Selasa, 11/11/2025, 17:58:47
Dari Sanggar ke Panggung Sejarah, Bougenville dan Asya Tulis Kisah Melalui Gerak Tari
Gadis Penari yang Mengalungkan Selendang Kepada Pamor Wicaksono
LAPORAN TAKWO HERIYANTO

PanturaNews (Brebes) — Langkah kakinya teratur, tangannya bergerak lembut mengikuti irama gamelan Sunda yang mengalun di aula tua eks Rumah Mbesaran Pabrik Gula (PG) Jatibarang, Kabupaten Brebes, Senin (10/11/2025) sore.

Di tengah suasana peringatan Hari Pahlawan, seorang gadis tampil memikat membawakan tarian Mojang Priangan.

Dia adalah Bougenville Najwa Putri Azzahra, guru kelas 2 SD Kedawung 1 Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes dibawah binaan Kepala Sekolah M.Abdul Malik.

Dengan busana adat berwarna merah muda dan selendang lembut di tangan, Bougenville yang akrab disapa Ugen ini, menari bersama adiknya, Asya Putri Kirani, yang duduk dibabgju kelas X SMA Neger1 Ketanggungan,. Kabupaten Brebes.

Gerakan mereka anggun, ekspresif, dan memancarkan aura keindahan khas budaya Sunda.

Namun, di balik lenggak-lenggoknya yang menawan, tersimpan kisah penuh ketulusan. Sejak usia tujuh tahun, Ugen telah mencintai seni tari. Kecintaannya itu tumbuh berkat dorongan dari kedua orang tuanya yang juga seorang musisi. Terutama sang ayah, almarhum Hartadi Eko Budiono, yang sebelumnya juga seorang guru SMP Negeri 1 Ketanggungan untuk menanamkan nilai kerja keras dan ketekunan.

“Ayah saat masih hidup selalu bilang, kalau melakukan sesuatu harus dengan hati dan tersenyum,” ujar Ugen, usai penampilan.

Kini, di bawah bimbingan guru seni budaya, Puput Putriaji, Ugen terus mengasah bakatnya. Ia tak hanya menari di sekolah, tetapi juga bergabung dengan Sanggar Ongs Family di Desa Karangmalang, Ketanggungan, sebuah komunitas seni yang berdiri sejak 2017 dan dipimpin oleh Sholikhah Ongs.

Seiring perjalanannya, Ugen menjelma menjadi soerang gadis penari muda berbakat dari Brebes. Ia pernah menembus 10 besar ajang tari tingkat provinsi Jawa Tengah dan kerap tampil di berbagai kegiatan kebudayaan.

Meski begitu, gadis berusia 20 tahun ini tak ingin berhenti di panggung. Ia bermimpi menjadi guru tari agar bisa menularkan semangat mencintai budaya kepada anak-anak di desa dan sekolah serta lingkungan sekitar.

“Saya ingin anak-anak tahu bahwa tari tradisional itu indah. Saya ingin berbagi ilmu, seperti guru-guru saya dulu, termasuk ayah saya,” katanya tersenyum.

Di sela waktu mengajar sekolah, Ugen kini rutin melatih anak-anak ekstrakurikuler di MA Ma’arif Ketanggungan. Ia mengajarkan dasar-dasar tari dan makna di balik setiap gerakan.

Menurut Sholikhah Ongs, kiprah Bougenville menjadi contoh nyata bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari hal kecil.

“Dia bukan hanya penari yang berbakat, tapi juga punya empati dan dedikasi tinggi. Ia menari bukan untuk popularitas, tapi untuk menjaga warisan budaya,” ujar Sholikhah.

Dalam pementasan di Hari Pahlawan itu, Ugen menutup tarian dengan simbol penghormatan: mengalungkan selendang kepada Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, Pamor Wicaksono.

Pamor memuji semangat generasi muda seperti Ugen yang mampu memadukan seni dan nasionalisme.

“Gerakan mereka adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan sejarah. Seni seperti ini menyentuh hati, terutama di momen Hari Pahlawan,” kata Pamor yang juga anggota DPRD Brebes ini.

Sore itu, ketika tepuk tangan panjang menggema di aula PG Jatibarang, Ugen bersama adiknya Asya menunduk hormat. Ia tampak bahagia bukan hanya karena penampilannya diapresiasi, tetapi karena ia tahu, melalui tarian itu, ia telah menyalakan kembali semangat budaya di Indonesia.

“Saya menari untuk budaya kita,” ucapnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita