Sabtu, 30/08/2025, 00:31:34
Aksi Solidaritas Aliansi Tegal Raya dan Negara yang Tidak Pernah Belajar dari Sejarah
OLEH: TIM KOLEKTIF KANCA TEGAL
.

TEWASNYA driver ojek online, Affan Kurniawan, di Jakarta Pusat, Kamis 28 Agustus 2025 akibat dilindas kendaraan taktis Brimob, telah menyinggung nurani kolektif masyarakat Indonesia dan menjadi berita skala nasional yang banyak dibicarakan. Hal itu tentu kemudian memantik berbagai daerah untuk turun ke jalan sebagai sebuah sikap.

Satu hari setelah kabar duka itu merebak luas ke berbagai daerah, kota Tegal, pun mulai turut mengambil sikap. Sebuah aksi solidaritas atas nama Aliansi Tegal Raya Menggugat, menjadi momentum rakyat Tegal menempa keberaniannya untuk berani melempar protes atas ketidakadilan yang mengguncang kemanusiaan.

Pada Jumat dini hari (29/8/2025), sekitar pukul 19.00 WIB, berbagai elemen masyarakat Kota Tegal mulai turun ke jalan. Tidak hanya mahasiswa dan para driver ojek online, tetapi juga ada banyak pelajar dari berbagai sekolah Tegal turut bersimpati dengan turun ke jalan.

Awalnya, para massa aksi memadati jalanan di depan kantor Polres Tegal Kota. Namun, berdasarkan pengamatan, pada pukul 21.24 WIB massa aksi sudah berada di depan Gedung DPRD. “Suasana kian memanas ketika sekelompok massa membakar bagian depan Gedung DPRD,”.

Aksi solidaritas rakyat Tegal raya ini, menurut beberapa informasi dari massa aksi yang hadir, hingga pukul 22.00 WIB dikabarkan masih bertahan. “Kie esih maju mundur (ini masih maju mundur),” kata salah satu massa aksi yang enggan disebut namanya.

Menurut keterangan salah seorang rekan yang turun pun, ada beberapa massa yang berasal dari pelajar telah ditangkap oleh aparat kepolisian. “Ana bocah 3 sing kecekel, sijine wis dimetukena (ada tiga anak yang ditangkap, tapi satunya sudah dilepasin),” kata Ubed (sapaan akrabnya) salah satu massa yang terlibat di aksi demonstrasi kota Tegal.

Bercermin dari sejarah, fenomena protes di berbagai daerah yang sedang terjadi hingga hari ini adalah sebentuk pola yang sama dengan masa lalu; represifitas dan minimnya akuntabilitas alat negara seperti kepolisian dalam menangani jalannya unjuk rasa tidak pernah menemui titik baliknya untuk berbenah menjadi lebih baik.

Peristiwa-peristiwa sejarah besar di masa Orde Baru seperi penembakan mahasiswa Trisakti dan Tragedi Semanggi adalah pantulan ketidakbecusan negara dalam menjalankan tugasnya sebagai wadah yang memberi rasa nyaman, aman, dan damai kepada warga negaranya.

Pada hari ini (29/8/2025), imbas tewasnya driver ojek online di Jakarta Pusat (28/82025), yang telah menyemai kesadaran kolektif rakyat Indonesia untuk bergerak meminta keadilan, seharusnya dapat dilihat negara sebagai sebuah ganjaran sejarah. Ganjaran karena tidak pernah belajar dari masa lalu. Pola-pola represif struktural yang terus bermunculan dari zaman ke zaman adalah bukti bahwa negara tidak pernah belajar dari masa lalu.

Maka dari itu, kami dari Kolektif Kanca (Kawan Baca) Tegal, atas nama rakyat kota Tegal Raya, menyatakan sikap. Negara harus mulai berbenah dan berani untuk berkaca pada sejarah. Hentikan pelanggengan kekerasan oleh alat-alat negara dengan dalih menjaga stabilitas dan keamanan. Jalankan reformasi POLRI supaya tidak ada lagi rakyat Indonesia yang menjadi korban dari kebrutalan aparat negara. Hidup rakyat Indonesia!

(Tim Kolektif Kanca Tegal: Abdullah Azzam Al Mujahid (Mahasiswa Universitas Negeri Semarang-Unes), Yusuf Setiabudi, Zidny Ilman, dan Irfan Maulana)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita