PERMASALAHAN bullying di lingkungan sekolah tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi telah menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian serius di Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan bahwa praktik perundungan, baik secara fisik, verbal, maupun sosial, masih kerap dialami pelajar di jenjang pendidikan dasar hingga menengah.
Secara nasional, survei pendidikan mengungkap bahwa perundungan di sekolah memiliki korelasi kuat dengan gangguan psikologis, di mana siswa yang menjadi korban memiliki peluang lebih tinggi mengalami kecemasan, stres, dan isolasi sosial dibanding yang tidak mengalaminya.
Berangkat dari fenomena tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, memperluas program anti‑bullying yang awalnya dilaksanakan di SD Negeri Taraban 05, Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.
Pada semester ini, tim mahasiswa KKN memutuskan untuk melaksanakan gerakan anti‑bullying menyeluruh di seluruh sekolah dasar desa, termasuk enam SD dan satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Desa Taraban.
Anti‑Bullying menyeluruh di 7 Sekolah: Program ini resmi diluncurkan dengan rangkaian kegiatan edukasi yang dirancang khusus untuk anak usia sekolah dasar. Kegiatan mencakup sesi diskusi, permainan edukatif, simulasi situasi perundungan, serta dialog terbuka antara siswa, guru, dan fasilitator.
Tujuannya adalah tidak hanya memahami apa itu bullying, tetapi juga menumbuhkan empati, rasa saling menghormati, serta keberanian untuk melapor apabila mengalami atau menyaksikan perundungan.
Salah satu narasumber dari tim KKN menyampaikan, “Bullying bukan sekadar masalah individu, tetapi masalah budaya sekolah yang harus dicegah bersama. Edukasi harus dilakukan secara menyeluruh agar seluruh siswa di Desa Taraban memiliki bekal pemahaman yang sama.”
Tidak hanya siswa yang menjadi fokus, program ini juga melibatkan guru dan orang tua. Materi dibawakan dengan pendekatan yang mudah dipahami, serta relevan dengan situasi sekolah dasar.
Guru diberikan panduan untuk mengidentifikasi tanda‑tanda perundungan dan strategi menangani konflik antar siswa, sementara orang tua diajak memperkuat komunikasi keluarga dalam mencegah perilaku negatif di rumah dan sekolah.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya aman bagi siswa, tetapi juga menjadi ruang belajar yang nyaman dan produktif secara emosional.
Dampak dan Harapan: Melalui program anti‑bullying yang menyeluruh ini, tim KKN Universitas Peradaban berharap dapat membangun budaya sekolah ramah anak di seluruh lingkungan pendidikan dasar Desa Taraban.
“Kami ingin anak‑anak di Taraban tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan emosional yang baik. Pencegahan bullying sejak dini adalah bagian penting dari pendidikan karakter itu sendiri,” ujar salah satu guru yang terlibat dalam kegiatan.
Program ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat setempat dapat menghasilkan dampak positif yang nyata. Ke depan, tim KKN berharap program ini terus dilanjutkan oleh sekolah dan orang tua untuk memperkuat budaya saling menghargai di generasi muda.
Tim Kelompok 16 KKN UPB di Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes:
Ani Lestari (Keguruan Dan Ilmu Pendidikan), Iwan Muzaki (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), Fadillatul Umamah (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), Saniatul Khoeriyah (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).
Bilqist Fatikhatul Safitri (Fakultas Sains dan Teknologi), Ahmad Faozi (Fakultas Sains dan Teknologi), Ilham Nur Fajar (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Rindang Cahya Kemilau (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Ivan Widodo (Fakultas Ekonomi dan Bisnis).