Sabtu, 22/10/2016, 12:51:29
Hari Santri, Siswa SMK Ma'arif NU Memakai Sarung
-Laporan Zaenal Muttaqin

Memperingati HSN SMK Ma'arif NU 1 Paguyangan gelar upacara dengan mengenakan sarung (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Pemandangan berbeda terlihat di SMK Ma'arif NU 1 Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawaq Tengah, pada Sabtu 22 Oktober 2016. Seluruh siswa, guru dan karyawan di sekolah yang berada di bawah naungan Ormas Islam Nadlatul Ulama (NU) tersebut, mengenakan sarung dan baju Muslim.

Busana ini dikenakan sebagai peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang telah ditetapkan oleh pemerintah setiap tanggal 22 Oktober. Sepanjang hari ini selama di sekolah yang ada di pinggir jalan nasional ruas Tegal - Purwokerto, tepatnya di Desa Winduaji Kecamatan Paguyangan, baik saat melakukan aktivitas belajar dan lainnya dengan memakai sarung.

Siswa laki-laki mengenakan sarung, baju koko, dan kopiah. Sedangkan untuk perempuan lebih banyak mengenakan pakaian muslimah.

"Peringantan Hari Santri Nasional diawali dengan upacara bendera terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan lainnya. Semua peserta siswa dan guru laki-laki mengenakan sarung dan yang perempuan memakai pakaian muslimah," kata Kepala SMK Ma'arif NU 1 Paguyangan, Mardiyanto SAg.

Saat upacara bendera yang digelar di halaman sekolah, lagu kebangsaan juga diperdengarkan. Seluruh petugas upacara termasuk pengibar bendera juga mengenakan pakaian model santri. Seni rebana dengan lagu-alug islami juga sempat dibawakan para siswa saat rangkaian kegiatan peringatan HSN tersebut.

Mardiyanto mengatakan, pada masa kolonialisme Belanda sarung adalah simbol perlawanan. Maka untuk mengenang jasa-jasa para santri pejuang dahulu pakaian sarung dikenakan saat peringatan HSN ini.

"Saat itu sarung adalah simbol perlawanan santri terhadap penjajah. Sarung ini merupakan spirit perjuangan yang luar biasa dan warisan dari para pendahulu yang patut dijaga," tutur Mardiyanto.

Selain upacara, juga digelar kegiatan doa bersama atau Istighosah yang juga diikuti oleh seluruh siswa, guru dan juga jajaran pengurus Ma'arif Kecamatan Paguyangan. Istighosah dimaksudkan untuk mendoakan pada pahlawan pejuang bangsa dan juga mohon keselamatan untuk bangsa. Tak ketinggalan pula kegiatan bhakti sosial.

"Kami juga mengajarkan kepada siswa untuk menghargai jasa para pahlawan. Melalui doa semoga jasa pahlawan dibalas dengan pahala dan para siswa juga dapat meneruskan perjuangan mereka," tandas Mardiyanto.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita