PanturaNews (Brebes) — Cuaca panas ekstrem yang melanda Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mulai berdampak signifikan pada sektor pertanian.
Sejumlah petani bawang merah di wilayah Kecamatan Tanjung terpaksa memutar otak dan mengeluarkan biaya ekstra demi menjaga tanaman mereka tetap bertahan di tengah krisis air.
Kondisi silit ini terungkap dalam diskusi bersama para petani yang digelar di kawasan persawahan Kemantren Rungkang, Brebes, Senin (6/7) sore.
Wirjo, salah seorang petani asal Kecamatan Tanjung, mengungkapkan bahwa bertani di awal Juli ini menuntut perjuangan yang jauh lebih berat dibanding saat musim penghujan.
Tantangan utama yang dihadapi meliputi pasokan pengairan yang minim hingga peningkatan penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama.
"Dibandingkan saat musim penghujan dan sekarang, jelas lebih susah sekarang. Banyak yang perlu diperjuangkan agar hasil tetap maksimal," ujar Wirjo, Senin (6/7).
Biaya Produksi Membengkak akibat Sistem Bergilir
Hal senada diungkapkan oleh Ono, petani bawang merah lainnya.
Menurutnya, budidaya bawang merah di musim panas membutuhkan volume air yang sangat besar. Situasi kian pelik lantaran aliran air di Kemantren Rungkang kini sudah mulai memberlakukan sistem bergilir (buka-tutup).
Keterbatasan ini memaksa petani mencari sumber air alternatif di luar jaringan irigasi utama.
Konsekuensinya, biaya produksi membengkak karena petani harus membeli bahan bakar minyak (BBM) untuk menghidupkan mesin pompa air, di samping menambah biaya tenaga kerja dan pestisida.
"Jelas pengeluaran lebih banyak. Selain untuk beli pestisida dan tenaga orang, kami juga butuh beli bensin untuk mesin pompa saat mengambil air," kata Ono.
Pasokan Air Waduk Kuningan Tak Cukup
Merespons keluhan tersebut, Pengelola Irigasi Kemantren Rungkang, Agus Riyanto, membenarkan bahwa sistem buka-tutup air telah diterapkan. Saat ini, jadwal aliran air dari Waduk Kuningan diatur dengan skema empat hari mengalir dan tiga hari ditutup.
Aliran tersebut kemudian harus dibagi lagi di beberapa titik pintu air, termasuk wilayah Kubangjero, Rungkang, Randusari, hingga Luwungbata.
Agus membeberkan, meskipun air dari Waduk Kuningan sudah disalurkan sejak Minggu malam hingga Senin (6/7) dini hari, pasokan tersebut tetap tidak mampu mencakup seluruh lahan bawang merah di wilayahnya. Pasalnya, ratusan petani telah bersiap memompa air bahkan sebelum aliran utama tiba di lokasi.
"Memang semalam itu saya lihat sendiri, air belum sampai saja sudah ada ratusan pompa air milik petani yang siap mengambil. Jadi rupanya masih belum ada yang teraliri (secara merata)," jelas Agus.
Petani Desak Bantuan Pompanisasi
Akibat kekeringan yang mulai mengancam sektor pertanian andalan Brebes ini, para petani sangat berharap adanya langkah nyata dari pemerintah daerah.
Mereka mendesak pengadaan bantuan sistem pompanisasi agar kebutuhan pengairan di kala musim kemarau seperti saat ini dapat teratasi tanpa membebani kantong petani secara berlebihan