DI sudut Desa Pagojengan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, kepulan uap panas membumbung tinggi dari sebuah dapur sederhana. Aroma gurih yang khas menyeruak, memicu selera siapa pun yang melintas.
Di sana, di balik tumpukan mie berwarna kuning cerah yang dikenal warga sebagai Mie Konyol, tersimpan kisah perjuangan yang menguras keringat dan air mata.
Bagi warga lokal, Mie Konyol bukan sekadar kudapan pengganjal perut. Mie berbahan dasar tepung pati singkong (kanji) ini, adalah warisan turun-temurun. Namun, di balik nama "Konyol" yang terdengar jenaka, ada realita hidup para pembuatnya yang penuh dengan dinamika "haru biru".
Nama "Konyol" sebenarnya merujuk pada tekstur mie yang sangat kenyal dan licin. Saking kenyalnya, mie ini seringkali sulit dijepit sumpit atau sendok, seolah-olah sedang "bercanda" atau "konyol" di dalam piring.
Namun, bagi para perajin di Desa Pagojengan, kekenyalan mi tersebut adalah hasil dari proses fisik yang berat. Mereka harus mengaduk adonan pati yang kental di atas api besar, sebuah pekerjaan yang menuntut stamina prima dan ketahanan terhadap panas.
Menelusuri keseharian pembuat Mie Konyol adalah menyaksikan sebuah ketabahan. Tidak hanya mengelurkan banyak tenaga untuk memproduksi mie konyol, tetapi juga persaingan yang sehat dan tidakpun menjadi masalah yang cukup membebani, di samping itu mereka juga harus bertahan menjaga perekonomian dan sekaligus warisan turun-temurun.
Zaman yang semakin modern juga menjadi masalah baru, sudah banyak warga yang memproduksi mie konyol dibantu dengan tenaga mesin, hal ini menjadi produser mie konyol yang menggunakan sistem manual menjadi semakin tertinggal.
Dan dengan skala produksi yang jauh lebih sedikit dibanding menggunakan mesin, para warga yang memproduksi secara manual semakin terseok-seok.
Proses pengukusan tradisional menggunakan kayu bakar membuat mata para pekerja sering memerah karena asap serta dalam pengeringan, mie konyol sangat bergantung pada sinar matahari untuk proses pengeringan awal. Jika hujan turun berhari-hari, produksi terhambat dan dapur terpaksa berhenti mengepul.
Meski didera kesulitan, ada momen haru biru yang membuat mereka tetap bertahan. Haru melihat bagaimana Mie Konyol hasil keringat mereka menjadi hidangan wajib dalam acara hajatan, syukuran, hingga camilan sore keluarga.
Bagi mereka, bertahan memproduksi mi ini adalah cara merawat identitas Desa Pagojengan. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat anak-anak mereka bisa bersekolah dari hasil berjualan mi kuning yang kenyal ini.
Semangat gotong royong antar perajin juga menjadi penguat; mereka saling berbagi kayu bakar atau membantu menjemur jika salah satu tetangga sedang kesulitan.
Tim Kelompok 12 KKN Mahasiswa Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes, di Desa Pagojengan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah:
Khoerul Fuadhi (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi PGSD), Seli Fitriani (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi PGSD), Nabilla Defira Putri Maisaan (Fakultas Sains dan Teknologi, Prodi Farmasi).
Risma Nur Qolfiah (Fakultas Sains dan Teknologi, Prodi Farmasi), Retno Mulyani (Fakultas Sains dan Teknologi, Prodi Teknik Informatika). Endah Khoerunisa ((Fakultas Sains dan Teknologi, Prodi Teknik Informatika), Naufal Muhammad Husen (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen).
Nadya Qonita Rahma (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen), M. Hanki Alhan (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Prodi Ilmu Komunikasi), Isma Nur Fitriani (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi PBIN).