"...Perempuan Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional” (Bung Karno)
Selama berabad-abad lamanya, Perempuan selalu dianggap sebagai kaum domestik yang tugasnya adalah mengurus rumah tangga dan keluarga. Nilai dan norma yang diciptakan adat dan kebudayaan tentang Perempuan sebagai “orang dalam”, seolah menjadi senjata paling ampuh untuk mengebiri hak Perempuan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam lingkungan dan ruang yang lebih luas.
Perempuan hanya diberikan ruang dan tanggung jawab dalam mengelola urusan rumah tangga. Bahkan, hak-hak dasar manusia yang seharusnya dimiliki baik oleh pria maupun perempuan, seperti pendidikan, dan hak berpendapat sering kali dikesampingkan.
Pada masanya, Raden Ajeng (RA) Kartini telah menciptakan sebuah usaha melawan arus kekangan adat, dengan menuangkan pemikiran-pemikiran cerdasnya soal bangsa dan negara dalam korespondensi dengan kawan-kawan Belanda-nya. Jika kita amati pemikiran yang berkembang pada masa 1870an, maka kita akan menyadari, bahwa pemikiran Kartini tentang modernitas, peran perempuan, tentangan tehadap feodalisme, dan perjuangan pembebasan bangsa, adalah pemikiran yang paling besar dan paling progresif pada masanya.
Bahkan menurut Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya ‘Panggil Saja Aku Kartini!”, jauh sebelum Bung Karno dan Bung Hatta dilahirkan, Kartini bahkan telah menuliskan pemikirannya mengenai nasionalisme, yang disebutnya dengan kata “kesetiakawanan”. Kartini menulis, "Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan rakyat seluruhnya tidak mungkin."
Usaha yang dilakukan Kartini pada masanya, menunjukkan bahwa secara fitrah, Perempuan memiliki kemampuan yang sama bahkan terkadang lebih daripada pria. Potensi ragawi, akal, dan hati yang dimiliki oleh perempuan seakan menjadi paket lengkap yang jika dikembangkan, akan melahirkan perempuan-perempuan hebat pencipta sejarah. Layaknya kutipan yang disampaikan Bung Karno di awal tulisan ini, maka sudah semestinyalah Perempuan dengan potensi lengkap yang dimilikinya, berpartisipasi dan terlibat dalam usaha-usaha menciptakan kesejahteraan bagi bangsa dan negara.
Di tengah era kebebasan dan demokrasi seperti sekarang ini, pemikiran pesimis tentang peran perempuan bagi negara rasanya sudah tidak lagi relevan. Akses terhadap ruang publik bagi perempuan telah dibuka seluas-luasnya. Hal ini pun telah dibuktikan oleh beberapa perempuan pencipta sejarah Indonesia yang telah berhasil mengangkat martabat perempuan Indonesia, dengan menempati posisi-posisi strategis dalam Pemerintahan. Salah satunya adalah bahwa Indonesia telah mencatatkan dirinya dalam sejarah dunia sebagai salah satu Negara demokrasi terbesar yang pernah dipimpin oeh seorang Presiden Perempuan, yaitu Megawati Soekarno Putri.
Perjalanan Ibu Mega sebagai Presiden pun bukanlah sebuah kebetulan atau momental semata. Sebelumnya Ibu Mega telah bertahun menjadi salah satu dari sedikit Perempuan Indonesia yang pernah duduk di Parlemen, bahkan pada era orde baru dimana akses bagi Perempuan masih sedikit dan tertutup. Selain Ibu Mega, sosok Perempuan lain yang telah mencatatkan sejarah bagi Indonesia, adalah Sri Mulyani Indrawati yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Direktur Bank Dunia.
Sebenarnya masih banyak sosok perempuan lain yang keberadaannya dalam ruang publik telah memberikan sumbangsih besar bagi bangsa dan negara ini, seperti Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo ataupun Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, dan kini amat membanggakan kala Puan Maharani (Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPP PDI Perjuangan), juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Perempuan Pertama dalam sejarah parlemen Indonesia. Masih banyak lainnya perempuan memimpin berbagai departemen, perusahaan, lembaga hingga kepala daerah.
Sejalan dengan demokrasi dan globalisasi yang akan dihadapi oleh Bangsa Indonesia kedepan, keberadaan perempuan dalam ruang-ruang publik akan semakin terbuka lebar. Kedepan, Indonesia akan dihiasi oleh sosok-sosok perempuan lainnya yang akan menghiasi sejarah Indonesia dengan prestasi dan sumbangsihnya membangun bangsa dan negara. Perjuangan perempuan dalam mengangkat martabat merekapun, akan menuai hasil dengan kontribusi perempuan yang semakin konkret dan beragam dalam menciptakan kesejahteraan bangsa.
Pekerjaan rumah bagi perempuan Indonesia saat ini, adalah bagaimana potensi ragawi, akal, dan hati yang sudah melekat pada diri mereka dapat berkembang dan memotivasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan membangun bangsa. Potensi ragawi berupa kesempurnaan jasmani dengan daya tahan fisik (endurance) atas berbagai pekerjaan yang ada, akan berkembang seiring dengan banyaknya tugas dan pekerjaan yang akan dihadapi wanita dalam perannya sebagai ibu, istri, wanita karir, bahkan tokoh masyarakat.
Potensi akal yang ditunjukkan oleh kecerdasan dalam berpikir dan keberanian dalam mengemukakan pendapat, akan semakin berkembang seiring dengan sikap kritis yang terus ditanam oleh perempuan pada berbagai fakta sosial yang dihadapi setiap harinya. Potensi hati yang ditunjukkan dengan kepekaan terhadap realitas sosial, sekaligus kekuatan mental pada setiap tantangan hidup yang dialami, akan semakin berkembang seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Sehingga dengan ketiga potensi yang terus menerus dikembangkan ini, pada tahun-tahun berikutnya akan lahir sosok-sosok pemimpin wanita Indonesia yang cerdas, berani, sekaligus peduli. Dan bukan mustahil pada tahun-tahun berkutnya Indonesia kembali memiliki seorang presiden wanita.
Poin penting yang harus digaris bawahi adalah bahwa kepemimpinan perempuan pada ranah publik nantinya, tidak hanya sekedar simbol yang diberikan kepada wanita sebagai bukti bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sudah tegak di Negara demokrasi ini. Lebih daripada itu semua, kepemimpinan yang harus dibawa oleh perempuan-perempuan Indonesia, adalah kepemimpinan yang mampu mengubah potensi human capital menjadi kekuatan perubahan yang dapat mendorong terciptanya pembangunan nasional yang menyeluruh. (Bersambung)
(Dewi Aryani adalah Anggota Komisi 7 DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Ketua PP ISNU, Kandidat Doktor Administrasi dan Kebijakan Publik Universitas Iindonesia (UI), DUTA UI untuk Reformasi Birokrasi Indonesia)