Kirab Pusaka dibungkus kain kuning. (Foto: Agus Zahid)
PanturaNews (Ponorogo) - Puncak Kegiatan Grebek Suro 1 Muharram 1414 H dimeriahkan Pemerintah Daerah (Pemda) Ponorogo, Jawa Timur, dengan kirab pusaka milik Bupati Pertama Ponorogo, Bethoro Katong yang juga pendiri kota reog itu.
Tiga pusaka masing-masing tumbak tunggul nogo, songsong tunggul wulung dan sabuk cinde puspita itu, Rabu sore 14 Nopember 2012, dikirab dari Makam Bethoro Katong, Kelurahan Setono menuju Kantor Pemkab Ponorogo, oleh petugas khusus dengan berjalan kaki sekitar 5 kilo meter.
Sore itu, ribuan masyarakat Ponorogo berbondong-bondong memadati sepanjang jalan yang dilalui itu, untuk menyaksikan pusaka yang dikeramatkan. Mereka juga menyaksikan dan berusaha menyalami para pemimpinya. Rahmat, salah satu warga, mengaku tak mau melepaskan moment itu, karena selain untuk mengenang sejarah berdirinya Ponorogo, juga dapat melihat secara langsung para pimpinan dan pembesar di Pemda Ponorogo.
"Setiap tahun kami selalu menyaksikan moment ini, saya kira semua masyarakat Ponorogo juga ingin berhikmat, mereka juga banyak yang tidak pulang (bermalam-red) di alun-alun untuk mengikuti doa bersama," terangnya.
Menyertai pasukan pembawa pusaka, sejumlah pejabat penting seperti Bupati Ponorogo, H Amin MH, Wakil Bupati Yuni Widyaningsih SH, Ketua DPRD, Kapolres, Kajari dan pejabat lainya berkendaraan delman menyertai pasukan pembawa pusaka hingga ke pendapa.
Sayang dua delman yang seharusnya ditumpangi pimpinan dewan terlihat kosong alias tak berpenumpang, sehingga sempat menjadi perhatian warga. Salah satu kusir mengatakan, pimpinan dewan yang seharusnya ikut dalam kirab pusaka itu tidak hadir. "Kosong mas, orangnya (Salah satu pimpinan dewan- red) tidak datang," ucapnya sembari memacu kuda.
Bupati Ponorogo, H Amin berharap kegiatan tersebut agar dilestarikan dan mampu membawa dampak positif bagi masyarakat. Berdasarkan pantauan PanturaNews, moment yang sebenarnya sakral itu nampak dimanfaatkan oleh sebagian wira usahawan untuk kepentingan bisnis, seperti menawarkan produk usahanya dan lain-lain, mereka menyertai barisan tersebut sehingga terkesan mengalahkan misi kesakralanya, dan kesanya seperti pawai atau karnafal, meski mereka berada di barisan paling belakang.