“Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan, maka jawabannya sederhana: pendidikan membuat orang menjadi lebi baik dan orang baik tentu berperilaku baik” (Plato, 428-347 SM)
Kutipan filsuf Yunani di atas merupakan pandangan yang sangat idealis yang menganggap bahwa mahasiswa dibentuk oleh dunia ide da cita-cita, bukan oleh situasi sosial yang nyata (konkret dan material).
Pandangan semacam itu masih memiliki pengikutknya sekarang, bahwa pendidikan semacam itu masih dipandang sebagai cara untuk membuat mahasiswa lebih baik, bijak dan perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan mampu menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang mendukung berjalannya masyarakat yang ideal.
Namun tampaknya tetap ada sebagian orang yang merasa tidak puas terhadap dunia pendidikan, baik akses, proses, maupun hasilnya. Mereka berkesimpulan bahwa orang-orang yang berwatak tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidkkan. Ivan Illich, misalnya adalah pemikir humanis radikal yang dalam bukunya menolak pendidikan formal yang menurutnya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Lembaga pendidikan dianggapnya sama sekali tidak memadai bagi perkembangan anak-anak dan kaum muda.
Berpikir realis tentang pendidikan dan masyarakat, berbeda dengan berpikir idealis yang akan membuat kita melihat masalah-masalah nyata yang ada yang memang banyak sekali tedapat penyimpangan-penyimpangan dan justru jauh dari patokan-patokan keberhasilan. Sistem dan budaya kampus yang belakangan dikenal sangat-anti rakyat, pendidikan kampus yang semakin liberal dan kapitalistik.
Kebijakan privatisasi kampus menyebabkan komersialisasi perguruan tinggi, status kampus yang menjadi BPH membuat pendidikan bukan lagi dilihat sebagai pelayanan negara terhadap warga yang sifatnya wajib, melainkan sektor jasa yang diperjual belikan.
Mahasiswa adalah pahlawan seperti zaman Soekarno,Hatta, Syahrir, dan lain-lain di era kemerdekaan. Harapan agar mahasiswa memiliki karakter heroik dan progresif jadi yang dibutuhkan untuk konteks sekarang di zaman persaingan antar negara-bangsa, adalah karakter produktif dan kreatif agar menjadi generasi yang mampu menambah tenaga produksi yang dibutuhkan, untuk mengatasi ketertinggalan dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), lebih jauh dari itu juga masih diperlukan jiwa kritis dari intelektual dan kaum intelektual itu terhadap dominasi kekuasaan yang sering memanipulasi dan menindas masyarakat.
Kemunduran kesadaran mahasiswa yang tercermin dari gaya hidup mahasiswa, watak dan tindakkannya sekarang ini adalah bagian dari epos sejarah yang tetap akan bisa berubah. Serangan ideologi neoliberalisme memang semakin masif, tetapi pada saat yang sama krisis yang ditimbulkannya cukup parah. Pada saat mahasiswa terkurung dalam budaya bisu, sekarang ini rakyat justru melawan di mana-mana dengan berbagai macam tindakan dan perspektif atau ekspresinya, buruh, tani dan kaum miskin perkotaan lebih radikal dalam tindakannya.
Pendidikan menurut ki hajar dewantara merupakan proses pembudayaan yakni satu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan, dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil pendidikan tidak hanya meningkatkan ilmu pengetahuan namun sampai kepada peningkatan perilaku yang akhirnya menjadi kebudayaan yang dilestarikan masyarakat. Sehingga ketika sekarang kita lihat tingginya tingkat putus sekolah, tingginya tingkat kemiskinan dan tingginya tingkat korupsi di masyarakat juga merupakan buah dari kegagalan pendidikan.
Kemerosotan dan kerusakan pada fondasi kehidupan kampus harus di benahi dengan kembali meneguhkan landasan ideologi yang kokoh. Kita tidak bisa sekedar mengambil langkah penyelamatan yang praktis dan pragmatis atau paket program yang hanya mengatasi akibat dari krisis dalam kehidupan mahasiswa. Kita perlu mengambil langkah cepat dan tepat berbasis ideologi yang digali dari bumi Indonesia sendiri, yakni Pancasila seperti yang dirumuskan oleh Soekarno dalam pidatonya di hadapan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.
Akar sejarah ini harus ditekankan mengingat Pancasila kerap direduksi dan dilepaskan dari latar belakang sejarahnya. Dalam pidato itu Soekarno menegaskan landasan ideologi kehidupan bernegara mencakup kebangsaan yang bersandar pada kesamaan nasib dan persatuan dalam perjuangan untuk keadilan dan kemakmuran, internasionalisme atau perikemanusiaan yang menentang segala bentuk penjajahan, kolonialisme dan imperialisme, mufakat atau demokrasi yang mampu mendatangkan kesejahteraan, keadilan sosial atau demokrasi ekonomi yang menentang kapitalisme, dan ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
(Baqi Maulana Rizqi adalah Ketua Umum Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bumiayu, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)