Mendikbud RI, Muhammad Nuh
PanturaNews (Jakarta) - Mendikbud RI, Muhammad Nuh, menegaskan program beasiswa pendidikan Mahasiswa Miskin (Bidikmisi) tidak akan bisa dihentikan, meskipun menterinya diganti. Mahasiswa penerima Bidikmisi diharapkan bisa menjadi agent of change. Bidikmisi adalah kegiatan yang tidak bisa distop.
Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhammad Nuh, saat menyampaikan sabutan dalam kegiatan Forum Bidik Misi Nasional di Gedung D Kemendikbud Jakarta, Kamis 06 Desember 2012.
"Karena kita merasakan betapa nikmatnya bisa membahagiakan orang," ucap Nuh yang disertai tepuk tangan semua peserta.
Menurut Nuh, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melihat Bidikmisi sebagai program unggulan kementerian yang mengemban misi mencerdaskan bangsa. Bahkan dalam setiap kunjungan kerja ke daerah-daerah, selalu dimasukkan agenda kunjungan ke PTN untuk bertemu dengan para penerima Bidikmisi, bahkan agenda kunjungan ke rumah para mahasiswa penerimanya.
“Para penerima Bidikmisi diharapkan bisa menjadi agent of change atau agen perubahan. Bukan sekedar menjadi pemimpin Indonesia, tetapi kita yakin seyakin-yakinnya, di samping memiliki kesempatan untuk menjadi agen perubahan di Indonesia. Kita juga yakin akan menjadi agen perubahan dunia. Itulah Bidikmisi," kata Nuh.
Kegiatan Forum Bidikmisi digelar selama empat hari, tanggal 05 hingga 08 Desember 2012 yang diikuti 500 mahasiswa penerima Bidikmisi. Program kegiatan yang akan diikuti mahasiswa Bidikmisi, diantaranya menerima materi dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh yang sudah berhasil dalam bidang kepemimpinan dan kewirausahaan. Peserta juga akan mengikuti kunjungan wisata pendidikan.
Sementara itu, Dirjen Dikti Kemdikbud, Djoko Santoso mengatakan, hingga tahun 2012 jumlah mahasiswa penerima Bidikmisi mencapai 91.412 orang. Para mahasiswa tersebut memiliki prestasi yang bagus. 85 persen di antaranya memiliki IPK di atas 2,75. Mahasiswa yang hadir pada acara tersebut akan dipilih yang luar biasa. Yaitu pertama, mereka yang memiliki IPK 4,0.
Di antara mereka ada juga mahasiswa yatim piatu dengan IPK 3,6. Di luar itu, adalah mahasiswa lain dengan bakat luar biasa di bidang seni, olahraga, pengembangan sains, menulis, dan pemenang kompetisi di tingkat nasional dan internasional.
"Termasuk mahasiswa yang diberikan afirmasi seperti dari Papua," ungkap pelaksana tugas Rektor Universitas Indonesia tersebut.