Selasa, 20/04/2021, 14:46:55
Etika Adalah Seni Terpenting Dalam Kehidupan
Oleh: Kamilah Silsi Azkiya

... buatlah anak paham dengan bahasa dunianya...

PADA jaman yang memiliki teknologi semakin modern dan canggih, lingkungan anak dan kegiatan anak semakin luas. Pada era 90-an, masa-masa anak lebih bersifat tradisional, mereka lebih berinteraksi langsung dengan teman-teman secara nyata atau bermain bersama-sama.

Pada masa era anak-anak modern sekarang lebih cenderung dengan ketertarikan teknologi, semakin canggih pula aplikasi game online. Ini menyebabkn anak jaman sekarang lebih memilih tetelepon genggan untuk mengisi waktu bermain.

Pengawasan orang tua pada kedua era ini sangat jauh berbeda, dimana pada jaman dahulu anak-anak lebih cenderung bermain di luar rumah bersama temanya dan melakukan permainan tradisional, tetapi mereka akan pulang saat adzan berkumandang, karena ini sudah menjadi tradisi sebagai gambaran patuh kepada orang tua.

Berbeda jauh dengan jaman modern, mereka lebih menunjukan sikap negatif dibandingkan sikap etika yang positif. Contoh kecil saat mereka dipanggil orang tua, mereka terlalu asik dengan game online, yang apabila mereka berhenti bermain akan terkena sanksi atau kekalahan, yang menyebabkan tidak bisa bermain untuk beberapa saat nantinya.

Hal ini menyebabkan mereka terlalu focus, dan enggan meninggalkan gamenya begitu saja. Pada keadaan ini, mereka terlalu fokus sehingga menggagu pendengaran mereka.

Tetapi tidak semua anak-anak melakukan hal yang sama saat bermain game, atau saat menggunakan smartphonenya. Banyak juga anak yang masih menghormati orang tuanya. Ini adalah proses pembentukan karakter dan moral yang baik, usaha ini pastik tidak lain adalah hasil kerja keras, penerapan pendidikan moral dari orang tua anak masing-masing.

Etika merupakan tingkah laku dari manusia itu sendiri, untuk menunjukan suatu moral yang dimiliki dari seorang pelakunya. Sehingga etika akan menentukan nilai moral seseorang apakah itu baik atau buruk. Penerapan etika di masa modern sungguh lebih sulit, karena penangkapan perilaku tidak terpuji jauh lebih mudah dilihat melalui social media ataupun aplikasi lainnya. Sehingga anak-anak dapat dengan mudah meniru dan melakukan apa yang mereka lihat.

Bagaimana cara orang tua mengawasi dan terutama menerapkan pendidikan moral yang baik, agar etika dan kepribadian seorang anak terbentuk sedemikian rupa?

Jadi ada beberapa hal kecil yang terkadang dianggap tidak penting oleh kita, tetapi sebenarnya hal tersebut dapat menggambarkan karakter dari seseorang. Maka dari itu, pentingnya orang tua mengajarkan hal-hal kecil tersebut.

Pertama, orang tua harus selalu mengajarkan anak-anak saat meminta tolong kepada orang lain, dengan mengucap kata “tolong dan maaf” sebelumnya, meskipun lebih kecil ataupun kepada sebaya dan bahkan kepada orang yang lebih dewasa.

Hal ini terlihat sepele, tetapi memiliki makna besar untuk seseorang yang dimintai bantuan. Mereka akan sangat senang dan akan menilai bahwa perilaku itu sopan, atau bahkan tidak akan menyebabkan orang lain tersinggung dengan sikap permintaan bantuan kita.

Kedua, membiasakan berterimaksih saat mendapatkan sesuatu atau diberi sesuatu. Ini memang terlihat sangat sederhana, selain akan memberikan kesan moral, ini juga akan menjadikan kebiasaan pada diri sendiri saat mendapatkan sesuatu, tidak hanya dari orang lain saja, tetapi anak akan membiasakan dirinya untuk bertrimakasih pada Tuhan dan diri sendiri.

Ketiga, ajarkan mereka agar tidak mencela fisik orang lain. Anak-anak sangat mudah membawakan dirinya pada lingkungan. Jika dia bermain dengan teman-teman yang suka mengejek orang lain secara fisik. Ajarkan mereka sedari dini untuk tidak mengatakan apapun yang mereka lihat jika terasa aneh, tanamkan sikap selalu menghargai orang lain.

Beri pengertian saat mereka membahas atau menanyakan. Dari sini kita harus bersikap sangat bijak memberikan pengertian, apa yang terjadi dan alasan mengapa terjadi seperti itu. Buatlah anak paham dengan bahasa dunianya, maka anak akan merasa kasihan dan setelah tumbuh lebih dewasa lagi, dia akan terbiasa beranggapan mengomentari fisik seseorang akan melukai hatinya meskipun itu lelucon.

Inilah pendidikan moral yang didapatkan dari anak-anak era dulu, sehingga kita sebagai generasi jaman sekarang harus mempertahankan seni beretika yang baik. Semakin modern jaman yang kita hadapi, faktor teknologi inilah yang semakin canggih membuat kita menjadikan sosok individualisme.

Jika sudah menjadi penyakit terbesar, sikap individualisme akan mengakibatkan kurangnya rasa keperdulian. Dari sinilah tumbuhnya generasi negara Indonesia yang kehilangan jati dirinya.

(Kamilah Silsi Azkiya adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita