Rabu, 07/01/2026, 15:53:51
Peluncuran Warisan Luka: KST Menyuarakan Monolog Tegalan dari Ingatan yang Terluka
OLEH: IWANG NIRWANA
.

DI tengah arus kesenian yang kerap bergantung pada sokongan anggaran, Komunitas Sastrawan Tegalan (KST) justru memilih berjalan dengan kaki sendiri. Sikap cibaku -mandiri, ngeyel, dan konsisten- menjadi napas yang terus menghidupi langkah mereka dalam merawat sastra Tegalan, dari panggung ke panggung.

Jejak itu kembali terlihat pada 26 November 2025, saat KST memperingati Hari Ulang Tahun ke-31 melalui pembacaan puisi berbahasa Tegalan. Selang sebulan kemudian, tepatnya 27 Desember 2025, KST kembali menggelar hajat budaya Sunat Poci, menampilkan enam monolog Tegalan yang dibawakan enam seniman lintas daerah: Tegal, Slawi, dan Brebes.

Belum hilang gema dua perhelatan tersebut di benak para pegiat seni, KST kembali menyiapkan ruang temu berikutnya: peluncuran buku antologi monolog Tegalan Warisan Luka karya Lanang Setiawan. Peluncuran ini akan dirayakan dengan pembacaan monolog-monolog pilihan yang termuat di dalam buku.

Empat seniman dijadwalkan naik panggung untuk membawakan monolog, yakni Iwang Nirwana, Apas Khafasi, Ipuk NM Nur, dan Retno Kusrini.

Ketua Panitia Pentas, Endhy Kepanjen, menyampaikan bahwa acara akan dilangsungkan pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, bertempat di Kedai Kopi PDKT.ind, Jalan Arjuna, Slerok, Kota Tegal.

Menurut Endhy, Warisan Luka memuat 13 naskah monolog karya Lanang Setiawan dan memiliki arti penting bagi perjalanan sastra daerah.

“Buku ini bisa dibilang langkah awal yang jarang terjadi. Sepengetahuan saya, belum ada buku monolog Tegalan yang diterbitkan oleh seniman Tegal sendiri. Ini bukan sekadar buku, tapi penanda sejarah dalam penerbitan sastra, apalagi yang memakai bahasa lokal. Momen seperti ini jelas laka-laka,” ujarnya.

Sementara itu, Lanang Setiawan menuturkan bahwa Warisan Luka lahir bukan dari keinginan untuk terlihat pandai, juga bukan demi popularitas. Buku ini justru berangkat dari kegelisahan yang tak kunjung reda.

“Enyong terus diganggu pertanyaan yang ora entek-entek: kenapa sejarah sering ninggalna luka, dan kenapa luka itu malah diwarisna saka generasi ke generasi?” tuturnya.

Ia mengaitkan luka-luka tersebut dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari mitos Roro Jonggrang hingga kisah para gladiator yang dipaksa saling membunuh di amfiteater Colosseum, Italia.

“Luka dalam Warisan Luka ora melulu soal darah. Ana luka perempuan sing suarané dirampas. Ana uga luka wong cilik sing uripe diremuk déning kekuasaan sing semena-mena,” katanya.

Peluncuran Warisan Luka menjadi penanda bahwa sastra Tegalan tidak sekadar bertahan, tetapi terus mencari cara untuk berbicara. Melalui monolog, luka-luka yang kerap disembunyikan sejarah dihadirkan kembali ke ruang publik. Dari ruang sederhana, dengan bahasa lokal, KST menegaskan satu hal: sastra tetap menjadi jalan untuk melawan lupa.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita