Ganti rugi belum dibayarkan, Maryati bersama keluarganya mendirikan tenda di tengah jalan tol (Foto: Takwo Heryanto)
PanturaNews (Brebes) - Sebagai bentuk protes akibat pembayaran ganti rugi lahan yang terkena dampak proyek jalan tol Pejagan-Pemalang, Jawa Tengah, tak kunjung dibayarkan, Maryati (40) bersama keluarganya, melakukan aksi mendirikan tenda di tengah jalan tol tersebut, Rabu 24 Februari 2016.
Aksi nekat warga Desa Rancawuluh, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes itu dilakukan, menyusul dari sebanyak 10 bidang lahan warga yang pembebasannya belum dilaksanakan, hingga kini hanya tersisa milik Maryati (40). Sementara lahan warga lainnya saat ini sudah terselesaikan proses pembebasannya. Termasuk, rumah di tengah jalan tol milik Darsini yang merupakan tetangga Maryati.
"Tanah saya ini belum dibayarkan. Padahal saat ini hanya tersisa lahan milik saya. Sementara, 6 warga lainnya yang semula belum dibebaskan kini sudah dibayarkan ganti rugi lahannya. Sedangkan lahan saya ini sudah berubah menjadi jalan tol," tutur Maryati.
Menurut dia, panitia pembebasan lahan jalan tol memang sudah melakukan komunikasi dengan dirinya. Pertama, saat awal proses pembebasan lahan sekitar tahun 2008 lalu. Saat itu, lahannya ditawar dengan harga Rp 90.000 per meter persegi. Namun, tawaran itu ditolak. Kemudian, dilakukan musyawarah kembali dan tawaran naik menjadi Rp 300.000 per meter perseginya.
Namun, prosesnya tidak jelas hingga tersisa ada 7 orang yang lahannya belum dibebaskan. Setelah itu, panitia pembebasan kembali melakukan proses ganti rugi dengan mengacu aturan baru. Namun lahan miliknya masih dihargai Rp 300.000 per meter persegi, sementara lahan lain yang belum dibebaskan harganya Rp 600.000 per meter persegi.
"Saya meminta keadilan. Kalau lahan sisa yang belum dibebaskan harganya Rp 600.000 per meter persegi, saya juga minta disamakan. Kalau harganya tetap Rp 300.000 per meter persegi, itu harga lama sebelum mengacu aturan baru," terangnya.