GEMPA bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA. Pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 30 kilometer di timur laut Kabupaten Nagekeo, NTT. Setelah gempa utama, aktivitas seismik masih terus berlangsung sehingga masyarakat tetap berada dalam situasi rentan.
Dalam konferensi pers BNPB pada Jumat, 21 Agustus 2026, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa hingga saat itu telah terjadi 4.258 kali gempa susulan.
BMKG mencatat gempa susulan terbesar berkekuatan magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1. Sebanyak 118 gempa susulan masih dirasakan oleh masyarakat.
BNPB juga memperbarui data dampak bencana. Hingga 21 Agustus, tercatat 83 orang meninggal dunia, 986 orang luka-luka, 110.785 orang mengungsi, dan 44.946 unit rumah mengalami kerusakan.
Data tersebut menunjukkan bahwa gempa NTT bukan peristiwa yang selesai setelah gempa utama berlalu. Gempa susulan yang masih terjadi memperpanjang ketidakpastian bagi masyarakat, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal atau harus bertahan di lokasi pengungsian.
Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan terhadap evakuasi, bantuan pangan, layanan kesehatan, air bersih, dan tempat tinggal sementara terus meningkat.
Pemerintah terus meningkatkan distribusi bantuan ke wilayah terdampak. Pada tanggal 21 Agustus, sebanyak 65 ton bantuan kembali dikirim, terdiri atas 20 ton melalui Maumere dan 45 ton melalui Labuan Bajo.
Dengan demikian, total bantuan yang didistribusikan sejak 15 hingga 21 Agustus mencapai 776 ton. Bantuan tersebut mencakup makanan, minuman, tenda, perlengkapan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Pemenuhan kebutuhan dasar juga dilakukan melalui distribusi air bersih dan penguatan layanan kesehatan. Pemerintah turut mengirim kapal bantuan rumah sakit untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis. Namun, besarnya jumlah bantuan yang dikirim belum tentu menunjukkan bahwa bantuan telah diterima secara merata oleh seluruh warga terdampak.
Masih terdapat laporan mengenai masyarakat yang mengalami keterbatasan bantuan. Salah satu unggahan akun X @komisarisnetzen pada 21 Agustus memperlihatkan seorang warga menunjukkan bantuan yang diterima untuk satu RT berisi sekitar 30 kepala keluarga, yaitu seperempat liter minyak, 15 kilogram beras, 10 butir telur, dan satu dus mi instan.
Meskipun video ini hanya merepresentasikan kondisi di satu wilayah, isinya memperlihatkan bahwa besarnya bantuan yang dikirim secara keseluruhan belum tentu mencerminkan kecukupan bantuan yang diterima setiap kelompok masyarakat.
Dilansir dari Tempo, puluhan warga Desa Ladur, Kecamatan Cibal, dilaporkan mencegat kendaraan pengangkut bantuan logistik karena mengaku belum menerima bantuan sejak gempa pertama terjadi.
“Pemerintah juga belum pernah meninjau kondisi kami. Kami merasa dianaktirikan,” kata perwakilan warga, Hironimus Yance, kepada Tempo di lokasi, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kondisi serupa juga terlihat di Desa Bangka Arus. Warga harus membangun tenda darurat secara swadaya dengan memanfaatkan terpal penjemur hasil pertanian dan karung bekas. Situasi semakin sulit karena hujan masih turun dan gempa susulan terus terjadi, sehingga masyarakat harus bertahan di tempat tinggal yang tidak layak.
Berbagai kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun bantuan terus didistribusikan, masih terdapat warga yang menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar di tingkat lokal.
Karena itu, persoalan penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan jumlah bantuan yang tersedia. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa data penerima akurat, jalur distribusi berfungsi, dan bantuan sampai kepada kelompok yang paling membutuhkan. Menanggapi hal itu, BNPB menyatakan telah mendata masyarakat yang melaporkan belum menerima bantuan.
“Kami menerima informasi mengenai kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Informasi tersebut menjadi dasar dalam mendistribusikan bantuan hingga ke titik akhir,” kata Berton kepada media dalam konferensi pers, Sabtu, 21 Agustus 2026.
Kehadiran pemerintah di lapangan terlihat melalui kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming ke sejumlah wilayah terdampak. Ia mengunjungi pos pengungsian dan bertemu langsung dengan masyarakat bersama jajaran pemerintah terkait. Kunjungan tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk memantau kondisi warga secara langsung dan memastikan penanganan berjalan di tingkat daerah.
Namun, kehadiran pejabat tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan respons negara. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat memperoleh bantuan secara cepat, layanan kesehatan dapat diakses, dan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Perhatian publik juga tertuju pada rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Flores pada 22 Agustus. Berdasarkan laporan Kompas.com, kunjungan tersebut kemudian ditunda dan direncanakan berlangsung pada Senin atau Selasa.
Perubahan jadwal ini menambah dinamika dalam penanganan bencana di NTT. Kehadiran Presiden di lokasi bencana dapat menunjukkan perhatian langsung terhadap masyarakat, tetapi penilaian terhadap penanganan bencana tetap perlu melihat kondisi di lapangan secara keseluruhan.
Gempa NTT juga menarik perhatian dari sejumlah negara yang menawarkan bantuan, seperti Cina, Iran, Singapura, hingga Korea Selatan. Meski demikian, pemerintah Indonesia menyatakan belum membuka bantuan internasional karena menilai kapasitas nasional masih mampu menangani situasi secara mandiri.
Keputusan tersebut tidak secara otomatis menunjukkan kegagalan pemerintah. Setiap negara memiliki kewenangan untuk menentukan bentuk bantuan yang dibutuhkan dan tingkat keterlibatan pihak luar. Namun, keputusan itu perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.
Apabila jumlah pengungsi terus meningkat, kebutuhan dasar semakin besar, dan distribusi bantuan masih menghadapi kendala, bantuan internasional dapat dipertimbangkan sebagai salah satu cara untuk memperkuat kapasitas penanganan. Menerima bantuan dari luar tidak selalu berarti negara kehilangan kemandirian.
Dalam situasi tertentu, hal itu justru dapat menjadi langkah pragmatis untuk membantu mempercepat pemulihan masyarakat. Namun, bantuan internasional bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan bencana.
Pada akhirnya, tantangan dalam penanganan gempa NTT tidak hanya terletak pada kebijakan yang dibuat di tingkat pusat, tetapi juga pada bagaimana kebijakan tersebut diterapkan di lapangan. Kondisi yang dihadapi masyarakat menunjukkan bahwa masih ada hal yang perlu diperbaiki dalam koordinasi dan penanganan bencana.
Karena itu, pemerintah perlu terus memperkuat koordinasi antara pusat dan daerah, memperbaiki pendataan penerima bantuan, serta memastikan informasi mengenai penanganan bencana dapat diakses masyarakat.
Respons negara pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari jumlah bantuan yang dikirim, tetapi juga dari sejauh mana bantuan dan penanganan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat terdampak.
(Referensi: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2026, 15 Agustus). Gempa Bumi M 7,7 – 30 km Timur Laut Mbay-Nagekeo-NTT. https://www.bmkg.go.id/gempabumi/berpotensi-tsunami/20260815050954. -BBC News Indonesia. (2026). Pemerintah Indonesia tolak pertolongan dari negara lain walau 'banyak korban gempa NTT belum terima bantuan'. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cy07ez0dq0qo. -Komisaris Netizen [@komisarisnetzen]. (2026, 21 Agustus). di NTT ada warga yang mengucapkan terima kasih kepada presiden prabowo atas bantuan yang mereka terima… [Video]. X. https://x.com/komisarisnetzen/status/2090622585444925461?s=61
Kompas.com. (2026, 22 Agustus). Prabowo Batal Tinjau Korban Gempa Flores Hari ini, Gubernur NTT: Senin atau Selasa. https://regional.kompas.com/read/2026/08/22/133712078/prabowo-batal-tinjau-korban-gempa-flores-hari-ini-gubernur-ntt-diundur. -Metro TV. (2026, 21 Agustus). [FULL] BNPB Update Penanganan Pasca Gempa Bumi di NTT [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/live/0DIMkvScms0?si=mVoobRAVDUfry532. -Tempo.co. (2026, 19 Agustus). Belum Terima Bantuan, Warga Ladur NTT Cegat Mobil Baznas. https://www.tempo.co/politik/belum-terima-bantuan-warga-ladur-ntt-cegat-mobil-baznas-2282927
Sumber foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf (via CNN Indonesia). -Tempo/Hendrik Yaputra. -Setwapres (Sekretariat Wakil Presiden). -Bidang Komunikasi Kebencanaan/Apri Setiawan (BNPB)