PanturaNews (Brebes) - Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Brebes meminta para orang tua tidak salah kaprah dalam merespons perubahan perilaku anak remaja mereka.
Perubahan emosi yang drastis pada masa pubertas sering kali disalahartikan sebagai bentuk pembangkangan, padahal merupakan proses biologis yang normal.
Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Parenting Keluarga dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba yang digelar di Pendopo Kabupaten Brebes, Kamis (18/6).
Dokter spesialis anak, dr. Vina Rosalia, Sp.A., menjelaskan bahwa naik turunnya emosi remaja dipicu oleh gejolak hormonal di dalam tubuh mereka. Ia menekankan pentingnya mengubah sudut pandang orang tua dalam melihat perubahan sikap anak.
"Emosi yang naik turun saat pubertas adalah hal yang normal. Orang tua jangan langsung menganggap perubahan perilaku anak sebagai bentuk pembangkangan," kata dr. Vina.
Menurut dr. Vina, kehadiran orang tua yang mau mendengarkan tanpa menghakimi justru akan menjadi kunci agar remaja mau terbuka mengenai masalah yang mereka hadapi.
Jika keran komunikasi di rumah tersumbat, remaja dikhawatirkan mencari pelarian yang salah ke lingkungan luar yang tidak sehat.
Ketua Pokja I TP PKK Kabupaten Brebes, Lilik Meidiawati, menegaskan bahwa komunikasi yang hangat di dalam keluarga adalah benteng utama anak dari pengaruh negatif, termasuk bahaya narkoba.
Membacakan sambutan Ketua TP PKK Brebes, Lilik menyebut fase remaja memerlukan pendampingan ekstra karena emosi mereka yang masih labil.
"Masa pubertas adalah fase yang tidak mudah. Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting. Rumah harus menjadi tempat paling aman untuk bercerita, tempat yang penuh penerimaan, bukan penghakiman," tegas Lilik.
Kekhawatiran PKK bukan tanpa alasan. Pada kesempatan yang sama, Kepala BNNK Tegal, Kunarto, memaparkan bahwa fase labil dan rasa ingin tahu yang tinggi pada masa pubertas inilah yang kerap dimanfaatkan oleh lingkaran pengedar narkoba.
Remaja menjadi kelompok yang sangat rentan karena berada pada fase pencarian jati diri dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan.
"Jangan pernah mencoba narkoba meskipun hanya sekali. Banyak kasus diawali dari rasa ingin tahu dan ajakan teman. Generasi muda harus berani berkata tidak," ujar Kunarto.
Kunarto juga menyoroti bahaya lain yang kini marak di kalangan pelajar, yaitu penyalahgunaan obat-obatan tertentu tanpa resep dokter yang dampaknya fatal bagi organ tubuh dan fungsi otak.