Minggu, 11/01/2026, 15:32:51
Pengelolaan Sampah Terpadu Di TPA BLE Banyumas: Partisipasi Masyarakat, Alur, Dan Sistem Pengelolaan
OLEH: WAHYU EKA NURHAFIDOH
.

KABUPATEN Banyumas terus berinovasi dalam pengelolaan sampah melalui Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE) Banyumas. Fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat pembuangan akhir, tetapi juga pusat pemilahan, pengolahan, dan edukasi masyarakat untuk mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

Mayoritas sampah yang masuk ke TPA BLE berasal dari rumah tangga. Idealnya, masyarakat memilah sampah di tingkat permukiman, namun keterbatasan waktu dan aktivitas sehari-hari sering membuat pemilahan tidak optimal. Oleh karena itu, pengelolaan awal diarahkan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) sebelum diangkut ke TPA BLE.

Di TPA BLE, sistem retribusi diterapkan untuk mendorong pemilahan awal: sampah utuh atau campuran yang belum dapat diolah dikenakan biaya Rp100.000 per ton, sedangkan residu seperti popok bekas atau pakaian dikenakan Rp50.000 per ton.

Sementara itu, bahan Refuse Derived Fuel (RDF) yang berasal dari plastik dan bursam organik tidak dikenakan karena telah dipilah sebelumnya. Adapun tahapan pengolahan sampah di TPA BLE Banyumas meliputi: (1) pemilahan awal, (2) pencacahan, (3) pengolahan RDF, (4) pengeringan, (5) pemanfaatan akhir.

Tahap pertama, pemilahan awal, dilakukan di tingkat masyarakat, di mana sampah rumah tangga dipilah oleh KSM atau di TPST sebelum diangkut ke TPA BLE. “Sampah yang masuk biasanya sudah dipilah, tapi kami tetap memilah ulang untuk memastikan klasifikasi yang tepat,” ujar Wasi Jatmiko, perwakilan pengelola TPA BLE.

Tahap kedua, pencacahan, dimulai setelah sampah tiba di TPA BLE. Residu dipisahkan dari aliran sampah utama dan kemudian diproses melalui mesin pencacah (Gibrik), menghasilkan bursam halus yang dapat digunakan sebagai media atau pakan maggot, serta plastik kasar yang kemudian masuk ke mesin PP2000 untuk pengolahan lebih lanjut. “Mesin ini membantu mengurangi volume sampah plastik dan menyiapkannya untuk langkah selanjutnya,” ujar Wasi Jatmiko, perwakilan pengelola TPA BLE.

Tahap ketiga, pengolahan RDF, dilakukan pada plastik yang telah dicacah. Plastik yang dicacah dijadikan RDF, bahan bakar alternatif untuk industri semen. Sebelum dikirim ke pabrik mitra, bahan dijemur agar kadar airnya turun dan kualitas RDF tetap terjaga.

Tahap keempat, pengeringan, dilakukan secara manual di bawah sinar matahari. Proses ini penting untuk memastikan bahan cukup kering sehingga kualitas RDF tetap terjaga dan siap untuk pemanfaatan akhir.

Tahap kelima, pemanfaatan akhir, merupakan proses pemanfaatan plastik olahan untuk produk lokal seperti paving block, genteng plastik, dan produk lainnya melalui kerja sama dengan pabrik mitra. Produk ini menambah nilai ekonomi sekaligus mengurangi volume sampah yang harus ditimbun.

Partisipasi aktif masyarakat dalam pemilahan awal meningkatkan efisiensi pengolahan dan menurunkan timbulan sampah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah merupakan proses berkelanjutan, mulai dari perilaku masyarakat hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita