Bupati Brebes (kiri) berdialog dengan Nugro Rahardjo usai meresmikan alat pengolah air payau (Foto: Takwo Heriyanto)
PanturaNews (Brebes) - Penyediaan air bersih untuk warga punya peranan penting dalam meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat. Hal ini dapat menurunkan angka penderita penyakit yang berawal dari buruknya kualitas air, tentu hal ini juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menyikapi hal ini, tentu dibutuhkan penyediaan air minum dengan mengolah air asin menjadi air siap minum. Sebagai solusi, atas usulan anggota Komisi VII DPR RI, DR. Dewi Aryani M.Si, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT telah membangun pilot plant unit pengolahan air payau menjadi air siap minum dengan kapasitas 10.000-20.000 liter per hari, yang kali ini ditempatkan di Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
"Sistem pengolahan air ini menganut proses osmosis balik, yakni Reverse Osmosis (RO). Sistem ini sendiri dapat dengan mudah dioperasikan serta kapasitasnya dapat diperbesar," ungkap Direktur PTL BPPT, Joko Prayitno Susanto, pada acara peresmian pilot plant pengolahan air payau menjadi air siap minum oleh Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti SE, didampingi utusan anggota Komisi VII DPR RI, DR. Dewi Aryani M.Si, Dyah Wahyu Winarti dan Kepala Bappeda Kabupaten Brebes, Ir Djoko Gunawan MT, Kamis 06 Desember 2012.
BPPT, lanjut Joko, mempunyai tugas sebagai lembaga pengkaji terap teknologi, yang dituntut supaya menghasilkan teknologi bermanfaat untuk masyarakat dan berdaya guna. "Semoga teknologi ini menjadi yang terbaik untuk masyarakat," ujar Joko.
Pada acara peresmian pilot plant pengolahan air payau menjadi air siap minum ini, juga dilaksanakan serah terima pilot plant unit pengolahan air payau menjadi air siap minum dengan kapasitas 10.000-20.000 liter per hari dari BPPT yang diwakili Direktur PTL BPPT kepada Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti SE dengan ditandai pengguntingan pita.
Pada kesempatan peresmian tersebut, Bupati dan undangan juga berkesempatan mencicipi air hasil pengolahan yang warnanya jernih, rasanya tawar dan kualitas memenuhi standar layak minum.
Kepala Program Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan PTL-BPPT, Nugro Rahardjo dalam paparannya mengatakan, alat tersebut sangat signifikan untuk digunakan di wilayah pesisir. Sebagai sumber listrik hanya dibutuhkan genset kapasitas 6,5 KVA, 220 volt.
"Selain itu dalam satu jam alat ini dapat menghasilkan 600 liter air siap minum dengan biaya produksi yang efisien," ujar Nugro Rahardjo,
Sementara, Idza Priyanti menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan alat dari BPPT tersebut. “Tentunya bantuan ini saya harapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat, dan dijaga supaya tahan lama penggunaannya. Dengan biaya yang efisien, alat ini dapat memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakat desa kita. Dalam sehari dapat menghasilkan 500 galon, tentunya hal ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami," ujarnya.
Mewakili Anggota Komisi VII DPR RI, Dewi Aryani, Dyah Wahyu Winarti, menyampaikan bahwa pilot plant pengolahan air payau menjadi air siap minum tersebut, merupakan program yang menjadi kebutuhan utama dari masyarakat Desa Pesantunan. “Semoga bantuan ini dapat membantu permasalahan kebutuhan air setempat,” jelasnya.