DEMAM Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, dan Aedes albopictus yang terinveksi virus dengue oleh penderita demam berdarah lainnya.
Di Indonesia, nyamuk Aedes aegypti betina yang dikenal dengan sebutan nyamuk demam berdarah, ciri-cirinya adalah tubuh dan dan kaki ditutupi sisik berwarna putih. Nyamuk ini biasanya aktif di daerah basah dan genangan air pada pagi dan sore hari. Gejala demam berdarah yang harus diwaspadai antara lain demam mendadak, sakit kepala, nyeri dibelakang mata, mual dan muntah, pendarahan seperti mimisan atau gigi berdarah, kulit merah, serta nyeri otot, tulang dan sendi.
DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di indonesia selama 47 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 terjadi peningkatan jumlah provinsi dan kabupaten/kota dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 34 provinsi dan 436 (85%) kabupaten/kota pada tahun 2015.
Peningkatan dan penyebaran kasus DBD tersebut dapat disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi, perkembangan wilayah perkotaan, perubahan iklim, perubahan kepadatan dan distribusi penduduk dan faktor epidemiologi lainnya yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. (Kementerian Kesehatan RI, 2016)
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya DBD, berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
-1. Kampanye Pendidikan: Mengadakan kampanye pendidikan tentang gejala, penyebaran, dan pencegahan demam berdarah melalui media massa, sosial, dan kegiatan komunitas.
-2. Pengajaran di Sekolah: Mengintegrasikan pelajaran tentang demam berdarah ke dalam kurikulum sekolah untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda.
-3. Sosialisasi di Puskesmas: Melakukan sosialisasi rutin di puskesmas dan tempat pelayanan kesehatan lainnya untuk memberikan informasi langsung kepada masyarakat.
-4. Penyebaran Materi Edukasi: Mendistribusikan materi edukasi seperti brosur, poster, dan pamflet tentang demam berdarah di tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, dan kantor pemerintah.
-5. Pelatihan bagi Petugas Kesehatan: Memberikan pelatihan kepada petugas kesehatan tentang pengenalan gejala demam berdarah, diagnosis, dan penanganannya.
-6. Kolaborasi dengan Media: Melibatkan media massa dalam menyebarkan informasi tentang demam berdarah melalui artikel, wawancara, dan siaran khusus.
-7. Menggalakkan Pembersihan Lingkungan: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan vektor penyakit demam berdarah.
-8. Pelatihan Penggunaan Insektisida: Memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang penggunaan insektisida secara aman dan efektif untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti di rumah dan lingkungan sekitar.
-9. Program Pemusnahan Sarang Nyamuk: Mengorganisir program pemusnahan sarang nyamuk secara massal di wilayah yang rentan terhadap penularan demam berdarah.
-10. Kerjasama dengan Organisasi Masyarakat: Melibatkan organisasi masyarakat seperti kelompok pemuda, kelompok ibu, dan organisasi keagamaan dalam kampanye kesadaran untuk mencapai jangkauan yang lebih luas di tingkat lokal.
-11. Demonstrasi Praktik Pencegahan: Mengadakan demonstrasi langsung tentang praktik pencegahan demam berdarah seperti menggunakan kelambu nyamuk, mengenakan pakaian tertutup, dan menghindari penumpukan air di tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk.
-12. Penelitian dan Informasi Terbaru: Menyebarkan informasi terbaru dari penelitian dan penemuan tentang demam berdarah kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang penyakit tersebut dan tindakan pencegahan yang efektif.
-13. Monitoring dan Evaluasi: Melakukan monitoring dan evaluasi secara teratur terhadap efektivitas program-program kesadaran masyarakat untuk menentukan keberhasilan dan melakukan perbaikan jika diperlukan.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya DBD merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit ini. Melalui edukasi, langkah-langkah pencegahan yang efektif, dan peran aktif pemerintah dan lembaga kesehatan, diharapkan dapat terbentuk budaya hidup sehat yang dapat melindungi masyarakat dari ancaman DBD. Hanya dengan kerjasama dan kesadaran bersama, kita dapat mengurangi beban penyakit DBD dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua.