Minggu, 12/02/2012, 06:20:16
Warga Berebut Air Bekas Pencucian Kelambu Makam
TK-Takwo Heriyanto

Ratusan warga berebut air sisa mencuci kelambu makam yang dipercaya bisa mendatangkan berkah (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Ratusan warga Desa Klampok, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berebut air sisa pencucian kelambu penutup makam Mbah Rubi di komplek makam, Minggu 12 Februari 2012 sore.

Akibat desak-desakan tersebut, pagar pembatas makam nyaris jebol dan mengakibatkan pengunjung berjatuhan. Air bekas cucian yang telah didoakan tersebut, diyakini warga bisa mendatangkan berbagai berkah. Warga terlihat saling dorong karena takut tak kebagian.

Seperti dituturkan Darmiatun (40), warga Desa Klampok yang rela berdesak-desakan demi mendapatkan air keramat tersebut. “Saya ambil air bekas pencucian kelambu makam Mbah Rubi ini untuk penglaris dagangan," ujar Darmiatun.

Pantauan PanturaNews, pencucian kelambu makam Mbah Rubi dalam ritual memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW ini, diawali dengan tahlilan massal dan doa bersama, dipimpin oleh Juru Kunci Makam Mbah Rubi, Mbah Jaenudin (78).

Usai tahlilan massal dan doa bersama itu, sejumlah kelambu kemudian dibawa dan diarak keliling desa. Selanjutnya, mereka menuju tempat petilasan dan sumur buatan Mbah Rubi yang airnya diyakini warga membawa segala macam keberkahan, dan  mampu mendatangkan kebaikan dunia. Loksainya tidak jauh dari komplek makam, yakni sekitar 500 meter.

Mbah Jaenudin saat dikonfirmasi PanturaNews, menyebutkan ritual budaya religi dengan menggelar pencucian kain kelambu dan kain mori penutup makam Mbah Rubi, diperingati setiap satu tahun sekali bertepatan dengan Maulud Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, Mbah Rubi meninggal dunia pada tahun 1908. Saat akan dimakamkan, jenazah Mbah Rubi ini tidak selayaknya jenazah umum lainnya yang dibawa dengan menggunakan keranda. Namun, jenazah Mbah Rubi yang menurut juru kunci dikarunia tiga orang anak itu, dibawa secara bergiliran oleh ribuan warga yang  mengiringinya dengan kedua tangannya.

Diceritakan juru kunci, Mbah Rubi adalah ulama besar dan sangat di keramatkan serta merupakan penyebar Agama Islam pertama di Brebes. Semasa hidupnya, Mbah Rubi berpencaharian sebagai petani.

Ketika berbagai macam hasil tanamannya dipanen, Mbah Rubi tidak menjualnya. Namun hasil pertanian seperti palawija, jagung, padi dan sayur mayur lainnya selalu diberikan kepada warga desa setempat dan sekitarnya.

"Mbah Rubi itu dikenal sebagai sosok ulama besar yang suka membantu terhadap sesama manusia. Itulah salah satu kelebihan Mbah Rubi," terangnya. 

Ia menambahkan, di komplek makam Mbah Rubi ini juga merupakan komplek makam Bupati Brebes, Singosari Pranotoyudo beserta Istri, serta makam pejabat awal berdirinya Brebes.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita