Selasa, 28/10/2014, 07:48:24
Mahasiswa Demo Mosi Tak Percaya Kepada Walikota
-Laporan Riyanto Jayeng

Mahasiswa dari HMI, BEM Universitas Pancasakti menyampaikan mosi tidak percaya kepada Walikota Tegal (Foto: Jayeng)

PanturaNews (Tegal) - Belasan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Pancasakti Tegal, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Tegal, menggelar aksi demo menyampaikan mosi tidak percaya kepada Walikota Tegal di depan gerbang Balaikota Tegal, Selasa 28 Oktober 2014 pukul 13:30-14:00 WIB.

Dalam pers rilisnya disebutkan ada 4 hal penting yang memicu para mahasiswa menyampaikan mosi tidak percaya kepada Walikota Tegal. Empat hal itu antara lain, pernyataan Walikota Tegal di sejumlah media massa yang menyebutkan bahwa dirinya tidak tahu terhadap persoalan penangkan 2 aktivis Kota Tegal oleh Polda Jawa Tengah beberapa waktu lalu dinilai tidak benar.

Sebab di dalam persoalan itu, Walikota Tegal Hj Siti Masitha justru telah dimintai keterangan oleh pihak penyidik Polda Jawa Tengah.

Persoalan kedua adalah mengenai pengajuan draf RPJMD ke DPRD yang dinilai lamban. Sehingga hal tersebut berakibat kepada mundurnya jadwal penetapan RPJMD. Persoalan ketiga adalah mengenai respon Walikota Tegal yang dinilai tidak berpihak kepada warga atas kasus warga RT 7 dan RT 8 RW 3 Kelurahan Panggung yang sedang berperkara dengan PT KAI.

Persoalan keempat atau yang terakhir adalah Walikota Tegal dinilai kurang cakap di dalam mengkomunikasikan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Kota Tegal menjadi lebih baik.

Dalam penutup pernyataan mosi tidak percaya itu, tertulis sebuah harapan agar Walikota Tegal dapat menyadari kekeliruannya, dan merubah sikap yang kurang bijak terhadap masyarakat.

Ketua HMI Cabang Tegal, Subehi Prawirodwijoyo saat diwawancarai di lokasi demo mengatakan, aksi demo itu dilakukan lantaran Walikota Tegal tidak merespon permohonan audensi secara tertulis yang sudah dilayangkan sebelumnya.

“Soal pelaporan 2 aktivis ke Polda dan pada akhirnya dijebloskan ke sel tahanan hanya karena 2 aktivis itu melakukan kritik konstruktif di media social adalah bentuk arogansi yang tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang manapun. Jika Walikota Tegal tetap tidak mau merubah sikapnya, maka sarankan untuk turun dari jabatan Walikota,” tegas Subehi.

Sementara itu, aksi demo yang berlangsung sekira setengah jam itu diisi dengan orasi yang dilakukan secara bergantian oleh para pendemo. Masing-masing orator menyayangkan sikap Walikota Tegal yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Pada kesempatan yang sama, ajudan Walikota Tegal, Taufik Nurhidayat yang berada di lokasi gelar demo saat dikonfirmasi mengatakan, Walikota Tegal tidak sedang berada di luar kota, sebab sedang memimpin rapat bersama asisten.

“Walikota tidak mungkin bisa ditemui saat ini, karena beliau sedang ada rapat dengan asisten,” katanya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita