PanturaNews (Tegal) – Nama Muhadi Setiabudi sekarang dikenal sebagai orang kaya raya pemilik Dedy Jaya Group. Tapi siapa sangka, dulu ia harus berjuang dari nol banget.
Sebelum punya hotel dan bus banyak, Muhadi adalah seorang kondektur bus yang tiap hari akrab dengan debu jalanan.
Modal Nekat dari Perhiasan Istri
Perjalanan suksesnya dimulai dengan cara yang mengharukan. Waktu itu, Muhadi sama sekali tidak punya modal. Satu-satunya harta yang ada cuma perhiasan milik istrinya. Demi mendukung mimpi suami, sang istri rela menjual gelang dan kalungnya seharga Rp 3 juta untuk modal usaha bangunan.
Karena belum punya kendaraan sendiri, Muhadi terpaksa meminjam motor Vespa milik kakaknya untuk mengangkut kayu dan bambu.
"Orang-orang desa lihat saya naik Vespa dikiranya sudah sukses, padahal itu motor pinjaman buat kerja keras," kenang Muhadi sambil tersenyum dalam acara ramah tamah bareng wartawan dan aktivis LSM di Grand Dian Hotel Guci Tegal, Sabtu 24 Januari 2026 malam.
Sukses Cepat Malah Dituduh "Pesugihan"
Berkat kerja kerasnya yang luar biasa, bisnis Muhadi maju pesat. Di usia 25 tahun, ia sudah punya banyak sawah, tambak, bahkan 5 mobil. Karena suksesnya dianggap terlalu cepat dan tidak masuk akal bagi orang zaman dulu, mulailah muncul gosip miring.
Banyak tetangga dan orang-orang berbisik kalau Muhadi sukses karena pakai "pesugihan" alias ilmu hitam. Padahal, rahasianya cuma satu: kerja lebih keras dari orang lain dan insting bisnis yang tajam.
Membuktikan Lewat Prestasi
Muhadi tidak ambil pusing dengan omongan orang. Ia terus maju sampai akhirnya di tahun 1992, ia diundang ke Istana Negara oleh Presiden Soeharto sebagai Pemuda Pelopor Nasional.
Di sana, air mata Muhadi tumpah. Ia tidak menyangka anak desa yang dulunya kondektur dan cuma modal Vespa pinjaman bisa diakui oleh negara.
"Saya menangis di Istana. Gak nyangka anak desa yang belajar sendiri bisa sampai ke sana," ucapnya.
Sekarang, semua orang tahu bahwa "pesugihan" Muhadi adalah doa istri dan semangat pantang menyerah. Ia membuktikan kalau jadi orang sukses itu tidak perlu cara instan, tapi perlu kerja keras yang konsisten.