Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan dimana bakteri atau mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dalam saluran kemih. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Stamm (2005) menyatakan bahwa, keberadaan bakteri pada urin orang yang terinfeksi isk didapatkan sekitar 105 bakteri/ml urin.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) dibagi menjadi 2 yaitu:
Pertama: Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi (simple/uncomplicated urinary tract infection) yaitu bila infeksi saluran kemih tanpa faktor penyulit dan tidak didapatkan gangguan struktur maupun fungsi saluran kemih.
Kedua: Infeksi saluran kemih terkomplikasi (complicated urinary tract infection) yaitu bila terdapat hal-hal tertentu sebagai infeksi saluran kemih dan kelainan struktur maupun fungsional yang merubah aliran urin seperti obstruksi aliran urin, batu saluran kemih, kista ginjal, tumor ginjal, ginjal, residu urin dalam kandung kemih.
Menurut penelitian Permenkes (2011) menyatakan bahwa Infeksi Saluran Kemih (ISK) dapat diketahui dengan beberapa gejala seperti demam, susah buang air kecil, nyeri setelah buang air besar (disuria terminal), sering buang air kecil, kadang-kadang merasa panas ketika berkemih, nyeri pinggang dan nyeri suprapubik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kumar, Abbas and Fausto (2009), Sukandar (2014), Brooks Butel and Morse (2018), mikroba penyebab terjadinya ISK antara lain bakteri dan jamur. Bakteri yang umum menyebabkan ISK adalah Escherichia coli (E. coli), dimana E. coli menyebabkan 70-95% kasus ISK. E. coli merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang pendek, dan motil. E. coli termasuk salah satu flora normal usus manusia dan bersifat oportunistik yang dapat menyebabkan terjadinya ISK. E.Coli menginfeksi melalui 2 cara yaitu melalui aliran darah (infeksi hematogen) dan saluran kemih bawah (infeksi asenden). Sebagian besar E. coli menginfeksi dari saluran kemih bawah, yang berasal dari flora feses.
Banyak faktor yang dapat membuat kamu berisiko lebih tinggi terkena Infeksi Saluran Kemih (ISK), di antaranya adalah: batu ginjal, Sistem kekebalan yang melemah, usia orang dewasa yang lebih tua lebih mungkin terkena Infeksi Saluran Kemih (ISK), struktur urin yang berkembang secara abnormal sejak lahir, mobilitas berkurang setelah operasi atau istirahat di tempat tidur yang lama, diabetes, terutama jika tidak terkontrol, yang mungkin membuat lebih mungkin terkena Infeksi Saluran Kemih (ISK), penggunaan kateter urin dalam waktu lama, yang dapat memudahkan bakteri untuk masuk ke kandung kemih.
Beberapa pemeriksaan untuk menentukan apakah pasien menderita infeksi saluran kemih. Pemeriksaan tersebut antara lain:
Tes urine atau urinalisis bertujuan untuk mendeteksi keberadaan sel darah putih di dalam urine yang bisa menjadi tanda infeksi.
Pemindaian dapat dilakukan menggunakan USG, CT Scan, atau MRI. Tujuannya adalah memeriksa kemungkinan adanya kelainan pada saluran kemih.
Sistoskopi dilakukan dengan memasukkan selang kecil berkamera ke uretra sampai ke kandung kemih. Tujuannya adalah untuk memeriksa kondisi kandung kemih dan mencari tahu penyebab infeksi saluran kemih.
Sebenarnya, tes urine saja sudah cukup untuk mendiagnosis infeksi saluran kemih. Namun, pada pasien yang mengalami ISK berulang, pemeriksaan sistoskopi atau pemindaian mungkin akan disarankan supaya penyebab ISK berulang diketahui dan dapat diatasi.
Infeksi Saluran Kemih bisa berakibat pada komplikasi serius, yaitu:
Pertama, infeksi berulang, terutama pada wanita yang mengalami dua atau lebih ISK dalam enam bulan atau empat bulan atau lebih dalam setahun.
Kedua, kerusakan ginjal permanen akibat infeksi ginjal akut atau kronis (pielonefritis) karena ISK yang tidak diobati.
Ketiga, pada ibu hamil, kondisi ini meningkatkan risiko berat bayi lahir rendah atau kelahiran prematur.
Pengobatan yang tepat terhadap Infeksi Saluran Kemih (ISK) ini sangat penting karena pengobatan yang kurang tepat menjadikan keluhan berkepanjangan dan juga bisa terjadi resistensi terhadap antibiotika yang diberikan pilihan antibiotiknya hanya tersedia dalam bentuk injeksi.
Namun secara garis besar, pengobatan farmakologis yaitu antibiotic yang sesuai kultur urine, jadi akan lebih tepat dan efektif dan analgetik dan obat pendukung untuk keluhan penyerta yang ada. Penatalaksanaan non farmakologis yaitu dengan istirahat yang cukup, diet dengan perbanyak vitamin C untuk perlindungan terhadap saluran kemih, kompres air hangat jika ada nyeri di bawah pusar, dan menambah asupan protein dan gizi yang cukup.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kuntorini (2018) mengenai salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat herbal adalah lengkuas putih (alpinia galanga). Secara tradisional dan turun temurun lengkuas dipakai oleh masyarakat diberbagai etnis sebagai obat untuk infeksi saluran cerna dan infeksi pada kulit. Untuk cara pembuatan obat herbal dari lengkuas putih dengan cara, masak air dan lengkuas putihnya sampai mendidih kemudian setelah itu di dinginkan dan ambil air dari rebusan lengkuas putihnya, dan siap di komsumsi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2011) menyatakan bahwa salah satu aktifitas kebersihan diri diantaranya adalah kebersihan genetalia dan perineal atau personal hygiene genetalia. Kebersihan genetalia atau personal hygiene genetalia ini juga diartikan oleh Black (2009) yaitu merupakan perawatan yang meliputi kebersihan genetalia yang dilakukan diri sendiri. Personal Hygiene genetalia adalah Perawatan kebersihan genetalia yang dilakukan untuk mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, karena organ genetalia rentan terhadap infeksi.
(Yusniar Ambar Uji Istiatin adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes Jawa Tengah)