dan satu percikan kecil bisa menjadi bencana nasional yang mengirimkan kabut asap ke negara tetangga.

Kita memang tidak memiliki kendali untuk menghentikan El Nino, tetapi kita memiliki kendali penuh atas seberapa besar dampak yang akan kita tanggung. Langkah mitigasi tidak boleh hanya menjadi tumpukan dokumen di meja birokrasi, melainkan harus diterjemahkan menjadi aksi konkret.

Pemerintah daerah dan otoritas air harus memaksimalkan pengisian waduk dan embung selagi sisa hujan masih ada. Jangan biarkan air mengalir sia-sia ke laut. Selain itu, audit fungsi sumur bor di daerah rawan kekeringan harus tuntas sebelum tanah mulai retak.

Petani perlu didorong untuk beralih ke varietas tanaman yang tahan kekeringan (dry-tolerant). Edukasi harus masif, jangan memaksakan menanam padi jika sumber air terbatas. Peralihan ke palawija yang lebih hemat air adalah pilihan logis untuk menjaga dapur tetap mengepul.

Aktivasi posko pemadam kebakaran hutan tidak boleh menunggu api muncul. Sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar harus disertai dengan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Kita tidak boleh lagi menerima kabut asap hanya karena kelalaian segelintir pihak.

El Nino 2026 mungkin diprediksi tidak seekstrem tahun 2015 atau 2019, namun meremehkan siklus alam adalah resep menuju bencana. Mitigasi adalah investasi, bukan beban biaya.

Mari kita bersiap dan merapatkan barisan sebelum panas benar-benar menyengat, karena ketangguhan sebuah bangsa diuji bukan saat cuaca cerah, melainkan saat badai kering mulai menerjang.

Berita Lainnya
Rabu, 08/04/2026 17:44:16 Wib
Akses Alun-alun Tegal Ditutup Portal, Pedagang Adukan Wali Kota ke Senayan
Rabu, 08/04/2026 14:22:32 Wib
Darto dan Wasori Menang di Pilkades PAW Desa Plompong dan Songgom, Dinpermades: Sesuai Aturan
Rabu, 08/04/2026 14:10:18 Wib
Proyek Perluasan PPN Tegalsari, Jangan Mematikan Stakeholder Perikanan
Rabu, 08/04/2026 12:32:34 Wib
Kasus Korupsi Fadia Arafiq, KPK Periksa 63 Pejabat Pemkab Pekalongan. Ini Daftarnya..
Selasa, 07/04/2026 22:21:57 Wib
Miris, Dominasi Korban Obat Keras Ilegal di Tegal dan Brebes Masih Berstatus Pelajar
Selasa, 07/04/2026 15:52:28 Wib
Momen Panas! Menteri PKP Maruarar Sirait Terlibat Adu Argumen Sengit dengan Hercules Soal Lahan
Selasa, 07/04/2026 09:39:09 Wib
Menjemput “Godzilla” El Nino: Menguji Ketangguhan Mitigasi Kita
Selasa, 07/04/2026 00:35:32 Wib
Bandel, Lapak PKL di Jalan Protokol Pemalang Diangkut Paksa Satpol PP
Senin, 06/04/2026 23:59:19 Wib
Kereta Api Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Ratusan Penumpang di Angkut Gunakan 10 Bus
Minggu, 05/04/2026 21:33:07 Wib
Suhu Kawah Naik, Gunung Slamet Ditutup Total: Jangan Nekat Cari Jalur Tidak Resmi!
Minggu, 05/04/2026 16:04:18 Wib
Rebutkan 110 Kursi, 880 Siswa Pantura Ikuti Seleksi Beasiswa Harkat Negeri
Minggu, 05/04/2026 15:43:24 Wib
Kebijakan Car Free Day Perdana di Kawasan Alun-Alun Brebes, Tuai Pro Kontra. Pegiat Olahraga Happy, Warga Emosi
Minggu, 05/04/2026 08:45:22 Wib
Tumplek Ponjen, Mawiti Cinta: dr Setiawan Kautsar dan Rizqa Nur Kusumah
Sabtu, 04/04/2026 23:11:29 Wib
Gubernur Ahmad Luthfi Turun Langsung! Pantau Kondisi Korban Banjir Demak & Salurkan Bantuan Ratusan Juta
Sabtu, 04/04/2026 21:09:42 Wib
Jembatan Kalibuntu Brebes Putus, 500 KK Terisolasi! Bupati Paramitha Langsung Turun Lokasi
Perhatian

Wartawan PanturaNews dilengkapi indentitas yang tertera pada box redaksi, jika terjadi pemungutan uang dalam peliputan berita. Hubungi Kantor Redaksi:Jl. Ayam No 29 Randugunting Kota Tegal atau E-mail:redaksi@panturanews.com atau HP:081575522283