Sabtu, 23/07/2022, 07:25:23
Menumbuhkan Motivasi Belajar Matematika Sejak Usia Dini
Oleh: Hami Zatul Amalia
--None--

MENURUT Hermus Hero dkk (2018) Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengubah tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok. Pendidikan sering dilakukan dibawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk belajar secara otodidak. Sedangkan ilmu pendidikan ialah ilmu yang membahas atau mempelajari teori-teori Pendidikan. Pada hakikatnya manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu. Ilmu diberikan kepada manusia sejak usia dini karena dapat membantu perkembangan anak terutama dalam berfikir, terampil, bahkan sikap dan perilaku. Pada anak usia dini mereka pasti membutuhkan motivasi untuk belajar karena pada anak usia dini cenderung masih senang untuk bermain-main.

Pengertian dari motivasi belajar sendiri adalah keseluruhan daya penggerak didalam diri anak yang menimbulkan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman; 2018:75). Bentuk dari motivasi belajar yaitu anak/siswa mampu mencapai tujuan belajar dengan adanya pemahaman materi atau pengembangan belajar dan dengan adanya motivasi belajar anak/siswa akan senantiasa semangat untuk terus belajar tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

Menurut Eva Imania Eliasa (2012) Anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki Pendidikan lebih lanjut. Pada masa ini anak cepat menyerap apa yang terjadi yang terjadi disekitarnya. Kemampuan otak anak dalam menyerap informasi sangat tinggi. Namun informasi yang diperoleh akan berdampak jangka Panjang bagi. Hakikat anak usia dini adalah individu yang sangat unik karena memiliki kreativitas dan Bahasa yang khusus sesuai dengan tahapan yang dilaluinya.

Setiap anak memiliki kepribadian dan keunikannya masing-masing. Beberapa anak beradaptasi dengan lingkungan baru dan mudah diatur, sementara yang lain sulit diatur bahkan butuh waktu yang lama untuk beradaptasi sehingga mereka sering menolak rutinitas dan sering menangis. Perkembangan fisik dan kemampuan anak usia dini dapat dilihat dari cara anak berkomunikasi. Menurut Eka Sapti Cahyaningrum dkk (2017) anak usia dini cenderung memiliki sifat menuru apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya, baik saudara terdekat ataupun bapak ibunya, bahkan apa yang dilihat di TV. Setiap anak adalah unik dan istimewa. Banyak hal yang sama selama perkembangan, tetapi bahkan anak kembar sekalipun memiliki keunikannya sendiri.

Keunikannya tidak hannya berasal dari pendekatan individu atau kelompok, melainkan juga dari lingkungan anak yang tercermin dalam aktivitas kesehariannya. Anak usia dini memiliki kepekaan secara optimal. Dengan kepekaan ini kita dapat mengubah dan meningkatkan akhlak anak. Karena pada anak usia dini mudah untuk mengikuti dan menjalankan perintah orang tua.

Tapi bukan dari segi pembelajaran, anak bisa menjadi cukup sulit ketika disuruh belajar, anak lebih suka untuk bermain. Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari matematika karena matematika merupakan kebutuhan praktis bagi perkembangan ilmu dibidang ilmu pengetahuan dan kehidupan. Oleh karena itu, matematika perlu diajarkan disekolah sejak usia dini. Pengajaran matematika anak usia dini perlu disesuaikan dengan perkembangan anak. Pada pada anak usia dini pengajaran matematika harus dilakukan sambil bermain. Anak-anak tidak merasa terdorong untuk belajar dengan cara mereka bermain sambal belajar.

Anak-anak dapat menggunakan alat yang memberikan informasi saat bermain. Yang dapat digunakan anak untuk bisa mengenal matematika adalah kemampuan mengenalkan bentuk seperti kubus, balok, dan bola dengan langsung melihat benda-benda yang merupakan model dari bangun datar tersebut, atau mengajak anak untuk menghitung benda-benda yang ada disekitar.

Matematika seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan, tetapi tidak jarang anak-anak mengalami kesulitan bila sudah berhubungan dengan angka. Oleh karena itu, pada anak usia dini sangat perlu motivasi belajar terutama agar mereka lebih semangat dalam belajar terutama dalam pelajaran matematika. Rendahnya motivasi belajar pada anak usia dini disebabkan karena anak masih kurang mampu menerima informasi dan masih mengalami kesulitan, kemampuan ini memperkuat motivasi anak untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Disisi lain dapat juga disebabkan oleh kondisi lingkungan anak yang kurang mendukung pembelajaran matematika dengan baik dan menyebabkan siswa kehilangan fokus dalam belajar.

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, salah satunya adalah motivasi belajar. Motivasi belajar sangat penting bagi anak/siswa karena berpengaruh seberapa banyak anak/siswa akan mempelajari dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak penyerapan anak/siswa dalam menangkap informasi. Salah satu cara untuk memotivasi pembelajaran pada anak usia dini adalah melalui pembelajaran bermain karena dapat mengembangkan kreativitas dan kemampuan. Hal ini juga dapat memberikan pengakuan kepada anak berupa hadiah dan pujian untuk anak yang berprestasi.

Motivasi mendorong anak dan mengarahkan minat belajarnya untuk mencapai tujuannya. Pentingnya memotivasi anak untuk belajar matematika pada anak usia dini adalah agar anak dapat bersemangat untuk belajar maatematika, karena dengan rajin belajar matematika anak dapat mengasah kecerdasannya, cepat memahami masalah, mengembangkan solusi, dan memecahkan masalah.

Metode yang tepat dapat memotivasi anak/siswa untuk belajar terutama saat belajar matematika. Kita bisa mengajari anak/siswa cara belajar matematika yang benar. Dengan cara yang menyenangkan, anak/siswa akan bersemangat untuk belajar, misalnya dapat kita mulai mengajarkan matematika pada anak seperti berhitumg, menambah dan mengurangi dengan benda-benda yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu permainan matematika yang bisa dilakukan anak untuk belajar dan bersemangat adalah menggunakan dadu. Kita juga bisa menggunakan permainan ular tangga sebagai media belajar angka dari 1 sampai 100.

Masalah pelajaran matematika seperti kurang semangatnya anak/siswa untuk belajar berdampak pada berkurangnya keaktifan anak/siswa. Salah satu permasalahan yang dihadapi anak/siswa adalah rendahnya motivasi anak/siswa dalam belajar matematika. Untuk itu sebagai seorang guru perlu memiliki ide-ide dan strategi untuk memotivasi anak/siswa saat belajar matematika. Strategi yang bisat digunakan guru untuk memotivasi anak/siswanya belajar matematika adalah guru harus semangat dalam mengajarkan matematika. Jika guru antusias dan membuat suasana pembelajaran menjadi menarik, maka siswa akan termotivasi, selanjutnya guru dapat memberikan contoh penerapan matematika di dunia nyata. Misalnya, guru menjelaskan kelebihan teori peluang yang dapat diterapkan dimasa depan.

Menurut Maria Ermalinda Sni dkk (2018) mengemukakan bahwa salah satu factor pendukung dalam motivasi belajar anak ialah peran orang tua. Pendidikan dalam keluarga merupakan basis Pendidikan yang pertama dan utama. Situasi keluarga yang harmonis dan bahagia akan melahirkan anak atau generasi penerus yang baik dan bertanggung jawab. Peran orang tua yang seharusnya adalah sebagai orang pertama dalam meletakkan dasar-dasar Pendidikan terhadap anak-anaknya. Dengan hal tersebut, kehidupan keluarga terutama peran orang tua merupakan lingkungan Pendidikan pertama yang mempunyai peranan penting dalam menentukan dan membina proses perkembangan anak. Dengan itu orang tua selalu memberikan perhatian, kasih sayang, dan waktu yang cukup untuk anak-anaknya.

(Hami Zatul Amalia adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Jln. Seroja Kampung Baru, Kalierang, Bumiayu, Brebes)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita