Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang sempurna. Manusia dikaruniai akal serta hati untuk menata dalam bertindak lebih jauh. Tidak jarang manusia banyak melakukan hal positif untuk dirinya.selain itu manusia merupakan suatu sistem yang disebut akhlak. Akhlak akan melindungi dirinya dari serangan-serangan jahat yang menimpanya. Seorang yang berakhlak baik akan mendapatkan perlakuan yang baik pula namun sebaliknya jika yang berakhlak buruk akan mendapatkan perlakukan buruk pula.
Dalam kitab mantiq menyebutkan “ Al-Insanu Hayawanu Natiq” bahwa manusia adalah hewan yang berpikir. Bagaimana tidak? Rupa manusia dengan hewan hampir sama. Mempunyai indera yang digunakan sama dengan hewan, berbedanya ialah pada akal, hati dan akhlak. Manusai digandrungi banyak rasa yang membuat dirinya akan semakinpeka terhadap sesuatu yang sedang terjadi. Berbeda dengan hewan yang menggunakan isnting untuk merasakan segala sesuatu. Hanya ada beberapa point yang memang membedakan antara manusia dan hewan.
Dalam hal ini penulis akan menyampaikan fenomena yang terjadi di era saat ini. Manusia semakin liar melebihi hewan. Banyak kejadian yang menaruh firasat bahwa manusia semakin bejad. Pembelajaran moral seharusnya sudah diterapkan sejak usia dini. Semakin manusia dewasa akan semakin menambah pengetahuan. Dari pengetahuan yang diterapkan terkadang mereka menggunakannya tidak untuk hal-hal baik.
Pada dunia sekarang tindakan kriminat mayoritas terdapat pada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bukan hanya kekerasan pada fisik saja, namun kekerasan pada oragn tubuh. Bahkan berita ke,atian semakin merambah di tahun ini. Pembunuhan antar anak dan ayah sudah hal yang sangat biasa. Pemerkosaan terhadap keluarga termasuk hal yang lumrah untuk dijalankan.
Hal tersebut seharusnya menjadi perhatian khusus bagi perintah untuk melindungi para manusia yang semakin liar. Agar tidaknya manusia yang mirip denga hewan. Mirip yang disebutkan yaitu sifat yang ada pada manusia. Akal manusia sudah terkontaminasi oleh nafsu yang semakin hari semakin bejad. Ditambah lagi dengan teknologi yang terkadang menyuguhkan beberapa tampilan-tampilan yang seharusnya tidak dipertontonkan. Moralitas yang ada hanya sebagai formalitas. Tidak sampai pada akhlak dan adab. Indonesia memiliki bermiliaran sarjana, namun hanya beberapa yang menggunakan adab dan akhlaknya. Padahal filsafat mengatakan bahwa adab lebih tinggi dari ilmu. Ilmu hanya mampu pada batas permukaan saja dengan adab akan melindungi dirinya.
(Yeyen Yuniar adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)