DALAM sejarah, perebutan kekuasaan hampir selalu menjadi cerita yang berulang. Anak raja dipersiapkan menjadi raja. Anak penguasa dipersiapkan menjadi penguasa. Kekuasaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam dunia modern, gejala demikian sering disebut dinasti politik. Dalam dunia kerajaan, hal itu dianggap sesuatu yang lumrah.
Namun sejarah Kahuripan menghadirkan kisah yang berbeda. Putri mahkota Sanggrama Wijaya Tunggadewi, justru menolak jalan yang telah dipersiapkan baginya. Ia memilih meninggalkan istana dan menempuh kehidupan pertapaan. Pilihan tersebut bukan hanya mengguncang kerajaan, melainkan juga mengguncang batin ayahnya sendiri, Raja Airlangga.
Tujuh puisi karya Lanang Setiawan dari novel "Jogéd Transendental", yang dibahas dalam tulisan ini membangun satu kesatuan naratif yang utuh. Ketujuhnya bergerak dari kegelisahan, kekecewaan, keruntuhan harapan, hingga air mata seorang ayah yang menyaksikan putrinya memilih jalan berbeda.
NGÉDAP NGÉDAPI
Sanggrama nata ati
sekuwat-kuwat ngadepi Ramanda
"O Ramanda, baginda agung Kahuripan
kaningapa tinadir Ramanda dados raja
Tinadir Ananda putri mahkota
sanés rakyat biasa?"
Ramanda ndadak mbekep kelu
kemelut batin saya ndadi
Kawiwit sowan marang Ananda
firasat oreg kebayang-bayang
Perang gemladag ngangkir nandingi
ngadepi putri mahkota ngédap2i
Puisi pertama ini merupakan gerbang seluruh rangkaian puisi. Belum ada tangisan. Belum ada air mata. Namun benih kesedihan sudah ditanam sejak larik pertama.
"Sanggrama nata ati" memperlihatkan usaha keras tokoh utama untuk menata dirinya sendiri. Ia sadar bahwa percakapan yang akan berlangsung bukan percakapan biasa. Ia sedang bersiap menghadapi ayah yang sekaligus seorang raja.
Ungkapan "sekuwat-kuwat ngadepi Ramanda" menunjukkan bahwa keberanian Sanggrama lahir dari pergulatan batin. Ia tidak sedang memberontak. Ia tidak sedang marah. Ia justru sedang berusaha tetap tenang ketika menyampaikan sesuatu yang sangat berat.
Pertanyaan Sanggrama kepada ayahnya menjadi pusat puisi. Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat filosofis. Mengapa dirinya ditakdirkan menjadi putri mahkota? Mengapa ayahnya ditakdirkan menjadi raja? Mengapa bukan rakyat biasa? Pertanyaan tersebut sesungguhnya adalah awal penolakan terhadap dunia kekuasaan.
Bagian yang paling menyentuh muncul ketika Airlangga digambarkan "mbekep kelu". Raja besar yang biasanya memiliki jawaban atas banyak persoalan mendadak kehilangan kata-kata. Di sinilah pembaca mulai merasakan retakan pertama dalam hubungan ayah dan anak.
Dua larik penutup menghadirkan metafora perang. Perang yang dimaksud bukan perang bersenjata, melainkan perang batin. Airlangga mulai merasakan bahwa dirinya sedang menghadapi lawan yang tidak mungkin ditaklukkan dengan pedang atau pasukan. Lawan itu adalah kehendak putrinya sendiri.
Nuansa puisi ini adalah kecemasan yang masih ditahan. Kesedihan belum meledak, tetapi bayang-bayangnya mulai bergerak di balik percakapan.
GERHANA BATIN
Ndoro putri dibelok kisruh
gergana batin mbludag se-wayah2
Kaprungu nggalik rintihan wirama
sanés wirama gending sunyata
Senyata sanés kélangan tahta
kejaba jogéd tangisan ngglolo
Ndoro putri gerhana sukma
sengkowo ngadepi mayapada
Daya gesang ilang sekarang-karang
kalingan gerhana bulan
Sanés wulan ning angkasa
kejaba wulan ning batin ndoro putri
Jika puisi pertama menghadirkan percakapan, maka puisi kedua menghadirkan suasana batin setelah percakapan itu terjadi.
Kata "gerhana" menjadi simbol utama. Gerhana bukan kehancuran. Gerhana adalah tertutupnya cahaya oleh bayangan gelap. Karena itu, penggunaan simbol ini sangat tepat untuk menggambarkan kondisi Sanggrama.
Yang mengalami gerhana bukan bulan di langit, melainkan bulan di dalam jiwa. Penyair memperkuat suasana duka melalui larik "kaprungu nggalik rintihan wirama". Biasanya wirama berhubungan dengan keindahan bunyi dan harmoni. Akan tetapi dalam puisi ini, wirama justru menghasilkan rintihan.
Keindahan berubah menjadi kesedihan. Larik "sanés kélangan tahta" sangat penting. Penyair menegaskan bahwa sumber penderitaan Sanggrama bukan karena kehilangan kekuasaan. Ia bahkan belum kehilangan apa pun. Yang terjadi justru konflik batin antara panggilan jiwa dan kewajiban duniawi.
Nuansa puisi ini sangat muram. Kesedihan tidak ditampilkan melalui ledakan emosi, melainkan melalui suasana yang terus menggelapkan hati tokoh.
SLÉNDANG ABANG DUBANG
Sanggrama jogéd penganggon sléndang
warna sléndang abang dubang
Warna sléndang gambaran getih
biang rintihan batin sekandang
Berkabung beban segunung
ngadepi sukma rundung malang
Ndoro putri jogéd nyangga sepi
sepi sukma ngédap-édapi
Ndoro putri nari nggemblung
nganggo sléndang abang dubang
Nglereb perkawis kang disandang
asmara uga tahta siasia kesanding
Dalam puisi ini, simbol utama berubah menjadi slendang merah adalah warna yang kaya makna. Ia dapat melambangkan darah, luka, pengorbanan, keberanian, maupun penderitaan. Penyair memilih makna yang paling pedih, yaitu darah.
"Warna sléndang gambaran getih"
Larik tersebut menjadikan slendang sebagai lambang luka batin yang terus dibawa Sanggrama ke mana pun ia pergi. Kata "berkabung" memperdalam suasana. Berkabung biasanya dilakukan setelah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Dalam puisi ini yang berkabung bukan tubuh, melainkan jiwa.
Sanggrama digambarkan menari. Namun tarian itu bukan tarian kebahagiaan. Ia adalah tarian untuk menopang kesepian. Semakin jauh puisi bergerak, semakin jelas bahwa Sanggrama sedang melepaskan dirinya dari dua hal yang paling diinginkan manusia: asmara dan kekuasaan.
Bagi kebanyakan orang, keduanya adalah impian. Bagi Sanggrama, keduanya justru menjadi beban.
JOGÉD MANEGES
Jogéd Sanggrama mangkina songkrah
géal-géol bangkékan ngégol bléh genah
Jogan tatakan sukuné ilang
Sanggrama ngambang ngelayang
Nembus langit nlusup lintang
neges maneges sekabéh ilang
Gending lara tangis nggiwar2
Sanggrama nglayang ngambah segara
Sanggrama kiter2 ngubengi jagad
gending sampak awor blampak
Jogéd maneges mangkina kuwat
ngémpéri tlatah pertapaan tabet
Pada puisi ini penderitaan memasuki tahap yang lebih dalam.
Larik "jogan tatakan sukuné ilang" merupakan metafora yang sangat kuat. Ketika seseorang mengalami krisis batin yang hebat, ia merasa kehilangan pijakan. Dunia yang selama ini dikenalnya tiba-tiba tidak lagi memberikan kepastian.
Sanggrama kemudian digambarkan melayang, menembus langit, dan mengelilingi jagat. Semua gambaran itu menunjukkan proses pelepasan dari dunia istana. Gending yang mengiringinya bukan lagu kemenangan, melainkan "gending lara tangis".
Penderitaan dalam puisi ini sudah mencapai tingkat spiritual. Ia tidak lagi sekadar kecewa atau sedih. Ia sedang bergerak menuju perubahan hidup yang sangat besar. Pada bagian penutup menjadi petunjuk penting bahwa arah perjalanan Sanggrama adalah pertapaan.
ROGROG
Airlangga pasrah
jiwa raga rogrog
Ananda nampik jejodohan
iming2 mutlak kuasa boten sudi
Sanggrama wegah duniawi
emoh umbar nafsu ragawi
Tembé kiyé titah raja dipong
wangkot Ananda patok bangkrong
Pan murka maring sapa
pan ngamuk karo sapa
Njangkung adepan putri mahkota
kata-kata lubér jelma banyu mata
Di sinilah pusat tragedi berpindah dari Sanggrama kepada Airlangga.
Kata "rogrog" berarti runtuh. Yang runtuh bukan tembok istana, melainkan harapan seorang ayah.
Airlangga menyadari bahwa putrinya tidak hanya menolak perjodohan. Ia juga menolak seluruh rancangan masa depan kerajaan.
"Sanggrama wegah duniawi"
Larik ini menjelaskan akar persoalan. Sanggrama tidak tertarik pada dunia yang sedang diperjuangkan banyak orang. Bagian paling menyayat adalah larik terakhir. Kata-kata berubah menjadi air mata. Kesedihan sudah mencapai titik ketika bahasa tidak lagi cukup untuk menampung perasaan. Dan air mata menjadi bahasa baru.
BANYU MATA
Airlangga dirundung ngenes
kulung ati perih nggrentes
Pengganti raja wurung
pengarep ngepong
Raja penyair kamigetun
sukma raja terlantar kapiran
Banyu mata nelesi pipi
nelesi pipi banyu mata
Ngilu sangsaya ngilu
kebayang deru prahara satru
Antardulur kwalon rebutan tahta
Kahuripan bakal sigar dadi loro
Judul puisi ini langsung menempatkan air mata sebagai tokoh utama. Airlangga tidak lagi digambarkan sebagai raja yang perkasa. Ia tampil sebagai seorang ayah yang terluka. Kekecewaan terbesar muncul ketika harapan akan penerus kerajaan sirna. Impian yang telah dibangun selama bertahun-tahun mendadak runtuh.
Pengulangan "banyu mata" menciptakan efek emosional yang kuat. Pembaca seolah melihat air mata yang terus mengalir tanpa henti. Pada bagian akhir, kesedihan pribadi berubah menjadi kecemasan politik. Airlangga membayangkan kemungkinan perang saudara dan perpecahan kerajaan. Tangisan yang semula bersifat pribadi berkembang menjadi tangisan atas masa depan Kahuripan.
KALAH TELAK
Raja agung ngecembong banyu
banyu mata kang pungkas ning dada
Raja penyair dibebek kasunyatan
tangis nggetih sanjero batin
Sing dikudang milih urip nyepi
urip sempurna dados pertapa suci
Ning njaba kraton udan baratan
ning jero batin luwih gemrajag
Titah raja idu geni
sekabéh tiyang mboten wantun
Dinten meniko kalah telak
ora ngangkir nglawan Anak!
Puisi terakhir menjadi klimaks seluruh rangkaian. Judulnya sangat tegas: Kalah Telak.
Yang kalah bukan Airlangga sebagai raja. Yang kalah adalah keinginannya untuk mempertahankan rancangan masa depan yang telah disusunnya.
"Tangis nggetih sanjero batin" merupakan salah satu larik paling kuat dalam keseluruhan siklus puisi. Tangisan tidak lagi berupa air mata biasa, melainkan darah batin.
Kontras antara hujan di luar istana dan badai di dalam hati sangat efektif membangun suasana. Alam menjadi cermin kesedihan manusia. Pada larik penutup adalah puncak ironi. Raja yang ditakuti banyak orang ternyata tidak mampu memaksa anaknya sendiri. Namun kekalahan itu justru memperlihatkan kemanusiaan Airlangga. Ia memilih menerima keputusan Sanggrama, meskipun keputusan itu menghancurkan harapannya.
Penutup: Ketujuh puisi ini membentuk satu kisah utuh tentang benturan antara kekuasaan dan kebebasan jiwa. Sanggrama memilih meninggalkan mahkota, sementara Airlangga harus belajar menerima kehilangan.
Dari "Ngédap Ngédapi" hingga "Kalah Telak", pembaca diajak menyaksikan perubahan emosi yang bertahap: kegelisahan, kebimbangan, kesedihan, keruntuhan harapan, air mata, dan akhirnya kepasrahan. Nuansa duka dalam rangkaian puisi ini sangat pekat. Tangisan hadir bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai bukti cinta. Air mata Airlangga bukan air mata seorang raja yang kehilangan kekuasaan, melainkan air mata seorang ayah yang kehilangan impian.
Pada akhirnya, yang kalah adalah ambisi duniawi. Yang menang adalah panggilan batin. Dan di antara keduanya, penyair menghadirkan salah satu ratapan paling pilu tentang hubungan ayah dan anak dalam puisi Tegalan kontemporer.