Keluarga korban gempa Jepang terima santunan. Inzet: Tony Setiawan (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Keluarga Tony Setiawan, korban gempa dan tsunami Jepang, asal warga Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mendapat santunan dari pemirsa melalui Satu Untuk Negeri TV One, Jumat 23 Desember 2011 siang.
Santunan yang diberikan dalam bentuk asuransi tersebut, diserahkan langsung secara simbolis oleh Bendahara Yayasan Satu Untuk Negeri TV One, Iswan di kediamannya Jalan Cemara Nomor 362 RT 02, RW 04 Desa Tanjung.
Kepada PanturaNews, Iswan, mengatakan santunan tersebut diberikan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gempa dan tsunami Japang pada 11 Maret 2011 lalu.
Dana yang terkumpul dari pemirsa melalui Satu Untuk Negeri TV One sebesar Rp 1.288.000.000, untuk dibagikan kepada empat ahli waris dari WNI yang menjadi korban gempa dan tsunami tersebut. Salah satunya adalah Tony Setiawan yang merupakan anak dari Nur Hayati.
Menurut Irwan, nama korban tersebut didapatkan dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia (RI). Adapun nilai bantuan yang diberikan kepada keluarga Tony Setiawan, yaitu sebesar Rp 322 juta. Dana santunan tersebut dibagikan dalam bentuk program dana pensiun seumur hidup (anuitas) asuransi untuk ahli waris (orang tua).
Selain itu untuk WNI korban yang sudah menikah diberikan dalam bentuk asuransi pendidikan dan kesehatan untuk anaknya.
"Sementara untuk keluarga korban Tony Setiawan, mendapatkan program dana pensiun seumur hidup (anuitas) asuransi," terang Iswan.
Orang tua Tony Setiawan, Nur Hidayati (53), saat dikonfirmasi mengatakan, hingga kini pihak keluarga masih mengalami trauma atas kabar yang menimpa anaknya. Bahkan selama tiga bulan sejak kejadian gempa dan tsunami Jepang, dia tidak bisa tidur dan makan kerena memikirkan anak tulang punggung keluarganya itu.
"Selama tiga bulan itu, saya terus terang tidak bisa tidur dan makan karena anak kesayangan nomor dua ini, menjadi tulang punggung keluarga," ujar Nur Hayati didampingi suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Sebelumnya, lanjut Nur Hayati, sejak kejadian tersebut, pihaknya meyakini kalau anaknya masih hidup dan selamat. Bahkan saat itu, keluarga hingga kini masih menunggu kepastian kabar anaknya tersebut.
Dia menjelaskan, anaknya itu berangkat bekerja menjadi ABK di kapal ikan berbendera Jepang pada Agustus 2010, melalui perusahaan penyalur tenaga kerja PT Jangkar, Jakarta. Terakhir kalinya keluarga berkomunikasi dengan Tony Setiawan pada 9 Maret 2011.
Diakhir pembicaraan, pihaknya mengucapkan banyak terimakasih atas santunan yang diberikan dari pemirsa melalui Satu Untuk Negeri TV One.