Puluhan petani berunjukrasa memprotes pemanfaatan sumber air bersih yang mengakibatkan kesulitan air irigasi (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - Puluhan warga petani Dukuh Sidamukti, Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, unjuk rasa memprotes penambahan pipa pemanfaatan sumber mata air 'Tuk Podol' yang selama ini menjadi sumber air irigasi, Rabu 03 Oktober 2012. Warga berunjuk rasa dengan mendatangi kantor Polsek Bumiayu, tempat dilakukannya negosiasi masalah tersebut.
Salah satu warga, Muziyanto (40) mengatakan, 'Tuk Podoil' telah dimanfaatkan sebagai sumber mata air untuk Pondok Pesantren di Desa Benda, Kecamatan Sirampog dan PDAM Unit IKK Bumiayu serta Pamsimas Dukuh Baruamba Desa Adisana. Belakangan ada penambahan pipa oleh tiga pemanfaat tersebut yang mengakibatkan irigasi pertanian yang juga memanfaatkan sumber tersebut mengalami kesulitan air.
"Petani kesulitan air, bahkan dari 75 hektar yang selama ini memanfaatkan sumber tersebut, ada 10 hektar yang kini menjadi lahan mati karena tidak terliri air," kata Muziyanto yang juga ketua Kelompok Tani Sida Makmur ini.
Sebelumnya warga juga telah melakukan pengrusakan pipa, karena tidak puas dan saat pemasangan pipa warga petani tidak diajak musyawarah. Pengakuan warga, tindakan pengrusakan pada malam hari oleh puluhan warga petani pada tiga pipa tambahan milik PDAM, Ponpes dan Pamsimas.
"Pipa dirusak warga pada malam hari, karena kesal. Semestinya sudah cukup dua pesantren itu dengan maemasang enam pipa kenapa ditambah lagi, sementara kami petani kesulitan air," terang Muziyanto.
Warga datang ke Kantor Polsek Bumiayu dengan mengusung beberapa spanduk dan karton bertuliskan, 'Jangan Monopoli air Bersih, Jangan Rampas Warisan Kami, Jangan Bunuh Kami, Kami Butuh air'. "Warga datang ke Polsek Bumiayu karena tahu akan dilakukan negosiasi dengan pihak pesantren dan PDAM dengan perwakilan warga," kata Mukhsin (41) yang juga ikut berunjuk rasa.
Sementara itu, negosiasi untuk menyelesaikan maslah tersebut dilakukan antara perwakilan warga dengan perwakilan dari Ponpes Alhikmah 1, Nahib Sodik, dari Alhikmah 2, Imadudin dan PDAM Bumiayu, Faturahman dan Nur Hidayat. Negosiadi yang dilakukan di ruang Kapolsek itu nampak dihadiri pula Kasat Reskrim Brebes, AKP M Subhan. Meski begitu negosiasi belum membuahkan kesepakatan dan akan dilanjutkan usai pelaksanaan Pemilukada nanti.
"Belum ada kesepakatan nanti akan dilanjutkan setelah Pemilukada," kata Kepala Desa Adisana, Komarudin Spd yang ikut serta dalam negosiasi di ruang Kapolsek Bumiayu itu.
Menurut Komarudin, penundaan dilakukan demi menjaga ketenangan menjelang Pemilukada dan warga juga bisa menerima itu. Warga petani peserta unjuk rasa yang teridiri laki-laki dan permpuan juga membubarkan diri secara tertib setelah mengetahui negosiais akan dilanjutkan setelah pemilukada.
Sementara itu, beberapa petugas dari Polsek Bumiayu pada Rabu 03 Oktober 2012 siang juga melakukan pemasangan police line atau garis polisi di lokasi sumber mata air 'Tuk Podol' yang ada di Dukuh sidamukti Desa Adisana. Pemasangan police line tersebut dimaksudkan untuk pengamanan dan tidak ada lagi tindakan pengrusakan oleh warga.