Ketua Dewan Kesenian Tegal (DKT), Nungudiono.
PanturaNews (Tegal) - Seniman Tegal kembali bikin kejutan. Setelah mereka melakukan gerakan budaya dengan melahirkan “Hari Sastra Tegalan” dan penyair “Angkatan Tegal Tegal”, kini mereka bakal mendeklarasikan “Angkatan Kosong-kosong”.
Periodisasi kesusastraan Indonesia atas Angkatan 45, 66, dan 70-an itu perlu dikaji. Angkatan-angkatan tersebut lahir akibat dari politisasi sastra yang diusung oleh “Paus Sastra” HB Jassin dan Korrie Layun Rampan. Oleh karenanya, perlu dibicarakan kembali untuk dicarikan format lebih baik, tanpa rekayasa politisasi.
Senyampang dengan itu, Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) berencana menggelar acara “Gerakan Kesusastraan Indonesia” dengan agenda utama diskusi sastra sekaligus “Deklarasi Angkatan Kosong-kosong”. Acara yang cukup menarik ini, rencananya digeber Minggu (21/3) mendatang di dua tempat, berlangsung dari pagi sampai larut malam.
Demikian Ketua Dewan Kesenian Tegal (DKT), Nungudiono di sela-sela persiapan deklarasi di Gedung Kesenian Tegal Jalan Setiabudi Kota Tegal. Menurutnya, untuk hajat tersebut pihak DKT telah mengundang seluruh penyair Indonesia. Itu berkaitan erat dengan agenda diskusi menyoroti “Perjalanan Angkatan-angkatan Kesusastraan Indonesia” yang sampai saat ini dinilai cukup “krusial”. Tidak main-main, para pembicara ahli pun didatangkan, seperti Saut Situmorang penyair dari Yogyakarta, Sides Sudiyanto DS dari Jakarta, dan Kusprihanto Namma dari Ngawi. Mereka akan disandingkan dengan Nurhidayat Poso dari Tegal. Diskusi yang diprediksi bakal memancing perdebatan sengit itu, berlangsung di Gedung Kesenian pada pukul 09.00 – 24.00 WIB dengan moderator Firman Hadi Abu.
“Gesekan-gesekan pemikiran selama diskusi tentu akan terjadi, karena tema yang kita bahas adalah masalah “krusial”. Tapi itulah gerakan kebudayaan kami untuk mengkaji ulang periodisasi angkatan-angkatan. Dalam pandangan kami, angkatan-angkatan itu dibangun hanya karena politisasi sastra, sehingga perlu dibahas,” tutur Nurngudiono.
Nurngudiono menandaskan, untuk mengakhiri masalah “krusial” itu, acara pun dilanjutkan dengan pembacaan berbagai pementasan oleh para penyair, Deklarasi “Angkatan Kosong-kosong”, dan diskusi oleh pembicara Sides Sudiyanto (Jakarta) dan dua pembicara lainnya dengan moderator Nurhidayat Poso. Acara tersebut mengambil tempat di halaman rumah Istiningsih, Jalan Cereme Marpangat, komplek Alun-alun Kota Tegal.
“Untuk gerakan akbar ini, kami menyebar tiga ratus undangan ke berbagai kota di Jawa dan di luar Pulau Jawa,” ujar “Abah” panggilan akrab Nurngudiono.
Para penyair yang dipastikan hadir pada perhelatan tersebut sekitar duaratus dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Banten, Indramayu, Cirebon, Brebes, Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Pemalang, Batang, Pekalongan, Kendal, Semarang, Ngawi, Sidoharjo, Yogyakarta, Magelang, Nganjuk, Bali, Sumatra dan lainnya. Kepastian kehadiran mereka ditandai dengan masuknya karya puisi ke pihak panitia melaui E-mail. Tiap penyair diwajibkan mengirimkan karyanya minimal 10 puisi. “Dari surat mereka yang kami terima melalui e-mail, delapan puluh prosen menyatakan siap hadir,” ujar Abah.
Menurut Abah, ratusan puisi yang masuk ke panitia, nantinya akan dibukukan dalam antologi puisi bertajuk “Penyair Angkatan Kosong-kosong” dengan penerbit Dewan Kesenian Tegal. Tentu setelah puisi mereka disortir oleh sang editor.
Untuk sekarang, pihak panitia masih menerima kesediaan para penyair lain untuk bergabung dan menerima pengiriman karya-karya puisi. Bagi mereka yang bakal mengirimkan karyanya bisa lewat E-mail: angkatankosongkosong@yahoo.com atau alamatkan ke Sekretariat DKT Jalan Setiabudi 163A Kota Tegal, tiga hari sebelum pelaksanaan.