Sabtu, 31/05/2025, 23:37:09
Pentingnya Kurikulum dalam Membangun Pendidikan Berkualitas
OLEH: HANA MEUTHIA MAULIDA
.

-

PENDIDIKAN yang bermutu tidak hanya dilihat dari seberapa besar kemampuan siswa dalam menghafal materi, tetapi juga dilihat dari sejauh mana mereka dapat berpikir kritis, memahami, dan berkembang sesuai dengan tantangan zaman. Di sinilah kurikulum menjadi penting, sebagai arah dan landasan yang menentukan mutu proses belajar mengajar.

Kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai daftar isi pelajaran, melainkan sebagai panduan menyeluruh yang mengatur tujuan, isi, dan metode pembelajaran. Seperti dijelaskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan cara pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Kemdikbud, 2003).

Sepanjang sejarahnya, kurikulum di Indonesia telah mengalami serangkaian transformasi. Kurikulum 1947, misalnya, difokuskan pada keterampilan dasar seperti membaca dan berhitung – yang mencerminkan kebutuhan pasca kemerdekaan (Anwar, 2019). Kemudian hadirlah Kurikulum 1975 yang berupaya menyajikan struktur yang lebih sistematis, meskipun hanya berfokus pada hafalan dan teori (Sukmadinata, 2020).

Perubahan mulai terasa ketika Kurikulum 2006 (KTSP) diterapkan. Sekolah diberi kesempatan untuk menyesuaikan kurikulum dengan kondisi setempat, bentuk fleksibilitas yang lebih bertanggung jawab (Mulyasa, 2018). Di sinilah muncul kesadaran bahwa pendidikan harus mampu merespon konteks sosial dan budaya siswa.

Kurikulum 2013 kemudian memperkenalkan integrasi pengetahuan dan keterampilan, serta pendidikan karakter yang lebih komprehensif (Kemdikbud, 2013). Namun perubahan terbesar terjadi melalui Kurikulum Merdeka. Kurikulum kami menempatkan siswa di pusat pembelajaran dan mendorong mereka untuk menjadi pembelajar aktif yang mampu berpikir kritis dan kreatif.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2022), Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan ruang eksplorasi bakat, fleksibilitas dalam belajar, dan adaptasi terhadap kebutuhan siswa.

Meskipun visi Kurikulum Merdeka sangat menjanjikan, namun pada kenyataannya tidak semudah membalikkan tangan. Banyak tantangan yang muncul, dari kesiapan guru hingga pembiayaan infrastruktur pendidikan.

Kemampuan guru untuk menerapkan pendekatan aktif dan terfokus kepada siswa belum stabil. Nurcahyo (2023) mencatat bahwa sebagian besar guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan metodologi interaktif yang sejalan dengan kurikulum Merdeka.

Di sisi lain, perbedaan fasilitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan juga menghambat keberhasilan penerapan kurikulum. Setiawan dan Putri (2021) menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap teknologi dan lingkungan belajar menjadi kendala utama di berbagai bidang. Ketimpangan ini membuat peluang belajar tidak selalu adil bagi semua siswa.

Lagipula, keberhasilan kurikulum sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, sekolah, dan guru. Laporan dari Center Of Education Studies (2023) menegaskan bahwa kesiapan guru dan dukungan infrastruktur pendidikan adalah dua kunci utama keberhasilan kurikulum di lapangan.

Membangun pendidikan yang bermutu bukanlah tugas yang dapat diselesaikan hanya dengan mengubah kurikulum. Keseriusan dibutuhkan dalam pelatihan guru, penyediaan fasilitas, dan evaluasi berkelanjutan.

Kurikulum hanyalah cetak biru. Tanpa implementasi yang kompeten dan dukungan yang memadai, perubahan akan berhenti begitu saja di atas kertas.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita