ANAK dikatakan balita apabila berusia 12 bulan sampai dengan 59 bulan. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2014 menyatakan bahwa usia balita dikelompokkan menjadi tiga golongan yakni golongan bayi (0 – 2) tahun, golongan batita (2 – 3) tahun, golongan prasekolah (>3 – 5) tahun. Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang maka sering disebut golden age atau masa keemasan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sutomo dan Anggraini (2010) menyatakan bahwa anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai akhirnya berakhir masa remaja. Pertumbuhan didefinisikan sebagai bertambahnya jumlah sel dan ukurannya yang mengakibatkan balita bertambah besar tubuhnya secara keseluruhan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Supriasa (2012) menyatakan bahwa pada balita usia 3 - 5 tahun biasanya tiap tahun rata - rata tinggi badan bertambah sekitar 6 cm dan berat badan bertambah 2 kg. Kunci dari pertumbuhan balita yang sempurna yakni asupan gizi yang baik dan seimbang. Perkembangan pada balita 1-5 tahun dimulai dari usia 1 tahun biasanya mulai berjalan, mampu mengucapkan dua kata bermakna, mampu mengekspresi rasa marah, senang, dan malu. Perkembangan balita usia 2 tahun mulai bersosialisasi bermain dengan teman - teman, bisa naik turun tangga, mengerti dan dapat diberi perintah, dapat belajar makan sendiri.
Perkembangan balita usia 3 tahun dapat menyebutkan nama, mampu berlarian, bermain bersama teman - teman. Perkembangan balita usia 4-5 tahun sudah mulai sekolah, bisa berhitung dengan jari, dapat berinteraksi dengan teman-teman.
Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Adriani dan Wirjatmadi (2014) menyatakan bahwa keadaan gizi yang baik merupakan faktor penting mencapai derajat kesehatan optimal. Status gizi akan mempengaruhi kecerdasan, pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan nutrisi balita juga dipengaruhi oleh usia, besar tubuh, dan aktivitas.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Judarwanto (2009) menyatakan bahwa sulit makan atau kesulitan makan ialah dimana anak tidak mau atau menolak untuk makan atau mengalami kesulitan dalam mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar) yaitu dimulai membuka mulut tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.
Penelitian yang dilakukan oleh Zaviera (2008) menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab sulit makan yaitu yang pertama, hilangnya nafsu makan, nafsu makan merupakan keinginan mendapatkan jenis makanan tertentu untuk dimakan. Gejala hilangnya nafsu makan yaitu anak akan menutup mulutnya rapat-rapat lalu anak tidak mau makan sama sekali dan menolak makanan. Hilang nafsu makan juga bisa disebabkan oleh adanya gangguan pencernaan, penyakit, alergi makanan, dan lainnya. Yang kedua: Pengaruh Psikologis yaitu Rasa cemas, depresi. Pola asuh orang tua ketika tidak sabar dan memaksa anaknya untuk makan justru akan membuat anak menjadi susah makan. Yang ketiga: Faktor Organik yaitu Proses makan terjadi dari memasukkan makan dari mulut, mengunyah, menelan. Jika terdapat gangguan pada proses tersebut maka bisa menyebabkan anak sulit makan.
Sejalan dengan yang disampaikan oleh Judarwanto (2004) bahwa gejala sulit makan pada balita yakni kesulitan mengunyah, menelan, memuntahkan makanan yang sudah masuk di mulut, makan berlama-lama dan memainkan makanan, sama sekali tidak mau memasukkan makanan kedalam mulut, menumpahkan makanan dan menepis suapan. Dampak dari sulit makan pada balita yaitu yang pertama, kekurangan gizi akibat dari kesulitan makan yang berkelanjutan, kekurangan zat nutrisi yang penting pada tubuh, yang kedua daya intelegensi menurun anak usia balita 1-5 tahun adalah usia yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel otak kekurangan beberapa zat gizi maka akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan sel otak. Yang ketiga daya tahan menurun sehingga rentan terhadap penyakit.
Upaya yang dilakukan mengatasi sulit makan dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Cara farmakologi diantaranya seperti pemberian multivitamin dan micronutrient lainnya. Sedangkan cara nonfarmakologi bisa dengan cara membuatkan minuman herbal atau seperti jamu, pijat, akupuntur.
Penelitian yang dilakukan oleh Afifah (2003) menyebutkan bahwa temulawak merupakan salah satu jenis tanaman temu-temuan. Kandungan yang ada di dalam temulawak sangat beragam yakni rimpang temulawak mengandung zat kuning kurkuminoid, minyak atsiri, protein, selulosa, dan mineral. Berdasarkan penelitian salah satu keunggulan temulawak ini adalah mampu mengatasi gangguan nafsu makan. Ditemukan bahwa pada rimpang temulawak dapat meningkatkan nafsu makan dikarenakan adanya karminativum dari minyak astiri yang terkandung di dalamnya. Kandungan minyak astiri bersifat korelati, dapat mempercepat sekresi empedu maka dapat mempercepat pengosongan lambung, mempercepat pencernaan serta mengabsorbsi lemak di usus lalu mengsekresi hormone yang meregulasi peningkatan nafsu makan.
Manfaat lain dari temulawak yaitu zat warna atau kurkuminoid dalam temulawak terdiri dari warna kuning sampai merah, zat warna kuning merupakan zat warna alami yang dapat digunakan sebagai pewarna makanan dan minuman, atau untuk bahan baku kosmetik, seperti alas bedak. Keunggulan zat warna dalam temulawak ini adalah tidak beracun dan tidak memberikan efek samping yang berbahaya.
(Selly Tri Pangesti adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes Jawa Tengah)