Kawasan Pelabuhan Jongor Tegalsari, salah satu daratan yang rusak terkena dampak abrasi. (Foto: Riyanto Jayeng)
PanturaNews (Tegal) - Bencana abrasi yang melanda sebagian daratan pemukiman warga di Kota Tegal, Jawa Tengah, hendaknya menjadi perhatian khusus bagi semua kalangan. Kini fenomena alam yang cenderung bersifat merusak itu, kondisinya semakin parah.
Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi III DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS, Rofii Ali S.Si, Rabu 16 Pebruari 2011, menyarankan agar memperbanyak bangunan pemecah gelombang, atau membuat sabuk pantai dengan menanami pohon bakau untuk meminimalisir terjadinya abrasi.
Menurut Rofii, dengan upaya tersebut akan mengurangi abrasi. Sebab, bangunan pemecah gelombang serta diperkuat dengan adanya sabuk pantai, bisa mengurangi terjangan gelombang laut agar tidak langsung menghantam daratan. Selain itu, bisa juga dilakukan di daerah pesisir yang rawan dijadikan kampung terapung, seperti yang diterapkan di Balikpapan.
Terkait masalah tersebut, Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Pantai (FPMP) Kota Tegal, Ir Edi Waluyo sebelumnya mengemukakan, abrasi disebabkan fenomena alam dan pengaruh kondisi geografis pantai di Kota Tegal, yang menyerupai teluk. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah harus mendatangkan ahli laut, guna memetakan masalah dan mencari penanganan yang tepat. Dengan demikian, anggaran yang diinvestasikan untuk penyelamatan pantai akan efektif.
"Apabila tidak ditangani, kawasan permukiman di tepi pantai Kota Tegal akan hilang," ujar Edi Waluyo.
Seperti diberitakan PanturaNews, Minggu 13 Pebruari, abrasi atau pengikisan tanah akibat ombak maupun pasang yang terjadi di blok J kawasan penjemuran ikan asin Pelabuhan Jongor, tegalsari, Kecamatan Tegal Barat sudah semakin parah. Sejumlah warga mendesak, harus segera dilakukan penanganan serius, sebab tidak mustahil kompleks pengolahan filet dan ikan asin lokasi itu akan hilang tergerus. Pasalnya, abrasi kini sudah merusak bahu jalan sekira 50 meter.
Salah seorang warga Tegalsari, Saonah (44) mengatakan, jika hal itu dibiarkan, beberapa tahun ke depan kawasan hunian masyarakat dan tempat usaha pengolahan filet dan ikan asin akan tenggelam. "Abrasi mulai merusak tanggul dan badan jalan sekitar bulan Desember tahun 2010, saat berlangsung musim angin baratan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Ir Gito Musriyono mengatakan, dalam upaya perbaikan jalan di kompleks pengolahan filet dan ikan asin yang rusak akibat abrasi, pihaknya masih menunggu langkah dari pihak pelabuhan untuk perbaikan tanggul. Sebab, abrasi tersebut terjadi wilayah kolam pelabuhan.
"Dalam persoalan ini kami hanya berwenang untuk memperbaiki jalan, sedangkan perbaikan tanggul menjadi wewenang dari pelabuhan," tandasnya.