Sabtu, 25/05/2019, 17:11:38
Menjadi Perempuan Milyader
Oleh: Leli Inayatul Huda
--None--

Allah tidak membedakan suatu kaumnya dengan melihat jenis kelaminnya, melainkan dari ketaqwaannya terhadap-NYA.

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang termaktub dalam Al-Qur’an, namun seringkali kalimta tersebut disalahgunakan oleh seorang yang membedakan anyara perempuan dan laki-laki. Secara bilogis perempuan dan laki-laki memnag tidak sama, banyak kecendrungan lelaki terkesan lebih kuat dibandingkan perempuan.

Namun hal ini seharusnya tidak menbjadi sebuah a;asan dimana banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga didominasi oleh perempuan yang menjadi objeknya, hal itu sudah sangat memprihatinkan bahwa perempuan hanya menjadi pemuas nafsu saja.

Perempuan yang khalayak umum pahami yaitu sosok yang hanya mengedepankan rasa. Perempuan yang hanya bisa meminta tanpa memberi. Perempuan yang derajatnya harus lebih rendah dibandingkan laki-laki. Teknologi sekarang sudah menjadi induk di era sekarang dimana semua bisa dengan mudah santai di rumah namun mendapatkan oenghasilon yang nominalnya lebih besar dibanding dengan yang berada di jalanan. Menjadi ibu yang baik bagi anaknya merupakan suatu impian semua perempuan di dunia, namun hal ini bukan berarti meningglkan karir yang telah dinikmati sebelum menjadi seorang ibu.

Perempuan berhak berkarir dan menjadi seorang pengusaha, tidak ada yang membatasi pekerjaan seorang permpuan. Susi Pudji Astuti selain menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, wanita dengan gaya nyentrik ini juga meruapakan pengusaha dan pemilik dari PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang merupakan eksportir hasil-hasil perikana. Tak hanya itu dirinya juga mempunyai usaha penerbangan Susi Air dengan nama perusahaan PT ASI Pudjiastuti Aviation.

Diajeng Lestari

Namanya mungkin tidak banyak dikenal orang. Akan tetapi bisnis startup-nya pasti sudah diketahui banyak orang. Ya, Diajeng Lestari merupakan sosok jenius dibalik berdirinya e-commerce HijUp. Diajeng memulai usahanya pada tahun 2011 lalu dengan menjual pakaian dan aksesoris yang ditujukan khusus bagi kaum muslim Indonesia.

Perempun Indonesia semakin mumpuni dalam berkarir. Hal ekonomi seharusnya sudah tidak menjadi sebuah alasan untuk melkukan sebuah kekerasan dalam rumah tangga. Nyatanya dunia perempuan bukan hanya di rumah saja, namun perempuan sudah mampu mencetak lembaran uang untuk mebantu meringankan pekerjaan suaminya.

Menjadi sosok perempuan milyader di era disrupsi digital ini sangat mudah. Pasalnya banyak yang terjual dengan menggunakn online bauk itu pakaian, makanan dan peralatan apapun. Hal ini sebenranya menguntungakn bagi para perempuan yang tidak diperbolehkan keluar rumah oleh seorang suami. Dengan mendidik anaknya di rumah namun dirinya masih mampu mengahsilkan uang untuk memnehi kebutuhannya.

Selain itu pula tidak ada larangan bahwa perempaun tidak boleh menjadi atasan atau pemimpin. Tafsir dalam surh an-nisa bahwa sebaik-baik pemimpin adalah lelaki. Ayat tersebut dimaksudkan pada zaman jahiliyah ketika bayi perempuan lahir untuk tidak dibiarkan hidup dengan layak, namun langsung di bunuh begitu saja. Namun ketika zaman Rasulullah justru perempuan di muliakan hal ini yang terkadang menutup pemikiran seseorang bahwa perempuan hanya menjadi jongos atau pembantu saja.

Padahal jika melihat sejarah istri Nabi Muhammad SAW. Siti Khadijah adalah saudagar kaya raya, bahkan memiliki tingkatan yang lebih tinggi dalam jual belinya. Ekonominya sangat mapan karena kemampuannya dalam berdagang dan itupun rasulullah tidak menolak atau memberhentikan dagangannya.

Zaman sekarang warna kekerasan pada perempuan mayoritas dikarenakan faktor ekonomi. Memanfaatkan dengan sebaik mungkin perekmbangan zaman adalah salah satu hal yang harus kita nikmati, jika kita masih terbelenggu dengan sebuah kontruks berfikir tentang perempuan jaman dahulu maka akan sampai kapanpun pemikiran tentang perempuan tidak akan sampai pada zaman sekarang yang serba digitalisasi. Perempuan bukan lagi tahu tentang meminta namun harus bisa tahu tentang memberi.

(Leli Inayatul Huda adalah Mahasiswa Manajemen Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita