Rabu, 31/10/2012, 06:20:44
Faktor Gizi Tidak Baik, Jumlah Anak Cebol Cukup Tinggi
-Laporan Zaenal Muttaqin

Kegiatan pertemuan stakeholder tingkat kecamatan PKH Progresif Pengentasan Gisi (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Jumlah anak stunting atau cebol di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, cukup tinggi yaitu mencapai 35 persen. Banyaknya anak stunting ini karena faktor gizi yang tidak baik. Hal itu mengemuka dalam kegiatan pertemuan stakeholder tingkat kecamatan Program Keluarga Harapan (PKH) Progresif Pengentasan Gisi (Prestasi) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu (31/10) di Aula Kecamatan Bumiayu.

"Jumlah anak stunting di Brebes ini cukup tinggi, mencapai 35 persen sehingga dilaksanakan PKH Prestasi," kata Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Brebes, Ir. Amin Budi Raharjo MPi saat sambutan pembukaan pada acara yang diikuti oleh para Camat, Kepala Desa dan pendamping PKH dari enam kecamatan yang ada di Brebes bagian selatan. Yakni, Kecamatan Bumiayu, Sirampog, Tonjong, Paguyangan, Bantarkawung dan Salem.

PKH Prestasi akan meningkatkan Indeks Prestasi Manusia (IPM) Brebes yang terbilang masih rendah dibanding IPM daerah-daerah lain yang adi Jawa Tengah ini. Masalah banyak anak stunting ini juga menjadi salah satu program PKH Prestasi yang dalam pelaksanannya mendapat dukungan dari Unicef. "PKH Prestasi ini didukung oleh Unicef, badan PBB yang mengurusi masalah anak," ujar Amin.

Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Brebes, dr Rasipin mengatakan, stunting disebabkan karena faktor gizi yang tidak terpenuhi pada anak. Pemberian air susu ibu (ASI) yang tidak sempurna juga menjadi salah satu faktor penyebab stunting. "Disinyalir karena kekurangan gizi dan juga ASI yang tidak sempurna," kata Rasipin yang menjado salah saru tutor dalam kegiatan itu.

Dikatakan, masalah kekurangan gizi tidak slalu karena faktor kemiskinan, bisa jadi karena ketidaktahuan orang tua dalam pemberian makanan pada anaknya. Seperti pemberian makanan-makanan yang instan pada anak sebenarnya sangat tidak tepat, termasuk jajanan modern yang banyak mengandung zat kimia. "Banyak orang tua yang tidak menyadari kalau pemberian makanan instan justru kurang baik bagi pertumbuhan anak," ucap Rasipin.

Dikatakan, sebaiknya anak-anak kita kembali mengkonsumsi jajanan tradisonal yang nilai gizinya lebih baik dan sangat baik untuk pertumbuhan anak. Sayangnya, jajanan tradisional sekarang ini sulit ditemukan padahal itu sangat bermanfaat. "Anak-anak kita sudah jarang kenal dengan jajanan tradisional, lebih suka jajanan modern yang sebenarnya itu tidak baik," tandas Rasipin.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita