Ilustrasi
PanturaNews (Brebes) - Ratusan hektar tanaman padi di wilayah pesisir Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terancam gagal panen. Hal itu, selain disebabkan kekeringan juga karena diserang hama wereng. Kekeringan terjadi di sejumlah titik sepanjang pesisir pantura.
Koordinator program pertanian Kecamatan Bulakamba, Suyatno SPKP mengungkapkan, luasan areal padi kekeringan yang terserang hama wereng itu tersebar di sejumlah desa. "Spot-spot bukan satu tempat, dari Desa Bangsri, Pakijangan sampai Grinting. Memang kering sumur bor juga tidak berfungsi karena airnya asin, mestinya pakai sumur arteisis kedalaman 30 meter lebih," ujar Suyanto kepada wartawan, Selasa 13 Mei 2014.
Pihaknya mengaku sudah menyampaikan permasalahan tersebut kepada Dinas Pertanian Kabupaten Brebes untuk ditindaklanjuti. Jika segera ditangani, maka gagal panen itu tidak akan terjadi.
"Sekarang ini belum ada yang gagal panen, tapi baru terancam saja. Kan umumnya umur padi sekitar 40 sampai 70 hari, masih ada waktu untuk menangani," jelasnya.
Sementara, Sokadi (40) petani asal Desa Grinting Kecamatan Bulakamba mengatakan, kekeringan lahan padinya hingga menyebabkan diserang hama wereng itu melanda pertanian juga karena pasokan air yang sangat minim. Hujan yang diharapkan sudah jarang datang. Sementara air irigasi dari wilayah yang lebih atas tidak mengalir lancar.
"Kalau petani sekarang cuma bisa ngelus dada mas, mau nangis juga malu. Sudah mau panen tapi sawahnya sudah pada kering ditambah hamajuga mulai berdatangan, kami sih berharap pemerintah turun tangan membantu petani," tuturnya.
Menurutnya, pasokan air itu selain sudah jarang diguyur hujan juga pasokan dari saluran irigasi yang tidak lancar. Jikapun ada air, petani harus berebut hingga membeli air kepada petugasnya.
Sebagai upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengandalkan sumur bor itu pun dengan menguras biaya yang cukup tinggi. Imbas dari kekeringan itu, hama wereng sudah menggerogoti tanaman padi warga.
Petani sudah mencoba mengatasinya dengan aneka obat-obatan, namun hasilnya tidak maksimal. Akibatnya, para petani mengalami kerugian jutaan rupiah setiap Ha-nya. "Kalau begini terus, padinya bisa gabug tidak ada isinya, dan itu berarti jerih payah kami sia-sia," tandasnya.