PanturaNews (Brebes) - Kawasan pusat kota Brebes, resmi memberlakukan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) perdana, Minggu (5/4/2026).
Guna menjamin kenyamanan warga yang berolahraga, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Brebes telah memberlakukan rekayasa arus lalu lintas di sejumlah titik strategis sejak pukul 05.30 WIB hingga pukul 08.00 WIB pagi tadi.
Penerapan CFD ini dipusatkan di sekitar kawasan Alun-Alun Brebes, yang kini tertutup sepenuhnya bagi kendaraan roda dua maupun roda empat.
Meski terpantau sejumlah warga cukup antusias berolahraga, namun kebijakan penutupan jalur utama ini justru memicu pro-kontra hingga viral di media sosial.
Satlantas Polres Brebes telah melakukan penyekatan di sejumlah titik strategis. Tiga ruas jalan utama yang disterilkan total dari kendaraan bermotor adalah Jalan Tritura, Jalan Slamet, dan Jalan Pangeran Diponegoro.
Kasat Lantas Polres Brebes, AKP Ahmad Zainurrozaq, mengatakan, personel sudah disiagakan untuk mengarahkan pengguna jalan ke jalur alternatif demi kenyamanan masyarakat yang beraktivitas di area CFD.
"Personel kami sudah bersiaga di titik-titik penyekatan untuk memastikan area CFD aman bagi pejalan kaki," ujar AKP Zainurrozaq, dalam postingan yang diunggah melalui media sosial Instagram, salah satunya Unit Kamsel Brebes.
Menurutnya, bagi pengendara yang hendak melintas dari arah Tegal (timur) & barat, kendaraan kecil diarahkan melalui jalur Pasar Batang.
Kemudian, untuk kendaraan berat (sumbu 3+), wajib masuk melalui Gerbang Tol Brebes Barat atau Jalur Lingkar Utara (Jalingkut).
Meski bertujuan positif untuk menyediakan ruang publik yang sehat, namun penutupan jalan nasional ini ternyata dikeluhkan banyak orang.
Seperti halnya yang terlihat di media sosial (medsos) Facebook, melalui unggahan akun Errida Zk yang dibanjiri komentar pedas dari netizen yang terjebak kemacetan.

"Kocak jalan utama ditutup, macet noh panjang banget heran," tulis akun Putri Faoziyah.
Tidak sedikit warganet menyarankan agar lokasi CFD dipindahkan ke tempat yang tidak mengganggu urat nadi transportasi.
"CFD kan bisa di area KPT sampai Islamic, ngapain di jalan utama Pantura bikin macet. Kasihan pengguna jalan lain," timpal akun Tanto N.
Senada dengan itu, akun Jaya Sadel Brebes mengeluhkan dampak ke jalan-jalan tikus.
"Jalan nasional ditutup, jalan desanya ruwet, tidak ada aparat yang mengatur. Hmmm ruwet," keluhnya.
Di balik keluhan macet, ada pula warga yang mendukung kebijakan CFD ini. Maezaa Yasta Mustika Qanita menyebut, bahwa CFD bisa menjadi ajang olahraga sekaligus ladang rezeki bagi pedagang kecil.
"Semoga bermanfaat buat warga sekitar dan bisa jadi peluang usaha kecil. Yang penting tertib dan jaga kebersihan," tulisnya.
Wartawan PanturaNews dilengkapi indentitas yang tertera pada box redaksi, jika terjadi pemungutan uang dalam peliputan berita. Hubungi Kantor Redaksi:Jl. Ayam No 29 Randugunting Kota Tegal atau E-mail:redaksi@panturanews.com atau HP:081575522283